Jakarta: Pengendara motor matik kerap menghadapi situasi macet di jalan menanjak, terutama saat touring ke kawasan pegunungan seperti Puncak. Dalam kondisi tersebut, tidak sedikit pengendara yang refleks menahan tuas rem sambil membuka gas agar motor tidak mundur dan mesin tetap menyala.
Sekilas teknik ini terlihat mirip dengan metode setengah kopling pada motor manual, seperti dikutip dari situs Wahana Honda. Namun, praktik tersebut justru berisiko besar bagi motor matik yang menggunakan sistem transmisi CVT (Continuously Variable Transmission). Kebiasaan menahan rem sambil menarik gas dapat mempercepat kerusakan komponen transmisi.
Secara teknis, saat tuas gas diputar, gaya sentrifugal membuat kampas ganda mengembang dan menekan mangkok kopling untuk menyalurkan tenaga ke roda belakang. Ketika rem ditekan bersamaan dengan gas dibuka, kampas ganda tetap berusaha memutar roda, sementara rem menahannya. Kondisi ini memicu gesekan paksa yang berlebihan antara kampas dan mangkok kopling.
Gesekan terus-menerus tanpa cengkeraman sempurna dapat membuat kampas ganda cepat aus bahkan selip total. Dalam kondisi tertentu, hal ini berpotensi membuat motor meluncur tak terkendali ketika daya cengkeram tiba-tiba hilang.
Baca Juga:
Eksistensi 140 Tahun Mercedes-Benz, Sejarah Mobil Pertama hingga Inovasi EV
Selain itu, gesekan ekstrem tersebut menghasilkan panas tinggi di dalam ruang CVT yang tertutup. Overheat dapat memicu berbagai masalah lanjutan, seperti kampas ganda hangus dan mengeras, mangkok kopling berubah bentuk (peang), hingga kerusakan seal kruk as yang menyebabkan oli mesin merembes ke ruang CVT dan menimbulkan selip parah.
Gejala awal yang sering muncul adalah bau gosong atau bau karet terbakar saat motor berada di tanjakan. Jika kondisi ini diabaikan, dampak jangka panjangnya adalah munculnya gejala 'gredek' saat motor mulai berjalan dari posisi diam. Getaran hebat terjadi akibat permukaan kampas dan mangkok kopling yang tidak lagi rata atau mengalami glazing.
Akibatnya, tenaga motor terasa tertahan dan pengendara perlu membuka gas lebih besar hanya untuk melaju perlahan. Selain menurunkan kenyamanan, kondisi ini juga menandakan perlunya penggantian komponen CVT.
Untuk menghindari risiko tersebut, pengendara disarankan menggunakan teknik pengereman yang tepat di tanjakan, seperti memanfaatkan rem belakang dengan stabil tanpa membuka gas berlebihan, serta memastikan servis CVT dilakukan secara rutin di bengkel resmi agar sistem transmisi tetap dalam kondisi optimal.
Jakarta: Pengendara
motor matik kerap menghadapi situasi macet di jalan menanjak, terutama saat
touring ke kawasan pegunungan seperti Puncak. Dalam kondisi tersebut, tidak sedikit pengendara yang refleks menahan tuas rem sambil membuka gas agar motor tidak mundur dan mesin tetap menyala.
Sekilas teknik ini terlihat mirip dengan metode setengah kopling pada motor manual, seperti dikutip dari situs Wahana Honda. Namun, praktik tersebut justru berisiko besar bagi motor matik yang menggunakan sistem transmisi CVT (Continuously Variable Transmission). Kebiasaan menahan rem sambil menarik gas dapat mempercepat kerusakan komponen transmisi.
Secara teknis, saat tuas gas diputar, gaya sentrifugal membuat kampas ganda mengembang dan menekan mangkok kopling untuk menyalurkan tenaga ke roda belakang. Ketika rem ditekan bersamaan dengan gas dibuka, kampas ganda tetap berusaha memutar roda, sementara rem menahannya. Kondisi ini memicu gesekan paksa yang berlebihan antara kampas dan mangkok kopling.
Gesekan terus-menerus tanpa cengkeraman sempurna dapat membuat kampas ganda cepat aus bahkan selip total. Dalam kondisi tertentu, hal ini berpotensi membuat motor meluncur tak terkendali ketika daya cengkeram tiba-tiba hilang.
Selain itu, gesekan ekstrem tersebut menghasilkan panas tinggi di dalam ruang CVT yang tertutup. Overheat dapat memicu berbagai masalah lanjutan, seperti kampas ganda hangus dan mengeras, mangkok kopling berubah bentuk (peang), hingga kerusakan seal kruk as yang menyebabkan oli mesin merembes ke ruang CVT dan menimbulkan selip parah.
Gejala awal yang sering muncul adalah bau gosong atau bau karet terbakar saat motor berada di tanjakan. Jika kondisi ini diabaikan, dampak jangka panjangnya adalah munculnya gejala 'gredek' saat motor mulai berjalan dari posisi diam. Getaran hebat terjadi akibat permukaan kampas dan mangkok kopling yang tidak lagi rata atau mengalami glazing.
Akibatnya, tenaga motor terasa tertahan dan pengendara perlu membuka gas lebih besar hanya untuk melaju perlahan. Selain menurunkan kenyamanan, kondisi ini juga menandakan perlunya penggantian komponen CVT.
Untuk menghindari risiko tersebut, pengendara disarankan menggunakan teknik pengereman yang tepat di tanjakan, seperti memanfaatkan rem belakang dengan stabil tanpa membuka gas berlebihan, serta memastikan servis CVT dilakukan secara rutin di bengkel resmi agar sistem transmisi tetap dalam kondisi optimal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)