Pembatasan penggunaan solar bersubsidi untuk mobil diesel, kini ada aturan konsumsinya. Ilustrasi. MI/Atet Dwi
Pembatasan penggunaan solar bersubsidi untuk mobil diesel, kini ada aturan konsumsinya. Ilustrasi. MI/Atet Dwi

Daftar Kendaraan dan Batasan Pemakaian Solar Bersubsidi

Otomotif industri otomotif Solar
M. Bagus Rachmanto • 20 September 2019 10:01
Jakarta: PT Pertamina (Persero) memperkirakan konsumsi BBM solar bersubsidi hingga akhir tahun tidak akan jauh berbeda pada tahun lalu yakni 14,5 juta kiloliter (kl). Sedangkan kuota subsidi solar tahun ini mencapai 15,62 juta kl. Artinya hingga akhir tahun diperkirakan konsumsi akan mencapai 64 persen dari target.
 
Untuk mengantisipasi potensi kelebihan kuota konsumsi BBM jenis Solar yang disubsidi, pemerintah melalui Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mengupayakan berbagai cara. Salah satunya melarang beberapa kendaraan untuk menggunakan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi sejak 1 Agustus lalu.
 
Kepala BPH Migas M Fansrullah Asa mengatakan, hingga akhir tahun ini konsumsi Solar diprediksi mengalami pembengkakan sebesar 800 ribu hingga 1,4 juta KL. Bersama TNI, Polri dan Badan Intelijen Nasional (BIN) akan melakukan pengawasan di wilayah-wilayah yang patut diduga terjadi penyimpangan. Dia bilang utamanya di daerah pertambangan dan perkebunan yang diduga terjadi penimbunan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Jenis BBM tertentu (Solar) diprediksi over kuota. Kami sepakat melalui sidang komite BPH Migas untuk melaksanakan pengendalian ini," kata Ifan di kantor pusat BPH Migas, Jakarta Selatan, Kamis (22/9/2019), beberapa waktu lalu.
 
Basarkan hasil pengawasan BPH Migas, diduga adanya ketidakpatuhan dalam penyaluran Solar. Oleh karenanya BPH Migas mengeluarkan surat edaran mengenai pengendalian kuota Solar.
 
Pertama, kendaraan bermotor untuk pengangkutan hasil perkebunan, kehutanan dan pertambangan dengan jumiah roda lebih dari enam buah, dalam kondisi bermuatan ataupun tidak bermuatan dilarang untuk menggunakan Solar.
 
Kedua, larangan penggunaan Solar tersebut juga berlaku untuk kendaraan bermotor dengan tanda nomor kendaraan atau pelat berwarna dasar merah, mobil TNI/Polri, sarana transportasi air milik pemerintah. Ketiga, mobil tangki BBM, Crude Palm Oil (CPO), dump truck, truck trailer, truk gandeng dan mobil molen atau pengaduk semen juga dilarang meminum Solar.
 
Daftar Kendaraan dan Batasan Pemakaian Solar Bersubsidi
 
Keempat PT Pertamina (Persero) sebagai pihak penyalur juga dilarang melayani pembelian Solar untuk konsumen pengguna usaha mikro, usaha perikanan, usaha pertanian, transportasi air yang menggunakan motor tempel dan pelayanan umum tanpa menggunakan surat rekomendasi dari instansi berwenang.
 
Kelima, BPH Migas juga mengatur maksimal pembelian Solar untuk angkutan barang roda empatsebanyak 30 liter per kendaraan per hari, roda enam atau lebih sebanyak 60 liter per kendaraan per hdwi dan kendaraan pribadi sebanyak 20 liter per kendaraan per hari.
 
Keenam, Pertamina perlu mengatur titik lokasi stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang mendistribusikan Solar subsidi dengan mempertimbangkan sebaran konsumen pengguna termasuk pengaturan alokasi ke masing-masing SPBU.
 
Ketujuh Pertamina wajib menyediakan BBM nonsubsidi (Pertamina Dex dan Dexlite) untuk mengantisipasi terjadinya antrean di SPBU. Delapan BPH Migas mminta Pertamina untuk berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah TNI dan Polri untuk ikut mengawasi penyaluran Solar subsidi. Sembilan, hal-hal lain yang telah menjadi ketentuan dalam Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014 tetap berlaku.
 
Data Pertamina pada Juli tercatat realisasi konsumsi solar mencapai sembilan juta kl dan elpiji 3 kg sebesar 6,62 juta metrik ton. Sementara untuk konsumsi premium sebesar 5,8 juta kl, perta series 13,6 juta kl, stet kerosin 0,31 juta kl.
 

(UDA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif