Bupati Trenggalek Emil Dardak didampingi Ibu Arumi dan dua anaknya saat berbincang dengan Medcom.id di Trenggalek, sumber foto Medcom.id
Bupati Trenggalek Emil Dardak didampingi Ibu Arumi dan dua anaknya saat berbincang dengan Medcom.id di Trenggalek, sumber foto Medcom.id

Bagi Emil Dardak, Masa Kuliah adalah Momen Paling Menyenangkan

Laela Badriyah • 20 Desember 2017 16:42
Jakarta: Masa kuliah adalah momen yang menyenangkan bagi Emil Elestianto Dardak. Di masa itu, Emil berkesempatan membuktikan dirinya sukses dan tangguh di usia muda.
 
Emil kini menjabat sebagai Bupati Trenggalek, Jawa Timur. Usianya terbilang muda saat duduk di kursi kepala daerah yaitu 32 tahun.
 
Ia meraih gelar diploma di Melbourne Institute of Business and Technology. Ia lalu melanjutkan pendidikan di Universitas Wales Inggris. Kemudian, ia meraih gelar master dan doktor di Ritsumeikan Asia Pacific University Jepang. Ekonomi menjadi fokus pendidikan yang dipilih suami Arumi Bachsin itu.

"Masa-masa kuliah adalah paling enak. Momen bisa melakukan apa saja, tapi sudah harus belajar bertanggung jawab," demikian kesan yang disampaikan Emil saat Medcom.id bertamu ke rumah dinasnya, Pendopo Trenggalek, beberapa waktu lalu.
 
Sedari SMA, Emil mengaku 'iri' dengan sepupu-sepupunya yang sudah duduk di bangku kuliah. Mereka, kata Emil, tak lagi mengenakan seragam. Tidak lagi dikejar-kejar wali kelas. Mereka punya kebebasan. 
 
Di Amerika Serikat, lanjut pria kelahiran 20 Mei 1984 itu, mahasiswa identik dengan keluar dari rumah. Kebebasan berada di tangan mereka.
 
"Tapi di lain sisi, kita harus bertanggung jawab dengan apa yang menjadi pilihan kita. Karena itu akan berpengaruh pada masa depan kita," lanjut ayah dari Lakeisha Ariestia Dardak dan Alqeinan Mahsyirputro Dardak itu.
 
Sebagai pemuda, saat itu, yang tinggal jauh dari orang tua, Emil mengaku kerap merasakan rindu pada kampung halaman. Maklum, ia sudah merantau sejak masih SMA. Setelah bersekolah satu caturwulan (empat bulan) di SMAN 81 Jakarta, Emil mendapatkan beasiswa menempuh pendidikan di Raffles Instutite di Singapura.
 
Emil tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia justru memanfaatkan kesempatan itu untuk membuat dirinya lebih tangguh.
 
Memang, kata Emil, ia merasakan rindu pada kampung halaman. Tapi bukan Emil namanya bila tak bisa mengatasi rasa tersebut. Justru ia menikmati masa-masa di rantau.
 
"Memang berat. Tapi nikmati saja. Manfaatkan momen-momen itu (merantau). Seru kok," ungkap Emil.
 
Berat memang bergulat dengan rasa rindu pada orang-prang terdekat. Saat itu, sistem komunikasi tidak selancar masa kini. Ia harus menghemat uang saku untuk membeli kartu dan menelepon orang tuanya di Tanah Air.
 
"Tapi saat ini, semua gampang. Sudah ada aplikasi video call, kan. Jadi jangan sampai homesick itu mengganggu masa-masa kuliah," pesan Emil pada mahasiswa yang baru berkuliah di luar negeri.
 
Masa perantauan Emil berlanjut ke Inggris. Sebagai mahasiswa baru, ia menikmati masa-masa awal kuliah. Salah satu caranya yaitu menggunakan ruang untuk mengembangkan pemikiran kritisnya.
 
Layaknya mahasiswa lain, Emil pun memanfaatkan momen di kampung orang dengan berlibur. Tapi, ujar Emil, ia membatasi diri. Ia berlibur hanya di akhir pekan.
 
"Berlibur dua hari di weekend sudah cukup. Tak perlu berlama-lama liburannya," ungkap pria yang kini meramaikan berdampingan dengan Khofifah Indar Parawansa di bursa Pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Timur 2018.
 
Berkuliah di luar negeri rasanya berbeda dibanding di dalam negeri. Emil menjadi pendatang. Begitu pula dengan mahasiswa asal Indonesia yang berkuliah di luar negeri.
 
Tapi, ujar Emil, itu menjadi momen untuk mengasah kemandirian. Biasanya, lanjut Emil, mentalitas pendatang justru lebih tangguh.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RRN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan