Suasana aktivitas belajar mengajar di Saung Baca Garpu, Jakarta. Foto: ANT/Yogi Rachman
Suasana aktivitas belajar mengajar di Saung Baca Garpu, Jakarta. Foto: ANT/Yogi Rachman

Kisah Nurida 'Saung Baca Garpu', Mendidik Anak-anak di Permukiman Pemulung

Antara • 08 Agustus 2022 12:50
Jakarta:  Dari dalam ruangan sempit bangunan semi permanen, Nurida Rahmanilah, 29 tahun tampak fokus memberikan materi pelajaran kepada sekelompok anak.  Materi yang diajarkannya saat itu tentang menulis dan berhitung.
 
Wajah antusias dari anak-anak usia prasekolah seketika menghiasi ruangan berdinding triplek berukuran sekitar 4 x 6 meter itu saat proses belajar mengajar terjadi.  Anak-anak tersebut berasal dari keluarga kurang mampu.
 
Kebanyakan orang tuanya berprofesi sebagai pengumpul sampah hingga petugas kebersihan yang tinggal di permukiman pemulung di TPU Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur.  Ketika akses pendidikan dasar seperti barang mewah, Saung Baca Garpu hadir bagai pemberi harapan bagi mereka yang termarjinalkan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Saung Baca Gerakan Remaja Perduli (Garpu) didirikan pada 2016 oleh Nurida Rahmanilah dan beberapa rekan-rekannya.  Berawal dari keinginan Nurida agar akses pendidikan dapat dirasakan oleh semua kalangan masyarakat, terutama bagi mereka yang kurang mampu.
 
Keinginan tersebut semakin kuat ketika Nurida juga pernah merasakan sulitnya mendapatkan pendidikan karena keterbatasan ekonomi orang tua.

Keluarga Pemulung

Nurida mengatakan, dirinya berasal dari keluarga pemulung. Bahkan dia mengaku juga pernah menjadi pemulung demi dapat membantu perekonomian keluarganya.
 
"Memang background saya anak pemulung. Ibu saya itu dulunya mulung di daerah Rawamangun," kata Nurida menjelaskan latar belakangnya.
 
Nurida mengatakan, keluarganya juga pernah menjadi transmigran di Kalimantan. Sebelum akhirnya memutuskan pindah ke Jakarta pada 2004.
 
Sesampainya di Ibu kota, kondisi perekonomian keluarga Nurida juga tak banyak berubah. Bahkan ia sempat merasakan putus sekolah selama satu tahun karena terkendala biaya.
 
Singkat cerita ia kemudian mendaftar di Sekolah Kami. Sebuah sekolah informal yang dikelola secara swadaya untuk menampung kegiatan belajar anak-anak pemulung dan kaum dhuafa.
 
Nurida terkejut karena baru mengetahui ada sekolah gratis bagi masyarakat kurang mampu seperti dirinya.  Sesudah lulus dari Sekolah Kami, Nurida sempat mengadu nasib dengan menjadi pekerja migran di Singapura.
 
Tak hanya itu, dia juga sempat bekerja sebagai karyawan swasta hingga buruh pabrik.  "Kenapa saya jadi pekerja migran karena awalnya mau sekolah. Saya ditawarkan bisa ikut kuliah terbuka di Singapura," ujar Nurida.

Perpustakaan keliling

Sepulangnya dari menimba ilmu di negeri orang, Nurida bersama rekan-rekannya kemudian berinisiatif membuat perpustakaan keliling.  Hatinya kemudian tergerak ketika ia dan rekan-rekannya masih menemukan beberapa anak yang belum dapat membaca di usia sekolah dasar.
 
Dari hal itu, Nurida kemudian berinisiatif mengajak rekan-rekannya untuk mengembangkan perpustakaan keliling tersebut menjadi sarana edukasi layaknya bimbingan belajar (bimbel) yang menetap di satu tempat.
 
"Kami melakukan survei selama dua hari di beberapa tempat. Termasuk salah satunya di tempat ini (TPU Pondok Kelapa)," kata Nurida.
 
Dia bersama rekan-rekannya itu bertanya kepada orang tua di permukiman pemulung TPU Pondok Kelapa mengenai kebutuhan terkait pendidikan.  Kebanyakan dari para orang tua tersebut menginginkan agar anaknya terutama pada usia dini mendapatkan akses pendidikan karena merasa kesulitan apabila menyekolahkan ke taman kanak-kanak.
 
Dari sanalah kemudian berdiri Saung Baca Garpu di permukiman pemulung TPU Pondok Kelapa, Duren Sawit.  Hingga kini sudah puluhan anak-anak dari keluarga tak mampu mengenyam pendidikan dasar di Saung Baca Garpu.
 
Tak hanya anak usia dini, Saung Baca Garpu juga memiliki peserta didik yang telah duduk di bangku SMP dan SMA.
 
Nurida mengatakan, dalam menjalankan operasional Saung Baca Garpu mengandalkan uluran tangan dari para donatur, termasuk penyediaan materi pembelajaran seperti buku-buku dan alat peraga lainnya.  "Kalau buku-buku Alhamdulillah satu tahun berjalan ini ada beberapa mahasiswa, abdi masyarakat, segala macam mereka datang," tutur Nurida.
 
Nurida bersama para relawan melakukan pembelajaran di Saung Baca Garpu setiap hari, mulai 14.00 WIB - 16.00 WIB.  Materi yang diajarkan tak hanya sebatas pendidikan dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung, namun juga kegiatan kesenian seperti menari.
 
"Kita juga pernah beberapa kali diundang tampil menari di beberapa acara. Ini sekaligus nunjukin ke orang tuanya kalau anak-anak mereka juga bisa," kata Nurida.
 
Salah satu orang tua, Ikah, 40 tahun mengatakan, dirinya sangat bersyukur dengan kehadiran Saung Baca Garpu yang menjadi wadah bagi anaknya untuk belajar.
 
Ikah mengatakan, dirinya tidak mampu secara ekonomi apabila harus mendaftarkan anaknya mengikuti kegiatan les berbayar di luar sekolah.  Namun dengan adanya Saung Baca Garpu yang tak memungut bayaran membuat dirinya sangat senang karena anaknya yang masih berumur lima tahun sudah mulai bisa membaca dan menulis.
 
Ikah pun berharap ke depannya Saung Baca Garpu dapat terus membantu masyarakat dalam mendapatkan akses pendidikan. "Alhamdulillah senang, dan berharap tempat ini bisa terus berkarya dan membantu anak-anak yang belum bisa membaca dan menulis," ujar Ikah.
 
Kisah Nurida Rahmanilah dengan Saung Baca Garpu hanya sebagian potret dari belum meratanya akses pendidikan masyarakat kurang mampu. Kenyataan bahwa masih banyak ditemukan anak-anak bahkan di kota besar seperti Jakarta yang belum mendapat pendidikan layak menjadi permasalahan yang harus diselesaikan bersama.
 
Harapannya tentu saja di momen menjelang Hari Ulang Tahun ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia semakin banyak generasi penerus bangsa yang merdeka dalam mewujudkan mimpinya melalui akses pendidikan terjangkau.
 
(CEU)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif