Jakarta: Di industri otomotif kita mengenal dua jenis mesin, yakni mesin bensin dan disel. Di negara-negara Eropa penggunaan mesin disel masih banyak dipakai untuk mobil penumpang. Berbeda di Indonesia, dimana mesin bensin mendominasi mobil pribadi atau jenis penumpang/pasengger car.
Sementara untuk mobil jenis komersial atau truk yang ada di Indonesia didominasi mesin disel. Namun, menurut Sales Support Departemen Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI), Reiner Tandionei, ada alasan tersendiri kenapa pabrikan tidak memproduksi mobil komersial bermesin bensin.
"Mesin disel mempunyai efisiensi panas yang lebih besar. Hal ini berarti penggunaan bahan bakarnya lebih ekonomis dari pada mesin bensin," kata Reiner saat berbincang dengan Medcom.id di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Selain itu mesin disel diklaim lebih tahan lama dan tidak memerlukan electrick igniter atau busi. Artinya kemungkinan kesulitan lebih kecil dibanding mesin bensin. Momen pada mesin disel juga tidak berubah pada jenjang tingkat kecepatan yang luas.
Meski suara dan getaran mesin disel lebih besar, tekanan pembakarannya dua kali mesin bensin. Karena itu mesin disel wajib mempunyai struktur dan dibuat dari bahan yang sangat kuat. Tujuannya agar tahan terhadap tekanan tinggi.
"Bisa dibilang mobil komersial atau truk angkutan barang di Idonesia semuanya bermesin disel. Ini tidak terlepas dari faktor efisiensi baik dalam hal operasional dan perawatan yang menjadi pertimbangan utama para pengusaha."
Jakarta: Di industri otomotif kita mengenal dua jenis mesin, yakni mesin bensin dan disel. Di negara-negara Eropa penggunaan mesin disel masih banyak dipakai untuk mobil penumpang. Berbeda di Indonesia, dimana mesin bensin mendominasi mobil pribadi atau jenis penumpang/pasengger car.
Sementara untuk mobil jenis komersial atau truk yang ada di Indonesia didominasi mesin disel. Namun, menurut Sales Support Departemen Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI), Reiner Tandionei, ada alasan tersendiri kenapa pabrikan tidak memproduksi mobil komersial bermesin bensin.
"Mesin disel mempunyai efisiensi panas yang lebih besar. Hal ini berarti penggunaan bahan bakarnya lebih ekonomis dari pada mesin bensin," kata Reiner saat berbincang dengan Medcom.id di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Selain itu mesin disel diklaim lebih tahan lama dan tidak memerlukan electrick igniter atau busi. Artinya kemungkinan kesulitan lebih kecil dibanding mesin bensin. Momen pada mesin disel juga tidak berubah pada jenjang tingkat kecepatan yang luas.
Meski suara dan getaran mesin disel lebih besar, tekanan pembakarannya dua kali mesin bensin. Karena itu mesin disel wajib mempunyai struktur dan dibuat dari bahan yang sangat kuat. Tujuannya agar tahan terhadap tekanan tinggi.
"Bisa dibilang mobil komersial atau truk angkutan barang di Idonesia semuanya bermesin disel. Ini tidak terlepas dari faktor efisiensi baik dalam hal operasional dan perawatan yang menjadi pertimbangan utama para pengusaha."
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)