Seorang pejalan kaki menyingkir karena motor. Foto-foto: Dok MI/Antara
Seorang pejalan kaki menyingkir karena motor. Foto-foto: Dok MI/Antara

Seruan Kepada Bikers Agar Turun dari Trotoar

Otomotif motor
Fitra Iskandar • 17 Desember 2014 17:59
medcom.id, Jakarta: Godaan bagi pengendara motor di Jakarta atau kota-kota besar lain salah satunya yaitu menghindari kemacetan dengan naik ke atas trotoar. Sebagai pengendara yang baik, godaan itu tentu seharusnya ditepis, kecuali anda tidak keberatan menyandang predikat sebagai bikers arogan dan tak tahu aturan.
 
Pengendara motor sering dituding sebagai biang kesemrautan karena sering menyerobot saat di lampu merah, atau mengambil ruas jalan yang berseberangan. Dampak dari aksi tak tahu aturan itu, akhirnya merugikan banyak orang, seperti kemacetan yang semakin tak terurai, atau bahkan mencelakakan orang.
 
Aksi naik ke trotoar, bisa masuk ke dalam kategori bisa mencelakakan orang lain. Bayangkan anda di atas roda dan mesin motor sementara pejalan kaki menggunakan jalur yang sama. Meski alibinya, 'motor hanya dikendarai pelan-pelan', namun aksi seperti itu jelas tidak pantas karena merampas hak pejalan kaki.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ada beberapa hal, selain aturan lalu-lintas, yang perlu dipikirkan para bikers sebelum memutuskan menunggangi motor di atas trotoar. Bila biker biasanya punya pertimbangan ingin cepat sampai, sebaiknya lima hal ini juga perlu jadi alasan mengapa sebaiknya anda mengurungkan niat naik ke trotoar:
 
Seruan Kepada <i>Bikers</i> Agar Turun dari Trotoar
 
1. Pejalan kaki sudah cukup terjajah

 
Sebagai 'pemilik trotoar' pejalan kaki sering  jadi pihak yang teraniaya. Di Jakarta dan sekitarnya, banyak jalanan yang tak memiliki trotoar. Kalaupun ada, biasanya hanya sebatas penutup selokan yang berlubang-lubang. Belum lagi para pedagang kaki lima mangkal tanpa dosa, sehingga pejalan kaki harus kembali ke aspal jalan raya. Bayangkan betapa berat perjuangan pejalan kaki untuk hanya sekadar menggunakan haknya. Anda tentu tidak ingin-kan, menambah penderitaan pejalan kaki?!
 

Seruan Kepada <i>Bikers</i> Agar Turun dari Trotoar
 
2. Banyak orangtua

 
Banyak pejalan kaki di ibu kota adalah orangtua dan wanita. Anak-anak muda terutama kaum pria biasanya sudah jarang menggunakan trotoar karena umumnya mengandalkan motor sebagai alat mobilitas. Kemampuan refleks orangtua tentu sudah tidak terlalu baik, sehingga keberadaan motor-motor di belakang atau di depan mereka akan membuat frustrasi.
 
3. Menghindari perkelahian
 
Jalanan merupakan tempat yang paling mudah membuat orang stress. Kemacetan dan asap kendaraan, belum lagi cuaca yang panas, bisa membuat orang mudah tersulut emosi. Begitu pun yang dirasakan pejalan kaki.
 
Aksi perkelahian beberapa kali terjadi, antara bikers dan pejalan kaki baik yang sampai heboh di media massa, atau hanya menjadi konsumsi orang-orang di sekitar lokasi kejadian saja.
 
Faktornya, bikers yang sedang frustrasi menembus kemacetan pun mudah gelap mata dan tidak peduli lagi meski dirinya yang salah, sehingga pecahlah perkelahian. Kalau sudah begini, siapa yang rugi? bukannya, polisi sering mengingatkan, 'ingat keluarga menunggu anda di rumah'. Enggak enak kan kalau pulang ke rumah, muka penuh lebam.
 
Seruan Kepada <i>Bikers</i> Agar Turun dari Trotoar
 
4. Memberi contoh buruk

 
Sudah bukan rahasia kalau bikers punya mentalitas grup. Bila satu motor menerobos, motor-motor lain di belakang pun kemungkinan besar akan ikut-ikutan. Maka bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan karena banyak motor berlari di trotoar, secara tak langsung anda lah salah satu biang keroknya.
 
Seruan Kepada <i>Bikers</i> Agar Turun dari Trotoar
 
5. Memupuk mental koruptor

 
Anda tentu sering mengutuk prilaku korupsi. Tetapi, sebaiknya anda harus instropeksi dulu bila masih sering melibas jalur trotoar dengan motor. Terdengar sedikit berlebihan, tapi bila terbiasa melanggar aturan di jalan, terutama merampas hak pejalan kaki, maka disadari atau tidak anda memupuk mental tidak peduli dengan penderitaan orang lain yang haknya anda rampas. Tidak beda kan sama mental koruptor!  
 
Masih banyak alasan lain agar tidak menaikkan motor ke atas trotoar.  Menurut Anda?
 
(FIT)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif