Keputusan ini ditetapkan melalui mekanisme resmi Senat Akademik UMI, dengan mempertimbangkan aspek akademik, kondisi sosial-ekonomi mahasiswa, serta dinamika masyarakat nasional. Rektor UMI, Hambali Thalib menegaskan, kebijakan ini bukan bentuk pelonggaran standar, melainkan bentuk keberanian akademik dalam membaca realitas.
“Kami tidak menurunkan mutu. Kami menjaga ilmu tetap optimal dan orang tua tetap tenang. Pendidikan tidak boleh menjadi beban ganda bagi keluarga," kata Hambali, dalam siaran persnya dikutip Kamis, 19 Februari 2026.
Keputusan Akademik yang Tegas dan Terukur
UMI memahami, mayoritas mahasiswa berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Jika perkuliahan tetap dilaksanakan luring sejak 2 Maret 2026, maka mahasiswa harus:Datang ke Makassar, kuliah sekitar dua minggu, Pulang Lebaran, dan kembali lagi. Konsekuensinya tiket perjalanan dua kali, biaya kos tambahan dan beban finansial keluarga meningkat
Di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil dan fluktuasi biaya transportasi, UMI memilih menghadirkan solusi yang kontekstual dan manusiawi. Namun secara akademik, seluruh standar tetap dijaga substansi pembelajaran berjalan sesuai RPS, SKS dan CPL tetap terpenuhi berbasis Outcome Based Education (OBE), praktikum, klinik, studio, dan kegiatan lapangan tetap dilaksanakan luring setelah Ramadan
Keputusan ini adalah re-sequencing metode pembelajaran, bukan pengurangan kualitas.
Kampus Unggul yang Berani Berempati
Sebagai Perguruan Tinggi Terakreditasi Unggul pertama di luar Jawa, PTS dengan Guru Besar terbanyak di Indonesia, Pelopor dan penyelenggara pertama Program Profesi Insinyur (PPI) yang meraih Rekor MURI, PTS tertua dan terbaik di Indonesia Timur serta Satu-satunya PTS di Indonesia Timur yang masuk 100 Besar Webometrics Indonesia 2026UMI menegaskan bahwa keunggulan akademik harus berjalan berdampingan dengan empati sosial.
Rektor UMI kembali menekankan bahwa Standar akademik kami kokoh. Tetapi kepekaan sosial adalah etika institusi. Transformasi digital tidak boleh menghilangkan nurani.”
Bagi UMI, pendidikan bukan hanya tentang target kurikulum, tetapi tentang menjaga harmoni keluarga, terutama di bulan suci yang menjadi madrasah takwa dan pembinaan karakter.
Kebijakan ini meneguhkan identitas UMI sebagai Kampus Ilmu dan Ibadah, Kampus Perjuangan dan Pengabdia, Kampus Bereputasi dan Berdampak, Kampus Adaptif di Tengah Ketidakpastian
Di UMI, mutu tetap terjaga.
Empati tetap hidup.
Ramadan tetap bermakna.
Dan keluarga tetap tenang.
| Baca juga: Anak Belajar dari Rumah Selama Ramadan, Ini 4 Hal yang Mesti Dilakukan Orang Tua |
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News