DKI Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat saat ini sedang melemah. Kondisi ini tentu memantik respon dari berbagai pihak, termasuk Hyundai yang berbisnis di Tanah Air.
Pantauan per Jumat (15-5-2026), nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat sudah tembus Rp17.600. Chief Operating Officer Hyundai Motor Indonesia, Fransiscus Soerjopranoto, mengakui kondisi ini berpengaruh terhadap industri otomotif secara keseluruhan.
“Sebenarnya kalau yang kita lihat, kalau misalnya rupiahnya itu terus melemah. Sekarang kan sudah di angka level 17.500. Secara otomatis kalau kita tahu secara hukum ekonomi kan pastinya bunga akan naik,” ujar pria yang akrab disapa Soerjo di Senayan Jakarta Pusat pada Rabu (13/5/2026).
Dia juga melihat kinerja pemerintah dalam upaya tetap menjaga roda perekonomian. Salah satu yang disorotnya adalah mempertahankan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI-Rate di level 4,75%.
Baca Juga: Fitur EPB dan Hill Hold Control untuk Hadapi Macet di Tanjakan
“Tapi sampai saat ini kan yang kita lihat walaupun yang namanya tadi nilai tukar uang melemah, tapi kan bunga masih tetap dipatok 4.75 yang BI-Rate,” kata dia.
Langkah ini penting untuk menjaga daya beli masyarakat. Khususnya menjaga sektor pembiayaan kendaraan bermotor di Indonesia.
“Jadi kita lihat pemerintah juga berusaha untuk menahan supaya ekonomi terus berputar,” ujarnya.
“Usaha-usaha itu kita apresiasi sebagai salah satu pelaku industri di bidang otomotif. Dan mudah-mudahan kita bisa survive di tahun ini,” kata dia.
DKI Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat saat ini sedang melemah. Kondisi ini tentu memantik respon dari berbagai pihak, termasuk
Hyundai yang berbisnis di Tanah Air.
Pantauan per Jumat (15-5-2026), nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat sudah tembus Rp17.600. Chief Operating Officer Hyundai Motor Indonesia, Fransiscus Soerjopranoto, mengakui kondisi ini berpengaruh terhadap industri otomotif secara keseluruhan.
“Sebenarnya kalau yang kita lihat, kalau misalnya rupiahnya itu terus melemah. Sekarang kan sudah di angka level 17.500. Secara otomatis kalau kita tahu secara hukum ekonomi kan pastinya bunga akan naik,” ujar pria yang akrab disapa Soerjo di Senayan Jakarta Pusat pada Rabu (13/5/2026).
Dia juga melihat kinerja pemerintah dalam upaya tetap menjaga roda perekonomian. Salah satu yang disorotnya adalah mempertahankan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI-Rate di level 4,75%.
Baca Juga:
Fitur EPB dan Hill Hold Control untuk Hadapi Macet di Tanjakan
“Tapi sampai saat ini kan yang kita lihat walaupun yang namanya tadi nilai tukar uang melemah, tapi kan bunga masih tetap dipatok 4.75 yang BI-Rate,” kata dia.
Langkah ini penting untuk menjaga daya beli masyarakat. Khususnya menjaga sektor pembiayaan kendaraan bermotor di Indonesia.
“Jadi kita lihat pemerintah juga berusaha untuk menahan supaya ekonomi terus berputar,” ujarnya.
“Usaha-usaha itu kita apresiasi sebagai salah satu pelaku industri di bidang otomotif. Dan mudah-mudahan kita bisa survive di tahun ini,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)