medcom.id, Jakarta: Di ajang balap motor nasional hingga Asia, nama Muhammad Fadli Imammuddin, adalah sosok nama yang selalu membuat pembalap lain ketakutan. Lantaran skill pembalap nasional yang satu ini cukup tangguh dan sulit ditaklukkan, meski itu level pembalap dunia.
Namun sejak mengalami kecelakaan besar di ajang Asia Road Racing Championship (ARRC) 2015 lalu di Sirkuit Sentul, Jawa Barat, karirnya sebagai pembalap harus berhenti. Namun semangat dan jiwa balapnya tak berhenti sampai di situ. Ia tetap menjalani hobinya sebagai pembalap dan didaulat jadi guru atau instruktur balap di Honda Racing School (HRS).
Semangat yang tak pernah pudar ini jugalah yang membawanya ke titik yang berbeda. Dari seorang pembalap motor, Ia kemudian mengasah skill terbaiknya di ajang balap yang lain. Yaitu ajang balap sepeda dan mengikuti kejuaraan tingkat Asia dan dunia.
M. Fadli memimpin balapan bersama rekan setimnya Dimas Ekky Pratama di ARRC 2015
"Sebenarnya menjadi pembalap sepeda itu melalui ketidaksengajaan. Kebetulan saat itu saya rutin bersepeda untuk mempercepat pemulihan kondisi badan. Kebetulan saya bersepeda bareng dengan ketua PBSI. Setelah itu bertemu juga dengan pelatih balap sepeda dan mengajak saya untuk membela Indonesia di tingkat Asia dan nanti targetnya di ajang dunia Olimpiade 2020 untuk kategori paracycling," buka Fadli.
Fadli melanjutkan bahwa setelah ada tawaran yang datang kepadanya itu, Ia menyambut baik dan senang. Karena dulu Ia berkompetisi di balap motor, sekarang masih tetap berkompetisi di ajang balap tapi cabang olah raga yang berbeda yaitu balap sepeda.
Selain menceritakan ambisinya untuk tetap jadi pembalap, Fadli juga bercerita kepada Metro TV tentang kakinya yang tak fiks harus diamputasi. Sambil menunjukkan sepatu yang Ia gunakan saat kecelakaan besarnya, Fadli menegaskan bahwa kakinya memang hancur 15 cm ke bawah dari posisi lutut. Kondisi ini membuatnya tak mungkin mempertahankan kaki yang kemungkinan bisa berdampak ke bagian tubuhnya yang lain.
Cerita seru juga dituturkan Fadli ketika menceritakan pengalaman balapnya di ajang balap motor. "Kalau juara seri sudah banyak banget, karena saya sudah 15 tahun di ajang balap. Sementara untuk jumlah seri dlaam setahun saja lebih dari 15 event balap. Kalau juaranya, ada beberapa yaitu meraih medali emas PON 2004 Palembang, di cabang balap motor. Kemudian juara Asia Underbone dan juga juara nasional beberapa kali."
Kaki kiri Fadli yang kini sudah diganti dengan kaki palsu
Kini Fadli pun sudah pulih dan itu semua membutuhkan perjalanan yang cukup panjang. Anaknya bahkan lahir ketika Ia sedang menjalani masa pemulihan kondisi. Dan ini menjadi salah satu faktor pendukung yang membuatnya ingin cepat pulih.
"Setelah kaki saya diamputasi, saya mengikuti semua saran dari dokter. Luka sudah sembuh, jahitannya juga sudah kuat, mulai belajar jalan, pakai tongkat 2, lalu pakai tongkat 1, dan saat itu saya sudah mulai pakai sepeda. Sebenarnya mulai sepedaan lagi itu di awal 2017, tapi mempercepat pemulihan itu dengan cara intensitas latihan diperbanyak."
Logo sekolah balap M Fadli yang kini jadi rujukan para pembalap muda
Namun Fadli tak butuh waktu lama untuk bisa meraih hasil bagus di ajang balap sepeda tingkat Asia. Saat mengikuti Asia Cycling Championship di Bahrain pada awal Maret dan meraih posisi finish keempat.
"September tahun ini saya rencananya ikut SEA Games di Malaysia dan 2018 nanti ada Asian Games di Indonesia. Targetnya sudah pasti meraih juara atau medali emas. Kalau di ajang balap motor, ya saya ingin anak didik saya bisa cepat meraih hasil bagus, berprestasi dan cepat berlaga di ajang dunia.
medcom.id, Jakarta: Di ajang balap motor nasional hingga Asia, nama Muhammad Fadli Imammuddin, adalah sosok nama yang selalu membuat pembalap lain ketakutan. Lantaran skill pembalap nasional yang satu ini cukup tangguh dan sulit ditaklukkan, meski itu level pembalap dunia.
