medcom.id, Jakarta: Banyak pengendara moge (motor gede) di Indonesia yang mengeluhkan panas yang menyerang di sekitar kaki dan paha saat berkendara jarak jauh terutama saat kemacetan.
Kejadian itu diklaim tidak akan ditemui oleh para pemilik sepeda motor buatan Inggris bermerek Triumph yang akan meluncurkan 12 model pada 17 September mendatang di Gandaria City, Jakarta Selatan.
Managing Director PT Gerai Motor Terpadu (GMT), Tito Sulistio selaku Diler Eksklusif Triumph di Jakarta mengatakan bahwa, "Naik moge di Jakarta yang penting tidak panas dan gampang dikendarai,"
Dari sekian motor yang pernah saya naiki, Triumph paling enak dikendarai," tambah pria eksentrik yang mengaku menjadi salah satu pendiri Harley-Davidson Owners Group (HOG) ini di hari pertama acara workshop media yang digelar selama tiga hari di GMT Jl Pejaten barat, Jakarta Selatan pada 19-21 Agustus 2014 lalu.
Menurut penjelasan Yudi Yulianto, selaku manager yang bertanggung jawab di urusan after sales, service & technical PT triumph Motorcycle Indonesia (MTI), "Ada beberapa faktor yang menyebabkan mesin Triumph tidak cepat panas."
Salah satunya ada pada desain mesin sepeda motor Triumph yang sejak awal setia memegang teguh traidisi yang menganut model paralel, baik untuk mesin dua silinder maupun tiga silinder.
"Dengan mesin paralel ber-layout transversal, udara yang mengalir untuk mendinginkan di masing-masing silinder terjadi secara optimal," ujar Yudi dalam pemaparan tekniknya.
"Beda dengan sepeda motor yang menganut mesin model V-Twin dengan layout longitudinal. Salah satu silinder memang berada di depan sehingga sistem pendinginannya cukup, namun silinder lain yang berada di baliknya tidak mendapatkan aliran udara yang cukup karena terhalang oleh silinder satunya," papar Yudi.
Hal inilah menurut Yudi yang menyebabkan moge bermesin V-Twin menjadi lebih terasa panas saat dikendarai, terlebih saat macet.
Faktor lain penyebab panas menurut Yudi adalah gesekan pada komponen mesin yang berlebihan. "Di Triumph, kami melakukan inspeksi pada setiap bagian komponen mesin sebanyak sepuluh kali untuk mengejar kepresisian yang tinggi untuk mengurangi gesekan semaksimal mungkin."
Setiap model yang dibuat, sebelumnya telah melewati pengujian sejauh 35.000 km untuk memastikan segala sesuatunya oke sebelum kendaraan ini masuk jalur produksi.
Metrotvnew.com beberapa kali menemui para pengendara moge yang kerap mengeluhkan serangan panas mesin yang menyergap kaki mereka saat perjalanan jauh. Bahkan panas akan terasa di badan pengendara saat mengalami kemacetan.
Hal itulah yang menjadi alasan utama di kalangan oknum penunggang moge yang enggan berhenti di lampu merah, bahkan ngotot minta prioritas jalan walaupun lalu lintas sangat padat.
Membentuk karakter penunggangnya
General Manager PT Triumph Motorcycle Indonesia, Paulus B Suranto menjelaskan kekuatan sebuah brand Triumph mampu membentuk karakter dan style pengemudinya. Menurutnya rata-rata penunggang Triumph memiliki sikap yang ramah, santai, dan jauh dari kesan arogan yang biasa ditunjukkan oleh penunggang moge pada umumnya.
"Pengendara Triumph tidak akan seperti itu. Pernah saya berhenti di lampu merah di belakang garis putih. Yang lain merangsek terus ke depan. Tiba-tiba ada pengguna Triumph klasik yang berhenti di samping saya. Dengan ramah dia menyapa saya, hai," ujar Paulus yang doyan nyemplak di atas Triumph Tiger 800XC bergaya supermoto-nya.
