DKI Jakarta: Mobil hybrid atau Hybrid Electric Vehicle (HEV) semakin diminati masyarakat sebagai solusi mobilitas yang lebih ramah lingkungan dan efisien bahan bakar.
Selain menghadirkan teknologi elektrifikasi, efisiensi mesin bensin tetap menjadi faktor penting pada kendaraan hybrid. Hal ini berkaitan langsung dengan performa dan efisiensi pembakaran di dalam mesin.
“Salah satu hal penting dari sebuah mobil hybrid adalah mesin bensin yang efisien tetapi tetap bertenaga. Bensin sesuai rekomendasi menjaga proses pembakaran di dalam ruang bakar mesin agar optimal dan menghasilkan tenaga sesuai kebutuhan,“ kata Marketing Division Head Auto2000, Nur Imansyah Tara, melalui keterangan resminya.
Namun, penggunaan bahan bakar dengan nilai oktan lebih rendah dari rekomendasi pabrikan dapat memicu masalah serius pada mesin. Salah satunya adalah gejala knocking atau detonasi yang terjadi ketika bahan bakar terbakar sebelum busi memercikkan api sesuai siklus kerja mesin.
Knocking terjadi akibat pembakaran tidak sempurna yang dipicu oleh penggunaan BBM beroktan rendah. Dampaknya, mesin dapat kehilangan tenaga sehingga pengemudi harus menekan pedal gas lebih dalam untuk mendapatkan performa yang diinginkan.
Baca Juga: Cek Harga OTR Jakarta Mitsubishi Destinator per Maret 2026
Gejala knocking biasanya ditandai dengan suara mengelitik dari ruang mesin saat pedal gas diinjak. Suara tersebut akan terdengar semakin jelas ketika kendaraan bekerja dalam kondisi berat, seperti saat membawa muatan penuh, menyalip kendaraan lain, atau melintasi jalan menanjak.
Kondisi tersebut kerap ditemui saat perjalanan jarak jauh, termasuk ketika mudik Lebaran. Mobil biasanya membawa penumpang dan barang lebih banyak, menghadapi kondisi lalu lintas yang dinamis, hingga melewati jalur pegunungan.
Selain menurunkan performa mesin, knocking juga dapat membuat konsumsi bahan bakar menjadi lebih boros.
Masalah lain yang dapat muncul adalah terbentuknya deposit kotoran di ruang bakar akibat pembakaran yang tidak sempurna. Kotoran tersebut dapat memengaruhi kinerja mesin serta meningkatkan suhu kerja komponen mesin.
Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi mempercepat kerusakan komponen mesin. Jika dibiarkan, kerusakan dapat semakin parah hingga menyebabkan mesin harus menjalani perbaikan besar atau turun mesin yang membutuhkan biaya tidak sedikit.
Karena itu, penggunaan bahan bakar dengan nilai oktan sesuai rekomendasi pabrikan menjadi hal penting untuk menjaga performa dan efisiensi kendaraan hybrid.
Selain menjaga performa mesin, penggunaan BBM yang tepat juga membantu meningkatkan efisiensi bahan bakar sehingga biaya operasional kendaraan tetap terkendali, terutama saat digunakan untuk perjalanan jauh.
DKI Jakarta: Mobil hybrid atau
Hybrid Electric Vehicle (HEV) semakin diminati masyarakat sebagai solusi mobilitas yang lebih ramah lingkungan dan efisien bahan bakar.
Selain menghadirkan teknologi elektrifikasi, efisiensi
mesin bensin tetap menjadi faktor penting pada kendaraan hybrid. Hal ini berkaitan langsung dengan performa dan efisiensi pembakaran di dalam mesin.
“Salah satu hal penting dari sebuah mobil hybrid adalah mesin bensin yang efisien tetapi tetap bertenaga. Bensin sesuai rekomendasi menjaga proses pembakaran di dalam ruang bakar mesin agar optimal dan menghasilkan tenaga sesuai kebutuhan,“ kata Marketing Division Head Auto2000, Nur Imansyah Tara, melalui keterangan resminya.
Namun, penggunaan bahan bakar dengan nilai oktan lebih rendah dari rekomendasi pabrikan dapat memicu masalah serius pada mesin. Salah satunya adalah gejala knocking atau detonasi yang terjadi ketika bahan bakar terbakar sebelum busi memercikkan api sesuai siklus kerja mesin.
Knocking terjadi akibat pembakaran tidak sempurna yang dipicu oleh penggunaan BBM beroktan rendah. Dampaknya, mesin dapat kehilangan tenaga sehingga pengemudi harus menekan pedal gas lebih dalam untuk mendapatkan performa yang diinginkan.
Baca Juga:
Cek Harga OTR Jakarta Mitsubishi Destinator per Maret 2026
Gejala knocking biasanya ditandai dengan suara mengelitik dari ruang mesin saat pedal gas diinjak. Suara tersebut akan terdengar semakin jelas ketika kendaraan bekerja dalam kondisi berat, seperti saat membawa muatan penuh, menyalip kendaraan lain, atau melintasi jalan menanjak.
Kondisi tersebut kerap ditemui saat perjalanan jarak jauh, termasuk ketika mudik Lebaran. Mobil biasanya membawa penumpang dan barang lebih banyak, menghadapi kondisi lalu lintas yang dinamis, hingga melewati jalur pegunungan.
Selain menurunkan performa mesin, knocking juga dapat membuat konsumsi bahan bakar menjadi lebih boros.
Masalah lain yang dapat muncul adalah terbentuknya deposit kotoran di ruang bakar akibat pembakaran yang tidak sempurna. Kotoran tersebut dapat memengaruhi kinerja mesin serta meningkatkan suhu kerja komponen mesin.
Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi mempercepat kerusakan komponen mesin. Jika dibiarkan, kerusakan dapat semakin parah hingga menyebabkan mesin harus menjalani perbaikan besar atau turun mesin yang membutuhkan biaya tidak sedikit.
Karena itu, penggunaan bahan bakar dengan nilai oktan sesuai rekomendasi pabrikan menjadi hal penting untuk menjaga performa dan efisiensi kendaraan hybrid.
Selain menjaga performa mesin, penggunaan BBM yang tepat juga membantu meningkatkan efisiensi bahan bakar sehingga biaya operasional kendaraan tetap terkendali, terutama saat digunakan untuk perjalanan jauh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)