Jakarta: BYD dikabarkan mulai melakukan penyebaran besar-besaran infrastruktur Megawatt Flash Charging Piles. Teknologi pengisian daya ini diklaim mampu memangkas waktu pengisian baterai kendaraan listrik hingga mendekati durasi pengisian bahan bakar kendaraan konvensional.
Berbeda dengan solusi ultra-fast charging pada umumnya, Megawatt Flash Charging milik BYD hadir dengan desain khas berbentuk huruf “T” dan balutan warna biru mencolok.
Salah satu inovasi utamanya adalah penggunaan dua kabel pengisian yang digantung di sisi kiri dan kanan, seperti dikutip dari Carnewschina. Desain ini diklaim mengatasi persoalan kabel yang terlalu pendek atau kerap menyentuh tanah. Struktur katrol gantung juga berfungsi mengurangi beban kabel sehingga lebih mudah digunakan.
Berdasarkan pernyataan resmi perusahaan, sistem ini disebut sebagai terminal pengisian daya megawatt full liquid-cooled pertama di dunia yang diproduksi massal untuk mobil penumpang.
Baca Juga:
Yamaha Racing Indonesia Umbar Skuad Balap untuk Musim 2026
Spesifikasinya ditandai dengan tiga indikator utama, yakni tegangan 1000V, arus 1000A, dan daya 1000kW. Bahkan, sistem ini memiliki output puncak hingga 1.360 kW.
Dengan kemampuan tersebut, BYD mengklaim kecepatan pengisian setara “1 detik untuk 2 kilometer”, atau sekitar 400 km jarak tempuh dapat ditambahkan hanya dalam waktu lima menit.
Untuk menjaga kestabilan saat pengisian berdaya tinggi, kabel charging gun dan terminal dilengkapi teknologi pendingin cair (liquid cooling). Sistem ini dirancang untuk mencegah panas berlebih saat arus tinggi mengalir.
Megawatt Flash Charging juga mengusung teknologi dual-gun charging. Sistem ini memungkinkan satu kabel digunakan secara independen atau dua kabel digunakan secara paralel untuk meningkatkan daya pengisian.
Baca Juga:
New Pajero Sport, SUV Ladder Frame Ampuh di Trek Offroad, Nyaman di Perkotaan
Selain itu, perangkat ini memiliki fitur peak shaving dan valley filling. Fitur tersebut memungkinkan penyimpanan energi saat beban listrik rendah (off-peak) dan menyalurkannya kembali saat periode permintaan tinggi. Strategi ini bertujuan mengurangi tekanan pada jaringan listrik sekaligus menjaga output tinggi 1MW secara stabil.
Jakarta: BYD dikabarkan mulai melakukan penyebaran besar-besaran infrastruktur Megawatt
Flash Charging Piles. Teknologi pengisian daya ini diklaim mampu memangkas waktu pengisian baterai
kendaraan listrik hingga mendekati durasi pengisian bahan bakar kendaraan konvensional.
Berbeda dengan solusi ultra-fast charging pada umumnya, Megawatt Flash Charging milik BYD hadir dengan desain khas berbentuk huruf “T” dan balutan warna biru mencolok.
Salah satu inovasi utamanya adalah penggunaan dua kabel pengisian yang digantung di sisi kiri dan kanan, seperti dikutip dari Carnewschina. Desain ini diklaim mengatasi persoalan kabel yang terlalu pendek atau kerap menyentuh tanah. Struktur katrol gantung juga berfungsi mengurangi beban kabel sehingga lebih mudah digunakan.
Berdasarkan pernyataan resmi perusahaan, sistem ini disebut sebagai terminal pengisian daya megawatt full liquid-cooled pertama di dunia yang diproduksi massal untuk mobil penumpang.
Spesifikasinya ditandai dengan tiga indikator utama, yakni tegangan 1000V, arus 1000A, dan daya 1000kW. Bahkan, sistem ini memiliki output puncak hingga 1.360 kW.
Dengan kemampuan tersebut, BYD mengklaim kecepatan pengisian setara “1 detik untuk 2 kilometer”, atau sekitar 400 km jarak tempuh dapat ditambahkan hanya dalam waktu lima menit.
Untuk menjaga kestabilan saat pengisian berdaya tinggi, kabel charging gun dan terminal dilengkapi teknologi pendingin cair (liquid cooling). Sistem ini dirancang untuk mencegah panas berlebih saat arus tinggi mengalir.
Megawatt Flash Charging juga mengusung teknologi dual-gun charging. Sistem ini memungkinkan satu kabel digunakan secara independen atau dua kabel digunakan secara paralel untuk meningkatkan daya pengisian.
Selain itu, perangkat ini memiliki fitur peak shaving dan valley filling. Fitur tersebut memungkinkan penyimpanan energi saat beban listrik rendah (off-peak) dan menyalurkannya kembali saat periode permintaan tinggi. Strategi ini bertujuan mengurangi tekanan pada jaringan listrik sekaligus menjaga output tinggi 1MW secara stabil.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)