Malang: Pemerintah segera memasarkan bahan bakar minyak (BBM) jenis biodiesel B50. Bahan bakar ini ditujukan untuk kendaraan bermesin diesel, baik kendaraan niaga maupun kendaraan penumpang, dengan campuran Fatty Acid Methyl Ester (FAME).
B50 merupakan pengembangan dari program mandatori biodiesel yang sebelumnya telah diterapkan pemerintah, mulai dari B35 hingga B40. Perbedaan utamanya terletak pada peningkatan porsi bahan bakar nabati dalam campuran biodiesel.
Profesor di bidang Energi Baru Terbarukan Biofuels Universitas Brawijaya, Prof. Ir. Nurkholis Hamidi, S.T., M.Eng., Dr.Eng., menjelaskan B50 merupakan campuran 50 persen biodiesel yang umumnya berbahan baku FAME dari minyak sawit dengan 50 persen solar berbasis bahan bakar fosil.
“Biodiesel itu bahan bakar alternatif yang renewable, diproduksi dari minyak nabati seperti minyak sawit. Ini bisa mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil,” ujar Nurkholis dikutip dari situs prasetya.ub.ac.id.
Baca Juga:
Mobil Bekas Sekelas Toyota Alphard
Menurutnya, biodiesel memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan solar konvensional. Salah satu keunggulannya adalah kandungan oksigen yang lebih tinggi sehingga dapat membantu proses pembakaran di dalam mesin menjadi lebih baik.
Namun, biodiesel juga memiliki tingkat kekentalan atau viskositas yang lebih tinggi dibandingkan solar. Kondisi tersebut membuat proses penyemprotan atau atomisasi bahan bakar di ruang bakar berpotensi tidak seoptimal solar apabila sistem injeksi mesin belum disesuaikan.
Apabila proses atomisasi kurang optimal, kualitas pembakaran dapat menurun sehingga berpotensi memengaruhi performa mesin maupun efisiensi bahan bakar pada kendaraan diesel tertentu.
Meski demikian, Nurkholis menilai pengembangan biodiesel memiliki prospek yang sangat baik, khususnya bagi Indonesia yang memiliki sumber daya minyak nabati melimpah sebagai bahan baku utama.
Pemanfaatan biodiesel juga menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan penggunaan energi baru terbarukan (EBT), mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional melalui pemanfaatan sumber daya dalam negeri.
Malang: Pemerintah segera memasarkan bahan bakar minyak (BBM) jenis
biodiesel B50. Bahan bakar ini ditujukan untuk kendaraan bermesin diesel, baik kendaraan niaga maupun kendaraan penumpang, dengan campuran Fatty Acid Methyl Ester (FAME).
B50 merupakan pengembangan dari program mandatori biodiesel yang sebelumnya telah diterapkan pemerintah, mulai dari B35 hingga B40. Perbedaan utamanya terletak pada peningkatan porsi bahan bakar nabati dalam campuran biodiesel.
Profesor di bidang Energi Baru Terbarukan Biofuels Universitas Brawijaya, Prof. Ir. Nurkholis Hamidi, S.T., M.Eng., Dr.Eng., menjelaskan B50 merupakan campuran 50 persen biodiesel yang umumnya berbahan baku FAME dari minyak sawit dengan 50 persen solar berbasis bahan bakar fosil.
“Biodiesel itu bahan bakar alternatif yang renewable, diproduksi dari minyak nabati seperti minyak sawit. Ini bisa mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil,” ujar Nurkholis dikutip dari situs prasetya.ub.ac.id.
Menurutnya, biodiesel memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan solar konvensional. Salah satu keunggulannya adalah kandungan oksigen yang lebih tinggi sehingga dapat membantu proses pembakaran di dalam mesin menjadi lebih baik.
Namun, biodiesel juga memiliki tingkat kekentalan atau viskositas yang lebih tinggi dibandingkan solar. Kondisi tersebut membuat proses penyemprotan atau atomisasi bahan bakar di ruang bakar berpotensi tidak seoptimal solar apabila sistem injeksi mesin belum disesuaikan.
Apabila proses atomisasi kurang optimal, kualitas pembakaran dapat menurun sehingga berpotensi memengaruhi performa mesin maupun efisiensi bahan bakar pada kendaraan diesel tertentu.
Meski demikian, Nurkholis menilai pengembangan biodiesel memiliki prospek yang sangat baik, khususnya bagi Indonesia yang memiliki sumber daya minyak nabati melimpah sebagai bahan baku utama.
Pemanfaatan biodiesel juga menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan penggunaan energi baru terbarukan (EBT), mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional melalui pemanfaatan sumber daya dalam negeri.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda(UDA)