Stunt Riders

Stunt Riders, Lakon Hobi Risiko Tinggi

Ahmad Garuda 18 September 2018 13:11 WIB
tokoh otomotif
Stunt Riders, Lakon Hobi Risiko Tinggi
Pelakon aksi freestyle otomotif, bertaruh dengan risiko tinggi. Reza SS dan Ipin Stunt
Jakarta: Dunia freestyle otomotif atau atraksi menggunakan motor dan mobil yang biasa diperankan serorang stuntman (akrobat), kembali ramai dibicarakan di lini masa setelah aksi keren pembukaan Asian Games 2018 lalu. Namun kami tidak akan mengulas aksi di pembukaan ajang olah raga Asia itu, namun lebih kepada tantangan besar untuk menjadi seorang stunt riders.

Kami mengobrol dengan beberapa stunt rider lokal yang memulai karirnya dari keisengan dan suka dengan sesuatu yang berbeda. Mereka adalah Reza SS dan Arifin. Keduanya merupakan stunt rider lokal yang namanya sudah cukup dikenal.

Keduanya bercerita tentang tantangan berat yang mereka hadapi untuk menjadi seorang yang wajib pamer skill dan di bayar untuk itu di acara-acara khusus membutuhkan keramaian. Bahwa untuk menjadi seorang stunt rider, prosesnya cukup panjang.

"Bagi saya, ini awalnya hanya hobi saja. Tapi ternyata setelah melakoninya dengan konsisten, ternyata cukup menghasilkan juga. Meski tak mudah juga karena harus dilakoni setiap hari dengan latihan yang keras. Apalagi kalau lihat trik yang ada di video, pas dicoba dan bisa itu bikin puas," ujar Reza.


Stuntrider berbadan gempal ini menceritakan awal karirnya menjadi seorang freestyler motor pada 2005 dengan motor alakadarnya. Tapi setelah tahu setting motor untuk digunakan freestyle, mulailah Ia melakukan beberapa ubahan di motor dan disesuaikan dengan gaya.

"Tapi ya manajemen risikonya memang harus matang. Kecelakaan seperti terjatuh dari motor, motor rusak sampai ditangkap polisi dan ditilang karena melanggar lalu lintas, itu sudah jadi bagian dari perjalanan menjadi seorang stuntrider."

Tak berbeda jauh dengan Reza, Arifin yang akrab disapa dengan Ipin, juga mengalami perjalanan yang cukup panjang untuk hobinya itu. Ia bahkan mengakui sudah merusak banyak motor untuk melakukan aksi-aksi ekstrimnya itu.

"Awalnya ditawari untuk jadi freestyler di sebuah acara TV. Pas baru sebulan beli motor, langsung dipakai dan jatuh. Sampai akhirnya punya niat memecahkan rekor muri untuk aksi long stoppie," ujar Ipin.

Ia juga menceritakan pengalamannya patah tulang dan belum sembuh Ia nekat mencoba gaya baru dan akhrinya patah lagi. Tentu pengorbanan ini yang membuat mereka semakin penasaran dengan aksi-aksinya.

Jadi jika Anda beranggapan bahwa aksi-aksi stuntman itu tidak berbahaya, seperitnya harus melakukan uji coba kecil-kecilan terlebih dahulu.



(UDA)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id