medcom.id, Jakarta: Kebanyakan orang yang membeli sepeda motor, lebih suka dengan kondisi standar dengan alasan gampang jual kembalinya. Namun tidak sedikit juga yang berpikir untuk melakukan bore-up mesin. Tujuannya selain tenaga bisa lebih baik, juga karena alasan efisiensi penggunaan bahan bakar.
Lah, apa tidak terbalik? "Enggak dong! kan logikanya semakin besar tenaga yang keluar dari mesin motor, berarti cukup buka tuas gas sedikit saja, maka anda bisa menempuh jarak yang sama. Artinya konsumsi bahan bakar akan lebih sedikit ketimbang versi standarnya," ujar Abbot, tukang oprek motor di bilangan Jakarta Barat.
Hal ini pun menjadi sebuah hal yang diaplikasikan Abbot pada semua unit motor yang ia miliki. "Terutama untuk motor tipe matik, karena motor ini cenderung lebih boros ketimbang motor bebek. Jadi lebih baik dilakukan modifikasi pada mesin dengan cara bore-up. Faktanya memang jadi lebih irit karena bbm yang digunakan jadi efisien," lanjutnya.
Tapi tentu bore-up ini batasnya ada juga. Menurut Abbot, kalau bore-up yang dilakukan masih standar saja, misalnya dari 110 cc menjadi 125 cc - 150 cc, masih bisa mengirit bbm. Kalau level bore-up-nya sudah ekstrim seperti motor 110 cc jadi 200 cc atau sampai 300 cc, ya tetap saja akan boros bahan bakar.
Patut diingat, semakin besar aplikasi bore-up yang dilakukan, maka akan semakin mahal pula biaya yang dibutuhkan untuk membeli komponen bore-up pada motor. Pengerjaan mesin takkan sebatas pada penggantian piston saja, namun juga penggantian klep isap dan buang, kepala silinder, sistem kelistrikan untuk pasokan bbm dan lain sebagainya.
Jadi intinya, melakukan bore-up untuk alasan efisiensi, jangan sampai berlebihan.
medcom.id, Jakarta: Kebanyakan orang yang membeli sepeda motor, lebih suka dengan kondisi standar dengan alasan gampang jual kembalinya. Namun tidak sedikit juga yang berpikir untuk melakukan
bore-up mesin. Tujuannya selain tenaga bisa lebih baik, juga karena alasan efisiensi penggunaan bahan bakar.
Lah, apa tidak terbalik? "
Enggak dong! kan logikanya semakin besar tenaga yang keluar dari mesin motor, berarti cukup buka tuas gas sedikit saja, maka anda bisa menempuh jarak yang sama. Artinya konsumsi bahan bakar akan lebih sedikit ketimbang versi standarnya," ujar Abbot, tukang oprek motor di bilangan Jakarta Barat.
Hal ini pun menjadi sebuah hal yang diaplikasikan Abbot pada semua unit motor yang ia miliki. "Terutama untuk motor tipe matik, karena motor ini cenderung lebih boros ketimbang motor bebek. Jadi lebih baik dilakukan modifikasi pada mesin dengan cara
bore-up. Faktanya memang jadi lebih irit karena bbm yang digunakan jadi efisien," lanjutnya.
Tapi tentu
bore-up ini batasnya ada juga. Menurut Abbot, kalau
bore-up yang dilakukan masih standar saja, misalnya dari 110 cc menjadi 125 cc - 150 cc, masih bisa mengirit bbm. Kalau level
bore-up-nya sudah ekstrim seperti motor 110 cc jadi 200 cc atau sampai 300 cc, ya tetap saja akan boros bahan bakar.
Patut diingat, semakin besar aplikasi bore-up yang dilakukan, maka akan semakin mahal pula biaya yang dibutuhkan untuk membeli komponen
bore-up pada motor. Pengerjaan mesin takkan sebatas pada penggantian piston saja, namun juga penggantian klep isap dan buang, kepala silinder, sistem kelistrikan untuk pasokan bbm dan lain sebagainya.
Jadi intinya, melakukan
bore-up untuk alasan efisiensi, jangan sampai berlebihan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)