Sarwono Kusumaatmadja saat Peluncuran dan Diskusi bukunya, Memoar Sarwono Kusumaatmadja, Medcom.id/Intan Yunelia.
Sarwono Kusumaatmadja saat Peluncuran dan Diskusi bukunya, Memoar Sarwono Kusumaatmadja, Medcom.id/Intan Yunelia.

Sarwono Kusumaatmadja, Memutuskan Tetap di Koridor Tengah

Pendidikan peluncuran buku
Intan Yunelia • 28 September 2018 06:09
Jakarta: Nama Sarwono Kusumaatmadja tentu tak asing lagi. Sosok yang sarat pengalaman, malang melintang dari era orde lama hingga masa orde baru.
 
Lewat buku memoar pribadinya yang berjudul "Menapak Koridor Tengah", Sarwono menceritakan perjalanannya, dari seorang aktivis di era Soekarno, hingga menjadi menteri di era Soeharto.
 
Buku ini menceritakan kisah hidup Sarwono, sepanjang 1948 hingga 1988. Ia telah merasakan detik-detik transisi kekuasaan dari zaman orde lama menuju orde baru.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Buku ini merupakan edisi pertama yang dipublikasikan kepada khalayak. Setelah dua edisi cetakan sebelumnya, hanya diterbitkan bagi kerabat dan teman terdekat saja.
 
"Saya mulai memiliki kesadaran tentang sekitar dan diakhiri dengan kisah, ketika saya mengakhiri jabatan sebagai Sekjen DPP Golkar, bersamaan dengan awal saya menjabat sebagai Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara," kata Sarwono dalam Peluncuran dan Diskusi Buku "Menapak Koridor Tengah", di Gedung Manggala Wanabakti, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta, Kamis malam, 27 September 2018.
 
Pada bab 1 Sarwono menjelaskan kisah masa kecilnya, dimulai ketika ia duduk di bangku SD. Sarwono kecil sudah mulai diasupi pengetahuan tentang politik oleh orangtuanya di rumah, hingga kesempatan Sarwono bersekolah di luar negeri.
 
Dilanjutkan dengan Bab 2, yang menceritakan masa muda Sarwono. Pada bagian ini Sarwono sudah menjadi mahasiswa di Institut Teknologi Bandung (ITB).
 
Ia menyaksikan bagaimana ketegangan politik, dan kemerosotan ekonomi yang kemudian memuncak, hingga pada berakhirnya era Demokrasi Terpimpin dan masa awal orde baru.
 
"Saya dan kawan-kawan aktivis di Bandung direkrut oleh militer, untuk dijadikan anggota legislatif dari Golongan Karya (Golkar)," ucap Sarwono yang lulusan Teknik Sipil ITB ini.
 
Apa yang Sarwono alami ketika menjadi anggota DPR, dituliskan pada Bab ke-3. Hal-hal tentang kiat-kiat mengembangkan peran DPR RI melalui Fraksi Golkar.
 
Sedangkan Bab 4 tak kalah menarik, yaitu ketika Sarwono menjabat sebagai Sekjen Golkar pada masa Sudharmono menjadi Ketua Umum Golkar. Dalam bab ini juga, ada cerita seputar ajakan dari Cendana, agar Sarwono menjadi bagian dari mereka, namun ia menolak.
 
"Dalam pemerintahan di manapun, Presiden ataupun Perdana Menteri (PM) itu mempunyai inner circle. Wajar saja kalau Pak Harto punya kelompok itu. Tetapi saya sempat mempelajari, dan itu tidak cocok dengan pembawaan saya," tuturnya.
 
Kedekatan Sarwono dengan Soeharto pun diceritakan dalam satu bagian di buku ini. Saat menjabat sebagai Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan), Sarwono banyak berkomunikasi secara personal dengan Presiden Soeharto.
 
Sebagai menteri yang baru menjabat, ia berpikir, wajar baginya untuk menerima arahan dari Presiden Kedua RI ini. Setiap permohonan pertemuan dari Sarwono selalu dipenuhi Soeharto.
 
"Namun pertemuan selalu pada malam hari, pukul 20.30 WIB di kediaman beliau di Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat," kata Mantan Anggota DPD DKI Jakarta tahun 2004-2009 ini.
 
Baca:Gita Savitri, Pilih ke Jerman yang Memanjakan Mahasiswa
 
Pak Harto pun (panggilan akrab Presiden Soeharto), terangnya, banyak menceritakan pengalaman masa lalu serta perjumpaannya dengan tokoh-tokoh pada masa itu. Pada awalnya ia tertarik, namun lama kelamaan ia merasakan kejanggalan.
 
"Selama tiga bulan dengan frekuensi pertemuan sekali seminggu, tidak sedikitpun ada arahan tentang pekerjaan saya sebagai menteri," terang mantan menteri kelautan dan perikanan ini.
 
Ia pun menceritakan, pengalaman tersebut kepada orang terdekat. Pertama kali ia bertanya kepada Wakil Presiden, Soedharmono, dan juga Jenderal TNI Leonardus Benyamin Moerdani.
 
Kedua orang terdekatnya tersebut mengatakan, bahwa pilihan untuk menjadi orang dalam cendala ada pada pilihan dirinya sendiri.
 
"Setelah saya renungkan baik-baik, saya memutuskan tetap berada di koridor tengah. Bagaimanapun berada dalam posisi ini saya akan dapat selalu menjaga jarak dengan kalangan elite puncak politik," tutupnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif