Biosolar. Pertamina
Biosolar. Pertamina

Turunkan Oktan BBM Bukan Solusi Hemat, Perhatikan Rasio Kompresi Mesin

Ekawan Raharja • 21 April 2026 10:43
Ringkasnya gini..
  • Menurunkan kualitas BBM bukan solusi hemat, terutama untuk kendaraan modern berkompresi tinggi.
  • Penggunaan oktan tidak sesuai bisa menurunkan performa dan meningkatkan konsumsi BBM.
  • Pengendara disarankan tetap mengikuti spesifikasi pabrikan untuk menjaga mesin tetap optimal.
DKI Jakarta: Di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, upaya menghemat dengan menurunkan kualitas bahan bakar dinilai bukan solusi ideal untuk kendaraan modern.
 
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, menegaskan pentingnya memahami rasio kompresi mesin sebelum memutuskan mengganti jenis BBM, terutama dari oktan tinggi ke lebih rendah.
 
"Pertamax Turbo dengan RON 98 dirancang khusus untuk mesin berkompresi tinggi, yakni sekitar 12,1:1 hingga 14,0:1, termasuk mesin turbo," jelas Yannes ketika dihubungi ANTARA.

Menurutnya, BBM beroktan tinggi memungkinkan proses pembakaran lebih sempurna, efisiensi meningkat, dan tenaga mesin optimal. Sementara itu, Pertamax dengan RON 92 lebih sesuai untuk mesin dengan rasio kompresi 10:1 hingga 11:1. Ketidaksesuaian antara spesifikasi mesin dan jenis BBM dapat berdampak langsung pada performa kendaraan.

Baca Juga:
Berubah Signifikan, Begini Wujud Baru Toyota Yaris Cross


“Jika mesin mobil yang memiliki rasio kompresi tinggi tersebut diberikan Pertamax RON 92 yang cocok untuk mesin dengan rasio kompresi 10:1 hingga 11:1, maka bisa menyebabkan penurunan performa 5-10 persen, konsumsi BBM naik 3-7 persen, serta risiko knocking ringan dan saat akselerasi terasa berat,” imbuhnya.
 
Yannes menjelaskan sebagian kendaraan modern memang telah dilengkapi teknologi knock sensor yang dapat menyesuaikan waktu pengapian untuk mencegah knocking. Namun, fitur ini bukan berarti kendaraan dapat menggunakan BBM di bawah spesifikasi dalam jangka panjang.
 
“Tetapi itu bukan pilihan optimal jangka panjang,” katanya.
 
Risiko keausan komponen mesin tetap ada, terutama pada kendaraan dengan turbocharger atau supercharger. Penggunaan BBM beroktan lebih rendah dalam jangka panjang berpotensi mempercepat kerusakan mekanis.

Baca Juga:
MINI 1965 Victory Edition, Produksi Terbatas 16 Unit di Indonesia


Jika pengendara terpaksa menurunkan kualitas BBM, ia menyarankan agar tetap mengacu pada rekomendasi pabrikan dengan memeriksa buku manual kendaraan.
 
Selain itu, pengguna juga perlu mewaspadai perubahan pada karakter mesin, seperti munculnya suara menggelitik, getaran berlebih, atau penurunan performa saat akselerasi. “Jika ini terjadi maka sebaiknya segera isi tangki dengan BBM oktan tinggi sesuai anjuran buku manualnya,” saran dia.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan