Yenita menyandang 13 gelar akademik sekaligus, mulai dari satu gelar sarjana, 10 gelar master, dan dua doktor. Kini namanya menjadi Dr. Dr. Yenita, S.E, M.M, M.B.A, M.Si, M.T, M.H, M.Pd, M.Ak, M.E, M.I.Kom, M.M.S.I.
"Total, ada 13 gelar, artinya 13 kali pula saya kuliah," kata Yenita saat ditemui di sela-sela Dies Natalis Untar ke-60, di Jakarta, Kamis, 3 Oktober 2019.
Kampus tempatnya menuntaskan kuliah pun bukan sembarang kampus. Yenita lulus dari sejumlah kampus swasta bonafide di Jakarta hingga Australia. Sebut saja Universitas Tarumanagara, Universitas Pelita Harapan (UPH), Universitas Trisakti, Universitas Mercu Buana, Universitas Bina Nusantara (Binus), hingga University of Western di Australia.
Secara total, gelar itu diambil Yunita selama 21 tahun, terhitung sejak ia menyelesaikan S1-nya di Manajemen Untar pada 1998. Yenita juga terbilang mahasiswa berprestasi, sepanjang masa kuliahnya tercatat empat kali mengantongi Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4.00, delapan kali Cum laude, dan enam kali menjadi lulusan terbaik.
Sederet gelar itu yang kemudian membuat Yenita mencatatkan rekor dari Museum Rekor dunia Indonesia (MURI), yang diserahkan langsung oleh Wakil Direktur Muri Osmar Semesta Susilo di sela-sela peringatan Dies Natalis Untar ke-60.

Dosen Untar Yenita, saat menerima rekor Muri. Foto: Medcom.id/Citra Larasati
Perjuangan untuk mendapat 13 gelar akademik itu pun diakui Yenita tak mudah. Jika mengingat kembali beratnya menyelesaikan 13 gelar, ia pun mengaku ogah, jika di usianya yang menjelang 40 tahun ini harus kembali mengulang masa-masa kuliahnya tersebut.
"Saya ogah kalau disuruh balik kuliah seperti itu lagi, nanti saya ga married-married. Saya pernah pacaran, tapi akhirnya tidak dapat di-maintenance dengan baik," ujar Yenita melempar canda.
Ia pun bercerita jika 21 tahun masa kuliah, seringkali memaksa Yenita mengorbankan banyak kesenangan pribadinya, salah satunya travelling. Bagaimana tidak, kesibukannya kuliah seringkali memaksa Yenita harus menyelesaikan 20 tugas kuliah dalam sepekan.
"Itulah kenapa saya menjadi jarang ikut hangout bersama teman-teman. Karena daripada waktu habis untuk hangout, lebih baik saya mencicil mengerjakan tugas paper atau makalah," kenangnya.
Selama 21 tahun masa kuliah itu, kata Yunita, ada kalanya setahun ia memilih off untuk mengatur napas. Baru kemudian di tahun berikutnya ia memulai kuliah lagi.
Kuliah pun sering diambil secara pararel sekaligus. "Lebih seringnya sekali kuliah ambil dua jurusan di dua kampus yang berbeda secara bersamaan," ujarnya.
Pilihan kuliah pararel itu juga berdampak pada sulitnya ia mengatur waktu. Terlebih lagi jika harus menaklukkan macetnya Jakarta saat harus berpindah jam kuliah dari satu kampus ke kampus lainnya, membuat Yenita sering kerepotan.
"Perjuangannya memang melawan macet, kita bisa habis waktu berjam-jam di jalan," ungkapnya.
Meski begitu, Yenita mengaku selalu enjoy dalam menjalani padatnya waktu kuliah selama separuh lebih usianya tersebut. Terlebih lagi pihak Untar dan orang tua juga memberikan dukungan yang luar biasa besar kepada Yenita untuk kuliah lagi, lagi dan lagi.
"Saya berterima kasih sekali kepada Untar tempat saya mengajar, karena telah memberi saya izin dan banyak kemudahan untuk kuliah lagi. Juga orang tua saya, untuk dukungan moril maupun materil, mereka sering bertanya kuliah kok enggak kelar-kelar," terang sambil tertawa.
Bagi Yenita, sebagai pendidik, sangat penting untuk selalu meningkatkan kualitas keilmuan yang dimilikinya. Sebab menurutnya, setiap jurusan yang ia ambil, ternyata masih memiliki benang merah dan singgungan ilmu yang menarik untuk dipelajari bahkan ditularkan kepada mahasiswanya.
"Mulai dari ekonomi, hukum, psikologi, teknik ada benang merahnya. Tapi saya pilih fokus ke ekonomi dan hukum bisnis, itu kenapa kedua jurusan itu saya lanjutkan sampai doktor," ungkapnya.
Yenita juga ingin mematahkan anggapan, bahwa perempuan tidak membutuhkan sekolah tinggi. Menurutnya, meski tidak bekerja di sebuah institusi, seorang wanita berhak akan pendidikan yang tinggi.
Sebab dari kelak, perempuan akan berperan menjadi guru juga dosen pertama bagi anak-anaknya. "Masyarakat perlu diedukasi, perempuan perlu berpendidikan, karena dari wanitalah akan lahir generasi penerus bangsa.
Penantian panjangnya di dunia akademik ini pun, kata Yenita, tidak berhenti sampai di sini saja. Ia masih memiliki cita-cita terpendam untuk menjadi guru besar dan bertemu dengan idolanya, Presiden Joko Widodo (Jokowi).
"Saya mau jadi profesor, juga mau ketemu Pak Jokowi. Mau menyampaikan harapan-harapan saya untuk perkembangan dunia pendidikan tinggi di Indonesia," tutup Yenita.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News