"Triumph...For the Ride," tutup Paulus.
medcom.id, Jakarta: Banyak pengendara moge (motor gede) di Indonesia yang mengeluhkan panas yang menyerang di sekitar kaki dan paha saat berkendara jarak jauh terutama saat kemacetan.
Kejadian itu diklaim tidak akan ditemui oleh para pemilik sepeda motor buatan Inggris bermerek Triumph yang akan meluncurkan 12 model pada 17 September mendatang di Gandaria City, Jakarta Selatan.
Managing Director PT Gerai Motor Terpadu (GMT), Tito Sulistio selaku Diler Eksklusif Triumph di Jakarta mengatakan bahwa, "Naik moge di Jakarta yang penting tidak panas dan gampang dikendarai,"
Dari sekian motor yang pernah saya naiki, Triumph paling enak dikendarai," tambah pria eksentrik yang mengaku menjadi salah satu pendiri Harley-Davidson Owners Group (HOG) ini di hari pertama acara
workshop media yang digelar selama tiga hari di GMT Jl Pejaten barat, Jakarta Selatan pada 19-21 Agustus 2014 lalu.
Menurut penjelasan Yudi Yulianto, selaku manager yang bertanggung jawab di urusan
after sales, service & technical PT triumph Motorcycle Indonesia (MTI), "Ada beberapa faktor yang menyebabkan mesin Triumph tidak cepat panas."
Salah satunya ada pada desain mesin sepeda motor Triumph yang sejak awal setia memegang teguh traidisi yang menganut model paralel, baik untuk mesin dua silinder maupun tiga silinder.
"Dengan mesin paralel ber-
layout transversal, udara yang mengalir untuk mendinginkan di masing-masing silinder terjadi secara optimal," ujar Yudi dalam pemaparan tekniknya.
"Beda dengan sepeda motor yang menganut mesin model V-Twin dengan
layout longitudinal. Salah satu silinder memang berada di depan sehingga sistem pendinginannya cukup, namun silinder lain yang berada di baliknya tidak mendapatkan aliran udara yang cukup karena terhalang oleh silinder satunya," papar Yudi.
Hal inilah menurut Yudi yang menyebabkan moge bermesin V-Twin menjadi lebih terasa panas saat dikendarai, terlebih saat macet.
Faktor lain penyebab panas menurut Yudi adalah gesekan pada komponen mesin yang berlebihan. "Di Triumph, kami melakukan inspeksi pada setiap bagian komponen mesin sebanyak sepuluh kali untuk mengejar kepresisian yang tinggi untuk mengurangi gesekan semaksimal mungkin."
Setiap model yang dibuat, sebelumnya telah melewati pengujian sejauh 35.000 km untuk memastikan segala sesuatunya oke sebelum kendaraan ini masuk jalur produksi.
Metrotvnew.com beberapa kali menemui para pengendara moge yang kerap mengeluhkan serangan panas mesin yang menyergap kaki mereka saat perjalanan jauh. Bahkan panas akan terasa di badan pengendara saat mengalami kemacetan.
Hal itulah yang menjadi alasan utama di kalangan oknum penunggang moge yang enggan berhenti di lampu merah, bahkan ngotot minta prioritas jalan walaupun lalu lintas sangat padat.
Membentuk karakter penunggangnya
General Manager PT Triumph Motorcycle Indonesia, Paulus B Suranto menjelaskan kekuatan sebuah
brand Triumph mampu membentuk karakter dan
style pengemudinya. Menurutnya rata-rata penunggang Triumph memiliki sikap yang ramah, santai, dan jauh dari kesan arogan yang biasa ditunjukkan oleh penunggang moge pada umumnya.
"Pengendara Triumph tidak akan seperti itu. Pernah saya berhenti di lampu merah di belakang garis putih. Yang lain merangsek terus ke depan. Tiba-tiba ada pengguna Triumph klasik yang berhenti di samping saya. Dengan ramah dia menyapa saya, hai," ujar Paulus yang doyan
nyemplak di atas Triumph Tiger 800XC bergaya
supermoto-nya.
"Triumph...For the Ride," tutup Paulus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CDX)