Tangki penyimpanan BBM. Kementerian ESDM
Tangki penyimpanan BBM. Kementerian ESDM

Menteri ESDM Targetkan Stok BBM di Indonesia Bisa Sampai 90 Hari

Ekawan Raharja • 04 Maret 2026 13:39
Ringkasnya gini..
  • Menteri ESDM targetkan storage BBM naik dari 25–26 hari menjadi 90 hari atau tiga bulan.
  • Pembangunan direncanakan mulai 2026 di Sumatera, studi kelayakan tengah berjalan.
  • Isu ketahanan energi menguat di tengah konflik Timur Tengah dan potensi gangguan Selat Hormuz.
Jakarta: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan pemerintah akan menambah kapasitas penyimpanan (storage) bahan bakar minyak (BBM) nasional dari 25–26 hari menjadi 90 hari atau setara tiga bulan.
 
“Faktanya, ketahanan energi kita, storage kita itu maksimal di angka 25–26 hari, nggak lebih dari itu,” ucap Bahlil dikutip dari Antara.
 
Pernyataan ini muncul setelah perbandingan ketahanan energi Indonesia dengan Jepang. Saat ini, stok BBM Indonesia bertahan kurang dari 30 hari, sementara Jepang memiliki cadangan hingga 254 hari.

Menurut Bahlil, keterbatasan kapasitas penyimpanan menjadi penyebab utama rendahnya ketahanan energi nasional. “Sekarang, kalau kita impor sebanyak itu (Jepang), kita mau taruh (BBM) di mana? Itu permasalahan kita,” ucapnya.

Baca Juga:
Disambut Tari Kecak, Pembalap Honda MotoGP Menari Bareng


Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah tengah menyusun studi kelayakan (feasibility study) pembangunan storage baru dengan target kapasitas hingga 90 hari, agar mendekati standar internasional. Pembangunan ditargetkan mulai pada 2026 dan direncanakan berlokasi di Sumatera.

Stok BBM dan LPG Diklaim Aman

Meski kapasitas storage dinilai masih terbatas, Bahlil memastikan stok energi nasional saat ini berada di atas standar minimum ketahanan nasional yang dipatok pemerintah, yakni 23 hari.
 
“Jadi, menyangkut dengan persiapan hari raya Idulfitri, bulan puasa, alhamdulillah saya menyampaikan bahwa stok BBM, crude, LPG, itu semua rata-rata di atas standar minimum nasional,” ucap Bahlil.
 
Stok yang dimaksud mencakup minyak mentah (crude), BBM, dan LPG.

Dampak Konflik Timur Tengah dan Selat Hormuz

Isu ketahanan energi menjadi sorotan di tengah konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran. Pada Sabtu (28/2), AS dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk Teheran. Iran kemudian membalas dengan serangan rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.

Baca Juga:
Pentingnya Dashcam 3 Channel untuk Kawal Perjalanan Mudik Aman


Pada Minggu (1/3), Presiden AS Donald Trump mengklaim pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan AS-Israel. Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi kematian Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan tersebut.
 
Media Iran juga melaporkan bahwa Selat Hormuz telah “secara efektif” ditutup, meski belum ada pengumuman resmi mengenai blokade formal.
 
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia dan volume besar ekspor gas alam cair dari Qatar serta Uni Emirat Arab. Sekitar 20 persen konsumsi minyak harian global, atau sekitar 20 juta barel per hari, melintasi koridor tersebut.
 
Jika gangguan distribusi terjadi, dampaknya berpotensi memengaruhi pasokan dan harga energi global, termasuk Indonesia sebagai negara pengimpor minyak.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan