Seru-Seruan KYT dengan Komunitas Helm
Henry Tedjakusuma berbagi ilmu tentang helm dan serba-serbinya. Donny Kinky
Jakarta: Komunitas otomotif tidak hanya mencakup pengguna kendaraan merek sejenis atau punya kepentingan sejenis saja. Namun karena menggunakan komponen sejenis pun bisa menjadi alasan untuk membentuk sebuah komunitas. Seperti yang terlihat di Bike Corner Jakarta.

Komunitas pecinta helm KYT yaitu Vendetta 2 Lovers dan R10 Holic, seru-seruan dalam acara yang digelar khusus oleh PT Tarakusuma Indah (TI) sebagai produsen helm KYT. Seru-seruan ini mereka gelar dalam bentuk kegiatan sosial, aca nonton bareng MotoGP hingga coaching clinic tentang serba-serbi helm.

"Ini adalah kegiatan pertama yang kami pegang langsung sebagai produsen helm kepada komunitas penggunanya langsung atau business to customer (B2C). Biasanya kami menggelar acara business to business (B2B) atau dengan rekan-rekan media saja. Namun banyak hal yang kami harus komunikasikan langsung ke komunitas agar mereka tahu tentang helm, kegunaan hingga aksesoris pendukungnya," klaim Direktur TI, Henry Tedjakusuma di acara yang berlangsung pada Minggu (3/5/2018) itu.

Untuk kegiatan amal yang mereka gelar bersama komunitas, mereka memberikan santunan terhadap anak yatim dan kaum dhuafa di Pondok Yatin & Dhuafa di Jalan Panjang, Jakarta Barat. "Ini jadi momentum juga bagi kami untuk berbagi rezeki kepada para anak yatim dan dhuafa apalagi di bulan mulia ini."

Setelah melakukan aktifitas berbagi menjelang berbuka puasa, Henry melanjutkan dengan memberikan coaching clinic tentang helm. Mulai dari modifikasi helm yang tidak disarankan, lalu penggunaan tear-off dan pinlock yang benar, hingga pengetahuan di balik itu. Mengingat saat ini banyak yang asal melakukan modifikasi tanpa memperhatikan sisi safety penggunaannya.


"Salah kaprah tentang helm itu sudah banyak dilakukan mereka yang ingin menginginkan helm dengan gaya terbaik namun budget terbatas. Akhirnya diakal-akali, padahal dari sisi safety kalau tidak diperhatikan justru bisa membahayakan.  Seperti penggunaan tear-off yang berwarna, ini justru akan mengganggu visibilitas. Semua sudah ada ukurannya masing-masing."

Komunitas yang hadir di sana pun merasa ilmu tentang helm mereka bertambah. Sehingga diharapkan, mereka bisa jadi pamong untuk menggunakan helm sesuai dengan peruntukan dan kadarnya.



(UDA)