DKI Jakarta: Perkembangan kendaraan listrik di China diproyeksikan akan memasuki fase dominasi penuh dalam dua dekade ke depan. Hal ini disampaikan oleh Profesor Ouyang Minggao dari Tsinghua University dalam ajang Intelligent Electric Vehicle Development Forum yang digelar di Beijing pada 11–12 April 2026.
Ouyang menyampaikan kendaraan plug-in hybrid (PHEV) dan extended-range electric vehicle (EREV) mulai memasuki fase penurunan, seiring meningkatnya efisiensi kendaraan listrik murni (battery electric vehicle/BEV).
“Ini berarti penggerak listrik murni akan sepenuhnya mengakhiri perdebatan jalur teknologi dan menempati posisi dominan absolut, serta membawa industri otomotif China menyelesaikan lompatan dari ‘besar’ menjadi ‘kuat’,” ujar Ouyang dikutip dari Carsnewschina.
Efisiensi Jadi Kunci Dominasi
Ouyang menekankan kendaraan listrik murni memiliki keunggulan efisiensi yang signifikan dalam memanfaatkan energi hijau. Ia menyebut efisiensi BEV dua kali lebih tinggi dibanding kendaraan hidrogen, dan empat kali lebih tinggi dibanding mesin pembakaran berbahan bakar sintetis.
Baca Juga:
Berubah Signifikan, Begini Wujud Baru Toyota Yaris Cross
Keunggulan ini dinilai menjadi faktor utama yang akan mempercepat penurunan popularitas PHEV dan EREV di pasar.
Proyeksi Pangsa Pasar
Dalam proyeksinya, Ouyang memaparkan roadmap agresif perkembangan kendaraan energi baru di China:
2030: Pangsa pasar kendaraan energi baru >70%, dengan rasio BEV:PHEV sebesar 7:3
2035: Pangsa pasar >80%, rasio meningkat menjadi 8:2
2040: Pangsa pasar tetap >80%, dengan dominasi BEV mencapai rasio 9:1
Catatan untuk Baterai Solid-State
Di tengah tingginya ekspektasi terhadap baterai solid-state, Ouyang mengingatkan agar industri tidak terburu-buru dalam komersialisasi. Ia menilai teknologi ini masih menghadapi tantangan ilmiah, terutama terkait stabilitas kimia, mekanik, dan termal akibat reaksi antarmuka.
Ia memperkirakan baterai solid-state dengan kepadatan energi 300 Wh/kg baru akan muncul menjelang 2030. Oleh karena itu, produsen diminta tidak menjadikan teknologi ini sekadar alat pemasaran.
Baca Juga:
MINI 1965 Victory Edition, Produksi Terbatas 16 Unit di Indonesia
Saat ini, China mencatat kemajuan signifikan dengan kontribusi 44% dari total paten global terkait teknologi ini. Kapasitas produksi elektrolit sulfida juga telah melampaui 20.000 ton, dengan harga turun drastis dari 20 juta yuan menjadi di bawah 1 juta yuan per ton.
Evolusi Keamanan Baterai
Ouyang juga menyoroti perkembangan standar keamanan baterai di China, yang mencakup beberapa tonggak penting:
2014: Pelarangan baterai ternary pada bus oleh regulator karena isu keselamatan
2020: BYD memperkenalkan baterai blade berbasis lithium iron phosphate (LFP)
Mendatang: Standar baru yang mewajibkan baterai tidak mudah terbakar atau meledak
DKI Jakarta: Perkembangan
kendaraan listrik di China diproyeksikan akan memasuki fase dominasi penuh dalam dua dekade ke depan. Hal ini disampaikan oleh Profesor Ouyang Minggao dari Tsinghua University dalam ajang Intelligent
Electric Vehicle Development Forum yang digelar di Beijing pada 11–12 April 2026.
Ouyang menyampaikan kendaraan plug-in hybrid (PHEV) dan extended-range electric vehicle (EREV) mulai memasuki fase penurunan, seiring meningkatnya efisiensi kendaraan listrik murni (battery electric vehicle/BEV).
“Ini berarti penggerak listrik murni akan sepenuhnya mengakhiri perdebatan jalur teknologi dan menempati posisi dominan absolut, serta membawa industri otomotif China menyelesaikan lompatan dari ‘besar’ menjadi ‘kuat’,” ujar Ouyang dikutip dari Carsnewschina.
Efisiensi Jadi Kunci Dominasi
Ouyang menekankan kendaraan listrik murni memiliki keunggulan efisiensi yang signifikan dalam memanfaatkan energi hijau. Ia menyebut efisiensi BEV dua kali lebih tinggi dibanding kendaraan hidrogen, dan empat kali lebih tinggi dibanding mesin pembakaran berbahan bakar sintetis.
Keunggulan ini dinilai menjadi faktor utama yang akan mempercepat penurunan popularitas PHEV dan EREV di pasar.
Proyeksi Pangsa Pasar
Dalam proyeksinya, Ouyang memaparkan roadmap agresif perkembangan kendaraan energi baru di China:
- 2030: Pangsa pasar kendaraan energi baru >70%, dengan rasio BEV:PHEV sebesar 7:3
- 2035: Pangsa pasar >80%, rasio meningkat menjadi 8:2
- 2040: Pangsa pasar tetap >80%, dengan dominasi BEV mencapai rasio 9:1
Catatan untuk Baterai Solid-State
Di tengah tingginya ekspektasi terhadap baterai solid-state, Ouyang mengingatkan agar industri tidak terburu-buru dalam komersialisasi. Ia menilai teknologi ini masih menghadapi tantangan ilmiah, terutama terkait stabilitas kimia, mekanik, dan termal akibat reaksi antarmuka.
Ia memperkirakan baterai solid-state dengan kepadatan energi 300 Wh/kg baru akan muncul menjelang 2030. Oleh karena itu, produsen diminta tidak menjadikan teknologi ini sekadar alat pemasaran.
Saat ini, China mencatat kemajuan signifikan dengan kontribusi 44% dari total paten global terkait teknologi ini. Kapasitas produksi elektrolit sulfida juga telah melampaui 20.000 ton, dengan harga turun drastis dari 20 juta yuan menjadi di bawah 1 juta yuan per ton.
Evolusi Keamanan Baterai
Ouyang juga menyoroti perkembangan standar keamanan baterai di China, yang mencakup beberapa tonggak penting:
- 2014: Pelarangan baterai ternary pada bus oleh regulator karena isu keselamatan
- 2020: BYD memperkenalkan baterai blade berbasis lithium iron phosphate (LFP)
- Mendatang: Standar baru yang mewajibkan baterai tidak mudah terbakar atau meledak
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)