medcom.id, Jakarta: Bisnis part aftermarket berbau racing di Indonesia memang menjanjikan. Kegemaran masyarakat pada roda dua yang sangat tinggi jadi indikator potensi pasar ini yang akan terus berkembang Indonesia.
Daytona sebagai salah satu brand yang memproduksi beragam part aftermarket racing pun ikut meramaikan pasar part aftermarket nasional sejak 1992. Bahkan brand asal Jepang ini melakukan kerjasama dengan beberapa tim balap nasional.
Namun karena perkembangan dinamika roda dua, part racing pun tidak hanya digunakan tim-tim balap tapi juga masyarakat yang ingin meng-upgrade performa kuda besi miliknya. Secara khusus banyak produsen komponen aftermarket yang meresponnya, termasuk Daytona dengan mendirikan pusat research & development (R&D) di kawasan industri MM2100, Cikarang Barat pada 2006.
"Pusat R&D bertujuan untuk mengembangkan pasar termasuk untuk motor harian. Kantor ini hanya sebagai pengembangan dan riset produk saja, karena produksi tetap dilakukan di Jepang," ungkap Marketing Manager Daytona Indonesia, Fariz Aldino (26/5/2016) di Cikarang.
Lesunya pasar roda dua nasional justru membawa berkah tersendiri bagi pelaku bisnis part aftermarket. Produk seperti knalpot, pelek, aksesoris, komponen elektrikal hingga part mesin, terbilang laris manis.
Peluang pasar part aftermarket yang besar juga menggiurkan untuk sejumlah produsen aftermarket selain Daytona. Yang paling muda adalah Racing Boy, produk yang bermain di segmen yang sama dengan Daytona, namun berasal dari Malaysia.
Direktur Racing Boy Indonesia, Doc Doll menegaskan bahwa mereka sangat bangga dengan potensi besar yang dimiliki Indonesia. Hanya saja untuk produk Racing Boy, harganya lebih mahal, karena memang produknya diimpor dari negara tetangga.
medcom.id, Jakarta: Bisnis part aftermarket berbau
racing di Indonesia memang menjanjikan. Kegemaran masyarakat pada roda dua yang sangat tinggi jadi indikator potensi pasar ini yang akan terus berkembang Indonesia.
Daytona sebagai salah satu
brand yang memproduksi beragam
part aftermarket racing pun ikut meramaikan pasar
part aftermarket nasional sejak 1992. Bahkan
brand asal Jepang ini melakukan kerjasama dengan beberapa tim balap nasional.
Namun karena perkembangan dinamika roda dua,
part racing pun tidak hanya digunakan tim-tim balap tapi juga masyarakat yang ingin meng-
upgrade performa kuda besi miliknya. Secara khusus banyak produsen komponen aftermarket yang meresponnya, termasuk Daytona dengan mendirikan pusat research & development (R&D) di kawasan industri MM2100, Cikarang Barat pada 2006.
.jpg)
"Pusat R&D bertujuan untuk mengembangkan pasar termasuk untuk motor harian. Kantor ini hanya sebagai pengembangan dan riset produk saja, karena produksi tetap dilakukan di Jepang," ungkap Marketing Manager Daytona Indonesia, Fariz Aldino (26/5/2016) di Cikarang.
Lesunya pasar roda dua nasional justru membawa berkah tersendiri bagi pelaku bisnis
part aftermarket. Produk seperti knalpot, pelek, aksesoris, komponen elektrikal hingga part mesin, terbilang laris manis.
Peluang pasar
part aftermarket yang besar juga menggiurkan untuk sejumlah produsen
aftermarket selain Daytona. Yang paling muda adalah Racing Boy, produk yang bermain di segmen yang sama dengan Daytona, namun berasal dari Malaysia.
Direktur Racing Boy Indonesia, Doc Doll menegaskan bahwa mereka sangat bangga dengan potensi besar yang dimiliki Indonesia. Hanya saja untuk produk Racing Boy, harganya lebih mahal, karena memang produknya diimpor dari negara tetangga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)