Salah Kaprah Pakai Busi Racing di Motor Standar
Busi racing takkan bekerja dengan maksimal jika suhu ruang bakar mesin tak mencapai titik tertentu. medcom.id/Ahmad Garuda
Jakarta: Tidak selamanya penggunaan komponen performa tinggi itu benar-benar mampu membuat motor atau mobil yang kita gunakan sehari-hari bisa lebih kencang atau performanya lebih baik. Salah satu hal sederhana yang dianggap benar adalah penggunaan busi tipe racing.

Busi ini biasanya memang punya material yang lebih baik ketimbang busi reguler. Spesifikasi untuk mengantar percikan api di ruang bakar pun lebih kuat. Hal itu dipercaya menjadi obat kuat instan yang bisa membuat performa mesin jadi lebih baik.

Namun anggapan tersebut dibantah langsung oleh Technical Support PT NGK Busi Indonesia, Diko Octaviano saat berbicara kepada medcom.id. Menurutnya, hal ini justru menjadi sebuah kesalahan. Mengingat busi racing itu butuh spesifikasi mesin dan suhu ruang bakar yang lebih tinggi.

"Busi racing itu dirancang dengan material yang lebih tahan panas dan justru bekerja optimal di saat suhu ruang bakar mesin sudah mencapai titik tertentu. Katakanlah suhu di atas 3.000 derajat. Kalau suhu mesin di bawah itu, maka busi ini takkan bekerja secara maksimal," ujar Diko.

Pria ramah itu melanjutkan bahwa Ia sudah pernah membuktikan hal itu. Busi dengan kotak warna merah (identitas busi racing), digunakan terhadap mesin motor standar. Alhasil Ia tidak bisa merasakan performa terbaiknya sejak awal perjalanan hingga sampai di kantornya.

"Namun yang aneh adalah ketika mesin motor sudah benar-benar panas, biasanya ini terjadi ketika saya sudah dekat ke kantor. Performa motor malah lebih agresif. Ini menjadi salah satu tanda bahwa busi racing itu bekerja pada suhu ruang bakar tertentu. Kalau mesin tipe standar, untuk mencapai suhu ruang bakar yang sangat tinggi ini, harus digunakan ke mana-mana dulu. Berbeda dengan setup mesin yang khusus digunakan untuk balapan yang titik panas ruang bakarnya akan cepat tercapai."

Lalu bagaimana kalau di balik? Busi reguler digunakan di tipe mesin khusus untuk performa tinggi? Diko menegaskan bahwa itu juga tindakan salah. Bukan hanya performa yang turun, tapi jelas ini membahayakan kondisi ruang bakar. Mengingat busi reguler tidak didesain untuk bekerja di atas suhu tertentu. Kalau pun dipaksa, maka keramik pelapis elektroda bisa pecah atau bahkan businya meleleh di ruang bakar.

Diko pun menyarankan agar sebaiknya menggunakan komponen pemantik api di ruang bakar mesin itu, sesuai dengan peruntukannya. Ini juga berfungsi menjaga agar komponen lain yang berhubungan dengan busi itu sendiri jadi lebih awet.

(UDA)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id