Aneka bensin. Pertamina
Aneka bensin. Pertamina

Harga BBM Naik, Jangan Nekat Campur-Campur Bensin Cari Murah

Ekawan Raharja • 21 April 2026 08:37
Ringkasnya gini..
  • Kenaikan harga BBM membuat sebagian pengguna mencoba mengganti atau mencampur bahan bakar.
  • Pakar ITB menyebut langkah ini berisiko, mulai dari performa turun hingga mesin cepat rusak.
  • Pengguna disarankan tetap memakai BBM sesuai spesifikasi untuk menghindari biaya perbaikan mahal.
DKI Jakarta: Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah mendorong sebagian pengguna kendaraan mencari cara berhemat, termasuk mengganti atau mencampur jenisnya. Sayangnya cara ini justru berbahaya dan bisa membuat mesin mobil jebol.
 
BBM. Namun pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, mengingatkan langkah tersebut berisiko terhadap performa hingga keawetan mesin kendaraan. Menurut Yannes, penggunaan BBM dengan oktan lebih rendah dari yang direkomendasikan pabrikan dapat berdampak langsung pada kinerja mesin.
 
“Risiko utama mengganti jenis BBM beroktan lebih rendah pada kendaraan adalah mesin menjadi panas berlebih, tenaga drop drastis, dan konsumsi BBM justru meningkat,” ujar Yannes ketika dihubungi ANTARA.

Ia menambahkan, dalam jangka 10.000–20.000 km, kondisi tersebut dapat memicu penumpukan deposit karbon di ruang bakar dan injektor. Dampaknya, mesin menjadi kasar saat idle, akselerasi tersendat, serta emisi gas buang meningkat.

Baca Juga:
Berubah Signifikan, Begini Wujud Baru Toyota Yaris Cross


Risiko ini semakin besar pada kendaraan dengan spesifikasi tinggi. Yannes menjelaskan mobil dengan turbo atau rasio kompresi tinggi lebih rentan mengalami keausan komponen internal seperti ring piston jika menggunakan BBM yang tidak sesuai.
 
Selain mengganti jenis BBM, praktik mencampur bahan bakar juga dinilai berisiko. Misalnya mencampur Pertamax Turbo dengan Pertamax biasa.
 
“Tidak disarankan mencampur Pertamax Turbo dengan Pertamax biasa, sebab kedua jenis BBM ini memiliki komposisi aditif, densitas, dan karakteristik pembakaran berbeda,” kata Yannes.
 
Ia menjelaskan pencampuran BBM dapat menghasilkan angka oktan yang tidak stabil. Dalam jangka menengah, kondisi ini berpotensi menyebabkan penurunan performa, pembakaran tidak merata, hingga knocking sporadis.

Baca Juga:
MINI 1965 Victory Edition, Produksi Terbatas 16 Unit di Indonesia


Selain itu, campuran BBM juga dapat memicu terbentuknya endapan yang menyumbat filter serta meningkatkan risiko kerusakan pada sistem injeksi bertekanan tinggi seperti Common Rail atau Gasoline Direct Injection (GDI).
 
“Kerusakan komponen ini dalam jangka panjang akan membuat kita harus mengeluarkan biaya perbaikan hingga belasan juta rupiah,” ujarnya.
 
Yannes menegaskan bahwa mencampur BBM bukan solusi penghematan yang efektif, melainkan berpotensi mempercepat kerusakan kendaraan. "Lebih bijak pilih satu jenis sesuai spesifikasi yang ditentukan pabrikan,” katanya.
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan