Booth BYD di GIIAS 2025. BYD
Booth BYD di GIIAS 2025. BYD

Kolaborasi APM dan Regulator Adopsi EV Hadapi Lonjakan Harga Minyak Dunia

Ekawan Raharja • 23 April 2026 10:00
Ringkasnya gini..
  • Lonjakan harga minyak global dorong minat EV di Indonesia, didukung potensi pasar besar dan klaim jarak tempuh makin jauh.
  • Porsi BEV naik signifikan hingga 15,6% pada 2026, sementara mobil ICE terus turun, menandai pergeseran pasar otomotif.
  • Pemerintah dan APM seperti BYD perkuat ekosistem EV, dorong insentif dan pengembangan industri menuju target emisi nol.
DKI Jakarta: Kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) semakin 'naik daun' di Tanah Air. Terlebih di tengah memanasnya suhu Geopolitik di kawasan Timur Tengah saat ini, yang membuat bayang-bayang krisis harga bahan bakar minyak di sejumlah negara semakin menguat. 
 
Indonesia sendiri telah menjadi pasar EV yang sangat potensial, sejak beberapa tahun belakangan. Mengacu dari apa yang dikatakan Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Setia Diarta, perbandingan pengguna mobil di Indonesia masih 90 : 1000 orang.
 
Apalagi ketika Pemerintah menerapkan kebijakan insentif untuk EV. Kendati seiring waktu berjalan, Pemerintah tidak lagi memberlakukan kebijakan tersebut. 

Walaupun sempat terlontar pernyataan dari Petinggi Negara, bahwa kendaraan listrik, baik roda empat maupun roda dua, hendaknya menjadi pilihan masyarakat di masa mendatang.

Baca Juga:
Daftar Motor yang Disarankan Pakai BBM RON 98


Ditambah lagi sejumlah merek mengklaim produknya memiliki jarak tempuh EV makin jauh, bisa mencapai 600 kilometer (km) saat baterai terisi penuh. Bahkan ada yang bisa mencapai 1000 km. Ini bisa mengurangi kecemasan jarak (range anxiety), yang biasanya dialami pengguna EV.

Ledakan EV Menekan Kontribusi Mobil ICE di Pasar

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), porsi ICE melorot dari 99,6% pada 2021 menjadi 78,2% pada 2025. 
 
Sebaliknya, porsi battery electric vehicle (BEV) melejit dari 0,1% menjadi 12,9% pada akhir 2025. Per Maret 2026, porsi BEV naik lagi menjadi 15,6%, sedangkan ICE melorot menjadi 75%.
 
Pada periode ini, penjualan BEV melonjak 96% menjadi 33.146 unit dari 16.926 unit, melampaui pertumbuhan industri yang hanya 1,7%. Adapun penjualan mobil ICE malah ambles dari 174.776 unit menjadi 156.684 unit. Hingga akhir 2026, porsi BEV diprediksi melambung menjadi berkisar 19-20%.
 
Pemerintah juga bisa memberikan ruang lebih besar ke plug in hybrid electric vehicle (PHEV). Mobil jenis ini bisa menjadi jembatan solid transisi dari mobil ICE ke EV. 

Baca Juga:
Berapa Lama Baterai Mobil Listrik Awet Dipakai?


Mode listrik murni PHEV bisa digunakan di pemakaian dalam kota, sehingga sama seperti BEV. Mobil ini juga bisa dipakai untuk jarak jauh, karena memiliki mesin pembakaran internal.
 
Artinya, PHEV cocok di Indonesia untuk menjawab ketimpangan infrastruktur di Jawa dan luar Jawa. Pemilik PHEV tidak perlu mengkhawatirkan keberadaan SPKLU, karena mobil tetap bisa digeber saat baterai habis. 
 
Atas dasar itu, PHEV layak diberi tambahan insentif. Saat ini, PHEV hanya mendapatkan keringanan pajak barang mewah.

Peran Pemerintah Selaku Regulator

Menilik sisi regulator, Kemenperin memperkuat regulasi mendukung pencapaian target net zero emission (NZE). Antara lain melalui kebijakan pengembangan kendaraan rendah emisi karbon, roadmap tingkat komponen dalam negeri (TKDN) kendaraan listrik berbasis baterai (KLBB), serta pengaturan insentif industri.
 
Hal ini mencuat dalam diskusi bertajuk ‘Lonjakan Harga Minyak Dunia, Momentum Genjot Adopsi Electric Vehicle’ yang diselenggarakan Forum Wartawan Industri (Forwin) di Jakarta, Rabu (22/4).
 
Setia Diarta menuturkan, Kemenperin terus mendorong percepatan pengembangan ekosistem industri KBLBB nasional sebagai bagian dari transformasi industri menuju ekonomi hijau dan penguatan daya saing manufaktur nasional. 

Baca Juga:
Berlaku Nasional, Kini Bisa Perpanjang STNK Tanpa KTP Pemilik Lama


Sebab, menurutnya industri otomotif merupakan salah satu sektor strategis yang memiliki dampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. 
 
“Karena itu, transformasi menuju kendaraan listrik harus dipastikan berjalan baik dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi industri dalam negeri,” ujarnya.
 
Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara menuturkan, dalam satu dekade, terjadi transformasi besar di industri otomotif Indonesia, dari hanya satu powertrain, dalam hal ini ICE, menjadi multi-powertrain. 
 
Kata Kukuh, dominasi ICE di pasar mobil domestik terkikis, menandakan telah terjadi perubahan struktural di pasar. 
 
“Buktinya, penjualan mobil bermesin konvensional terus menurun. Sebaliknya, mobil elektrifikasi meningkat,” tukasnya.
 
Dia mencatat, BEV saat ini menjadi primadona di Indonesia, dengan porsi 15,9% per Maret 2026. Mobil jenis ini kini menjadi mesin pertumbuhan baru industri otomotif. BEV, kata dia, bahkan sudah melampaui HEV yang porsinya hanya 8,1%.
 
“Pertanyaannya sekarang bukan lagi soal apakah disrupsi BEV terus berlanjut, melainkan apakah ICE akan kena elektrifikasi juga?” kata dia.
 
Kukuh juga menilai, PHEV potensial dikembangkan. Sekarang tinggal mempertimbangkan, apakah PHEV layak diberi tambahan insentif. Saat ini, PHEV hanya mendapat keringanan pajak penjualan barang mewah (PPnBM), tidak seperti BEV yang tarif PPnBM-nya 0%.

Komitmen Merek BYD di Market Indonesia

Sementara itu, Head of PR & Government BYD Indonesia, Luther T Panjaitan menegaskan, visi BYD dan Indonesia selaras, yakni sama-sama ingin mereduksi emisi karbon. Itu sebabnya, BYD berkomitmen membangun ekosistem EV di Indonesia dengan memasok rangkaian produk, jaringan penjualan, hingga pabrik.
 
“Bisnis kami di Indonesia berbasis industri. Kami ingin bangun value chain. Dari sisi jaringan, kami kini memiliki 84 dealer di 48 kota,” tegas dia.
 
Dia menuturkan, penjualan BYD naik 65% per Maret 2026 dengan pangsa pasar 41%, tertinggi di Indonesia. Ini sejalan dengan tren global, di mana BYD merajai pasar EV selama empat tahun beruntun.
 
Hal itu, kata dia, tak lepas dari dukungan pemerintah. BYD juga menyediakan produk yang sesuai selera pasar, baik secara fungsi maupun harga, seperti Atto 1 dan M6. Intinya, produk BYD berorientasi keluarga dan terpercaya dengan jarak tempuh memadai.
 
“Ke depan BYD pastinya akan terus memboyong teknologi terbaru di EV ke Indonesia, termasuk platform-platform terbaru,” pungkasnya. (Autogear.id/Alun Segoro)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan