Rania mengaku, jika raihan TKA tidak didapatkan dengan cara instan. Ia menyebut hasil yang didapatkannya lahir dari rutinitas belajar yang disiplin sejak pagi.
Ia mengatakan jika di sekolahnya terdapat program "sarapan soal". Program sarapan soal menjadi bagian dari persiapan TKA bagi siswi kelas 6 di SD Muhammadiyah Suronatan.
"Setiap pagi ada sarapan soal. Khusus kelas 6 maksimal pukul 06.10 sudah harus di sekolah karena harus salat dhuha dan sarapan soal," kata Rania kepada Medcom.id, Kamis 10 Juni 2026.
Orang tua Rania, Desi Eka Sepviyanti, mengatakan penguatan materi yang dilakukan sekolah menjadi salah satu faktor penting di balik capaian putrinya. Menurut dia, sekolah memiliki tim khusus yang mendampingi siswa menghadapi TKA.
| Baca juga: Sekolah Sudah Bisa Cek Detail Hasil TKA SD-SMP 2026, Ini Link dan Data yang Bisa Diakses |
"Penguatan materi TKA oleh guru-guru di sekolah sangat membantu sekali. Bahkan di SD Muhammadiyah Suronatan ada tim sukses TKA," kata Desi.
Selain itu, sekolah juga memberikan tambahan pelajaran menjelang pelaksanaan TKA. Dengan dukungan tersebut, Rania hanya perlu mengulang kembali materi dan berlatih mengerjakan soal saat berada di rumah.
Desi mengaku tidak menerapkan pola belajar yang ketat kepada putrinya. Pasalnya, Rania sudah menghabiskan banyak waktu untuk belajar di sekolah dan mengikuti les hingga sore hari.
"Tidak ada sistem belajar yang saya terapkan di rumah. Anak sudah full belajar di sekolah dan les sehingga pulang ke rumah menjelang magrib. Jadi saya serahkan ke anak, kalau masih mau belajar silakan, kalau mau istirahat juga boleh," tutur Desi.
Menurutnya, selama duduk di kelas 6, Rania justru menunjukkan tanggung jawab yang lebih besar terhadap proses belajarnya. Hal itu didorong oleh target pribadi yang ingin dicapai.
"Alhamdulillah selama kelas 6 ini Rania lebih bertanggung jawab belajar karena ada target dari Rania sendiri yang menginginkan bersekolah di salah satu SMP negeri favorit di Jogja," ungkapnya.
Di sekolah, Rania dikenal sebagai anak yang pendiam dan cenderung pemalu. Meski demikian, ia tetap mudah bergaul dengan teman-temannya.
"Menurut guru-guru, Rania anak pendiam dan cenderung pemalu, tetapi masih gampang berteman dengan siapa saja," kata Desi.
Prestasi Rania tidak hanya terlihat dari hasil TKA. Ia juga pernah meraih juara 2 kompetisi sains tingkat kota serta juara 2 dan juara 3 pada kompetisi matematika tingkat kota.
Selain itu, Rania termasuk dalam kelompok bibit unggul sekolah. Ia menjadi salah satu siswa yang masuk 10 persen terbaik di angkatannya berdasarkan nilai rapor sehingga memperoleh kesempatan lebih awal untuk mendaftar ke sekolah tujuan melalui jalur bibit unggul.
Atas capaian nilai sempurna yang diraih putrinya, Desi mengaku sulit menggambarkan perasaannya. "Sebenarnya tidak bisa diungkapkan seperti apa. Senang, terharu, kaget juga," ujar dia.
Saat ini Rania tengah mengikuti proses penerimaan murid baru melalui jalur bibit unggul di SMP Negeri 5 Yogyakarta. Saat ini Rania dan ibunya masih menunggu hasil penerimaan murid baru.
"Tapi mudah-mudahan diterima karena posisi Rania cukup aman berdasarkan hasil yang telah terlihat pada laman pendaftaran," jelasnya.
Ke depan, Rania memiliki cita-cita menjadi psikiater karena ketertarikannya terhadap ilmu psikologi. Di sisi lain, ia juga menyimpan impian untuk menjadi seorang dokter.
| Baca juga: Sentil Hasil TKA 2026, Lestari Moerdijat: Jangan Sampai Biaya Besar, Tindak Lanjut Minim! |
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News