DKI Jakarta: Rencana penerapan biodiesel B50 secara bertahap tidak hanya membutuhkan kesiapan pasokan bahan bakar, tetapi juga kesiapan pengguna kendaraan diesel, terutama kendaraan generasi lama.
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, mengatakan kendaraan diesel yang saat ini beredar pada dasarnya dapat menggunakan bahan bakar B50. Namun, sejumlah komponen pada kendaraan diesel lama perlu mendapatkan perhatian khusus karena karakteristik biodiesel berbeda dengan solar konvensional.
“Secara teknis, kendaraan diesel lama dengan injeksi mekanis memerlukan perhatian khusus," kata Yannes ketika dihubungi ANTARA.
Menurut Yannes, komponen seperti selang karet, seal, dan gasket berpotensi mengalami degradasi lebih cepat karena sifat pelarut B50 yang lebih kuat. Oleh karena itu, pemilik kendaraan disarankan mengikuti rekomendasi perawatan dari bengkel resmi.
Baca Juga:
Bocoran Spesifikasi BYD Seal 08, Jarak Tempuh Sampai 785 Km
Selain kesiapan kendaraan, implementasi B50 juga perlu didukung kualitas distribusi bahan bakar yang baik serta edukasi kepada masyarakat. Langkah tersebut dinilai penting agar manfaat penggunaan biodiesel dapat dirasakan tanpa mengganggu operasional kendaraan.
Yannes menjelaskan biodiesel memiliki sifat higroskopis atau mudah menyerap air dari lingkungan. Karena itu, pengelola SPBU perlu memastikan tangki penyimpanan bahan bakar tetap terjaga dari kelembapan berlebih agar kualitas B50 tetap terjaga hingga sampai ke konsumen.
Di sisi lain, mekanik bengkel dan pengguna kendaraan juga perlu mendapatkan sosialisasi mengenai perawatan mesin yang sesuai dengan penggunaan biodiesel. Salah satunya adalah mempercepat interval penggantian filter solar, terutama pada kendaraan diesel lama.
Ia menilai edukasi menjadi faktor penting dalam masa transisi menuju penggunaan campuran biodiesel yang lebih tinggi. Dengan pemahaman yang baik, pengguna dapat mengantisipasi kebutuhan perawatan kendaraan dan memaksimalkan manfaat penggunaan B50.
Baca Juga:
Cara Merawat Rem Cakram Sepeda Motor
Yannes menambahkan, manfaat penggunaan B50 akan berbeda antara kendaraan diesel lama dan kendaraan diesel modern. Pada kendaraan diesel lama yang banyak digunakan untuk sektor logistik dan niaga, B50 berpotensi membantu menjaga stabilitas pasokan bahan bakar di dalam negeri.
“B50 menjamin stabilitas pasokan bahan bakar di pasaran sehingga biaya operasional logistik tetap ekonomis dan perputaran bisnis terjaga, asalkan pengguna lebih disiplin melakukan perawatan seperti mengganti filter solar,” katanya.
Sementara itu, pada kendaraan diesel modern yang telah mengadopsi teknologi common rail, penggunaan B50 dinilai dapat memberikan keuntungan dari sisi emisi gas buang yang lebih bersih.
“Bagi pengguna diesel modern berteknologi common rail, manfaat terbesar B50 adalah berkurangnya kepulan jelaga hitam pekat pada gas buang,” ujar Yannes.
DKI Jakarta: Rencana penerapan
biodiesel B50 secara bertahap tidak hanya membutuhkan kesiapan pasokan
bahan bakar, tetapi juga kesiapan pengguna kendaraan diesel, terutama kendaraan generasi lama.
Pakar otomotif dari
Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, mengatakan kendaraan diesel yang saat ini beredar pada dasarnya dapat menggunakan bahan bakar B50. Namun, sejumlah komponen pada kendaraan diesel lama perlu mendapatkan perhatian khusus karena karakteristik biodiesel berbeda dengan solar konvensional.
“Secara teknis, kendaraan diesel lama dengan injeksi mekanis memerlukan perhatian khusus," kata Yannes ketika dihubungi ANTARA.
Menurut Yannes, komponen seperti selang karet, seal, dan gasket berpotensi mengalami degradasi lebih cepat karena sifat pelarut B50 yang lebih kuat. Oleh karena itu, pemilik kendaraan disarankan mengikuti rekomendasi perawatan dari bengkel resmi.
Selain kesiapan kendaraan, implementasi B50 juga perlu didukung kualitas distribusi bahan bakar yang baik serta edukasi kepada masyarakat. Langkah tersebut dinilai penting agar manfaat penggunaan biodiesel dapat dirasakan tanpa mengganggu operasional kendaraan.
Yannes menjelaskan biodiesel memiliki sifat higroskopis atau mudah menyerap air dari lingkungan. Karena itu, pengelola SPBU perlu memastikan tangki penyimpanan bahan bakar tetap terjaga dari kelembapan berlebih agar kualitas B50 tetap terjaga hingga sampai ke konsumen.
Di sisi lain, mekanik bengkel dan pengguna kendaraan juga perlu mendapatkan sosialisasi mengenai perawatan mesin yang sesuai dengan penggunaan biodiesel. Salah satunya adalah mempercepat interval penggantian filter solar, terutama pada kendaraan diesel lama.
Ia menilai edukasi menjadi faktor penting dalam masa transisi menuju penggunaan campuran biodiesel yang lebih tinggi. Dengan pemahaman yang baik, pengguna dapat mengantisipasi kebutuhan perawatan kendaraan dan memaksimalkan manfaat penggunaan B50.
Yannes menambahkan, manfaat penggunaan B50 akan berbeda antara kendaraan diesel lama dan kendaraan diesel modern. Pada kendaraan diesel lama yang banyak digunakan untuk sektor logistik dan niaga, B50 berpotensi membantu menjaga stabilitas pasokan bahan bakar di dalam negeri.
“B50 menjamin stabilitas pasokan bahan bakar di pasaran sehingga biaya operasional logistik tetap ekonomis dan perputaran bisnis terjaga, asalkan pengguna lebih disiplin melakukan perawatan seperti mengganti filter solar,” katanya.
Sementara itu, pada kendaraan diesel modern yang telah mengadopsi teknologi common rail, penggunaan B50 dinilai dapat memberikan keuntungan dari sisi emisi gas buang yang lebih bersih.
“Bagi pengguna diesel modern berteknologi common rail, manfaat terbesar B50 adalah berkurangnya kepulan jelaga hitam pekat pada gas buang,” ujar Yannes.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda(UDA)