Jakarta - Sebagian orang memilih menggunakan aki basah dari pada aki kering lantaran dinilai lebih awet dan bisa dikontrol secara manual. Lantaran hal ini pula dibutuhkan ketelitian dan kesiapan dalam hal perawatan komponen penghasil listirk itu secara rutin.
Beberapa hal pun penting diperhatikan sebelum mengganti aki basah di mobil. Tujuannya agar aki basah bisa dimaksimalkan penggunaan dan usia pakainya.
1. Lihat Kondisi Fisik Aki
Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah melihat langsung kondisi aki. Pastikan tidak ada retakan pada bodi aki, cairan yang merembes, atau korosi parah di bagian terminal. Aki yang masih bagus biasanya terlihat bersih dan utuh.
Terminal yang berkarat bisa bikin arus listrik nggak lancar. Jadi kalau ada tanda-tanda kerusakan fisik, sebaiknya segera pertimbangkan untuk ganti aki.
Baca Juga:
Ini Komponen Mobil yang Wajib Dicek Pasca Mudik Lebaran
2. Cek Ketinggian Air Aki
Karena ini aki basah, maka cairan elektrolitnya wajib dijaga. Buka tutup masing-masing sel dan lihat apakah airnya masih di atas pelat timah atau sudah mulai surut. Idealnya, air berada 1–1,5 cm di atas pelat. Kalau kurang, tambahkan air suling (jangan air biasa).
Ini bagian penting dari cara cek aki basah mobil masih bagus atau tidak, karena cairan ini yang membantu menghasilkan arus listrik. Lakukan pengecekan ini secara rutin, apalagi kalau cuaca lagi panas-panasnya. Kalau air aki selalu berkurang dalam waktu yang singkat, mungkin ini tanda-tanda aki mengalami kebocoran dan harus dilakukan penggantian.
3. Gunakan Multimeter untuk Ukur Tegangan
Tes ini bisa kasih gambaran kondisi tegangan aki secara objektif. Ukur saat mesin mati, idealnya ada di kisaran 12,6–12,8 volt. Saat mesin hidup, angka normalnya antara 13,7–14,7 volt. Kalau ternyata tegangannya kurang dari itu, bisa jadi akinya mulai lemah atau malah alternator yang bermasalah. Tes ini adalah langkah penting dalam cara cek aki secara teknis.
4. Coba Tes Berat Jenis Cairan Aki
Kalau mau lebih akurat lagi, pakai hidrometer untuk cek berat jenis cairan elektrolitnya. Angka normal biasanya ada di 1,26–1,28. Kalau di bawah 1,20, itu artinya aki sudah mulai menurun performanya. Selain itu, kalau hasil antar sel beda-beda jauh, itu bisa jadi tanda ada kerusakan internal di dalam aki.
Baca Juga:
Mercedes-Maybach S-Class Generasi Terbaru, Standar Baru Kemewahan
5. Lihat Reaksi Starter Saat Menyalakan Mesin
Tanda paling nyata dari kondisi aki bisa dilihat saat kamu menyalakan mesin mobil. Kalau starter langsung nyala dan mesinnya hidup lancar, berarti aki masih cukup kuat. Tapi kalau starter lambat, atau cuma bunyi “klik” tanpa ada pergerakan mesin, itu bisa jadi tanda aki mulai soak. Tes ini sederhana tapi cukup efektif untuk tahu kondisi aki dalam pemakaian sehari-hari.
Jakarta - Sebagian orang memilih menggunakan
aki basah dari pada aki kering lantaran dinilai lebih awet dan bisa dikontrol secara manual. Lantaran hal ini pula dibutuhkan ketelitian dan kesiapan dalam hal perawatan komponen penghasil listirk itu secara rutin.
Beberapa hal pun penting diperhatikan sebelum mengganti aki basah di
mobil. Tujuannya agar aki basah bisa dimaksimalkan penggunaan dan usia pakainya.
1. Lihat Kondisi Fisik Aki
Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah melihat langsung kondisi aki. Pastikan tidak ada retakan pada bodi aki, cairan yang merembes, atau korosi parah di bagian terminal. Aki yang masih bagus biasanya terlihat bersih dan utuh.
Terminal yang berkarat bisa bikin arus listrik nggak lancar. Jadi kalau ada tanda-tanda kerusakan fisik, sebaiknya segera pertimbangkan untuk ganti aki.
2. Cek Ketinggian Air Aki
Karena ini aki basah, maka cairan elektrolitnya wajib dijaga. Buka tutup masing-masing sel dan lihat apakah airnya masih di atas pelat timah atau sudah mulai surut. Idealnya, air berada 1–1,5 cm di atas pelat. Kalau kurang, tambahkan air suling (jangan air biasa).
Ini bagian penting dari cara cek aki basah mobil masih bagus atau tidak, karena cairan ini yang membantu menghasilkan arus listrik. Lakukan pengecekan ini secara rutin, apalagi kalau cuaca lagi panas-panasnya. Kalau air aki selalu berkurang dalam waktu yang singkat, mungkin ini tanda-tanda aki mengalami kebocoran dan harus dilakukan penggantian.
3. Gunakan Multimeter untuk Ukur Tegangan
Tes ini bisa kasih gambaran kondisi tegangan aki secara objektif. Ukur saat mesin mati, idealnya ada di kisaran 12,6–12,8 volt. Saat mesin hidup, angka normalnya antara 13,7–14,7 volt. Kalau ternyata tegangannya kurang dari itu, bisa jadi akinya mulai lemah atau malah alternator yang bermasalah. Tes ini adalah langkah penting dalam cara cek aki secara teknis.
4. Coba Tes Berat Jenis Cairan Aki
Kalau mau lebih akurat lagi, pakai hidrometer untuk cek berat jenis cairan elektrolitnya. Angka normal biasanya ada di 1,26–1,28. Kalau di bawah 1,20, itu artinya aki sudah mulai menurun performanya. Selain itu, kalau hasil antar sel beda-beda jauh, itu bisa jadi tanda ada kerusakan internal di dalam aki.
5. Lihat Reaksi Starter Saat Menyalakan Mesin
Tanda paling nyata dari kondisi aki bisa dilihat saat kamu menyalakan mesin mobil. Kalau starter langsung nyala dan mesinnya hidup lancar, berarti aki masih cukup kuat. Tapi kalau starter lambat, atau cuma bunyi “klik” tanpa ada pergerakan mesin, itu bisa jadi tanda aki mulai soak. Tes ini sederhana tapi cukup efektif untuk tahu kondisi aki dalam pemakaian sehari-hari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)