Namun sejak mengalami kecelakaan besar di ajang Asia Road Racing Championship (ARRC) 2015 lalu di Sirkuit Sentul, Jawa Barat, karirnya sebagai pembalap harus berhenti. Namun semangat dan jiwa balapnya tak berhenti sampai di situ. Ia tetap menjalani hobinya sebagai pembalap dan didaulat jadi guru atau instruktur balap di Honda Racing School (HRS).
Semangat yang tak pernah pudar ini jugalah yang membawanya ke titik yang berbeda. Dari seorang pembalap motor, Ia kemudian mengasah skill terbaiknya di ajang balap yang lain. Yaitu ajang balap sepeda dan mengikuti kejuaraan tingkat Asia dan dunia.
M. Fadli memimpin balapan bersama rekan setimnya Dimas Ekky Pratama di ARRC 2015
"Sebenarnya menjadi pembalap sepeda itu melalui ketidaksengajaan. Kebetulan saat itu saya rutin bersepeda untuk mempercepat pemulihan kondisi badan. Kebetulan saya bersepeda bareng dengan ketua PBSI. Setelah itu bertemu juga dengan pelatih balap sepeda dan mengajak saya untuk membela Indonesia di tingkat Asia dan nanti targetnya di ajang dunia Olimpiade 2020 untuk kategori paracycling," buka Fadli.
Fadli melanjutkan bahwa setelah ada tawaran yang datang kepadanya itu, Ia menyambut baik dan senang. Karena dulu Ia berkompetisi di balap motor, sekarang masih tetap berkompetisi di ajang balap tapi cabang olah raga yang berbeda yaitu balap sepeda.

Selain menceritakan ambisinya untuk tetap jadi pembalap, Fadli juga bercerita kepada Metro TV tentang kakinya yang tak fiks harus diamputasi. Sambil menunjukkan sepatu yang Ia gunakan saat kecelakaan besarnya, Fadli menegaskan bahwa kakinya memang hancur 15 cm ke bawah dari posisi lutut. Kondisi ini membuatnya tak mungkin mempertahankan kaki yang kemungkinan bisa berdampak ke bagian tubuhnya yang lain.
Cerita seru juga dituturkan Fadli ketika menceritakan pengalaman balapnya di ajang balap motor. "Kalau juara seri sudah banyak banget, karena saya sudah 15 tahun di ajang balap. Sementara untuk jumlah seri dlaam setahun saja lebih dari 15 event balap. Kalau juaranya, ada beberapa yaitu meraih medali emas PON 2004 Palembang, di cabang balap motor. Kemudian juara Asia Underbone dan juga juara nasional beberapa kali."
Kaki kiri Fadli yang kini sudah diganti dengan kaki palsu
Kini Fadli pun sudah pulih dan itu semua membutuhkan perjalanan yang cukup panjang. Anaknya bahkan lahir ketika Ia sedang menjalani masa pemulihan kondisi. Dan ini menjadi salah satu faktor pendukung yang membuatnya ingin cepat pulih.
"Setelah kaki saya diamputasi, saya mengikuti semua saran dari dokter. Luka sudah sembuh, jahitannya juga sudah kuat, mulai belajar jalan, pakai tongkat 2, lalu pakai tongkat 1, dan saat itu saya sudah mulai pakai sepeda. Sebenarnya mulai sepedaan lagi itu di awal 2017, tapi mempercepat pemulihan itu dengan cara intensitas latihan diperbanyak."
Logo sekolah balap M Fadli yang kini jadi rujukan para pembalap muda
Namun Fadli tak butuh waktu lama untuk bisa meraih hasil bagus di ajang balap sepeda tingkat Asia. Saat mengikuti Asia Cycling Championship di Bahrain pada awal Maret dan meraih posisi finish keempat.
"September tahun ini saya rencananya ikut SEA Games di Malaysia dan 2018 nanti ada Asian Games di Indonesia. Targetnya sudah pasti meraih juara atau medali emas. Kalau di ajang balap motor, ya saya ingin anak didik saya bisa cepat meraih hasil bagus, berprestasi dan cepat berlaga di ajang dunia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)