Kupas 'Sensasi Eropa' di DFSK Glory 580
Merasakan sensasi Eropa di DFSK Glory 580. DFSK
Bandung: Jujur, ekspektasi saya terhadap sensasi berkendara ala DFSK Glory 580, tidak begitu besar. Mengingat mobil ini mengadopsi teknologi hasil riset brand Dong Feng Sokon yang merupakan brand asal Tiongkok. Namun klaim soal sensasi mobil Eropa di mobil bergenre SUV ini, lantas membuatku penasaran. Apa benar seperti itu?

DFSK pun memberikan kesempatan perdana melakukan pengetesan di kawasan pabriknya di Cikande, Serang-Banten pada akhir 2017 lalu. Dari sana, ekspektasi terhadap performa mobil buatan brand ini pun, mulai bergeser. Kerapihan interior, lalu sejumlah fitur pendukung, hingga lonjakan tenaga ketika pedal gas ditekan, mengubah paradigma tentang kemampuan manufaktur merek ini.

Test driver medcom.id yang kebetulan saat itu saya lakukan sendiri, mulai penasaran seperti apa sih 'sensasi Eropa' di mobil ini? Apakah memang semua fitur ala mobil-mobil Eropa bekerja dengan baik dan memang kita butuhkan sebagai orang Indonesia? berikut ulasan kami usai melakukan pengetesan singkat dari Purwakarta ke Bandung.

Ruang Kabin Super Lega
Seperti yang telah terpaparkan di atas, bahwa saya sudah melakukan pengetesan awal, berada di balik kemudi mobil ini pada akhir 2017 lalu. Makanya, ketika ditawari untuk melakukan driving kali ini, saya memilih duduk di kursi baris kedua sebagai penumpang. Impresi awal adalah kabin yang super lega dan memberikan keleluasaan melakukan aktifitas, hingga duduk dengan ragam gaya.


Lantaran mobil ini memiliki sistem penggerak roda depan, ruang kabin terutama lantainya, terlihat rata dari depan ke belakang. Tidak ada undakan untuk menyisakan ruang propeller dan gardan di bagian bawah mobil. Sehingga melahirkan ruang yang begitu luas. Jika jok baris ketiga dan baris kedua dilipat, maka akan membentuk ruang yang sangat besar dan membentuk bidang rata.

Dari posisi duduk penumpang dengan tinggi badan 160 cm ke bawah, batas jendela bawah sejajar dengan posisi mata penumpang. Sehingga jika dilihat dari luar, jok baris tengah terkesan sangat rendah. Tapi untuk mengatakan ini adalah posisi yang buruk, rasanya tidak juga. Lantaran selama ini memang hanya asumsi kita terhadap posisi jok bagian tengah yang sedikit agak tinggi dari posisi jok pengemudi.

Kabin Senyap
Sensasi Eropa yang kedua dan diluar prediksi adalah kesenyapan ruang kabin. DFSK menegaskan bahwa saat meriset mobil ini, terdapat lebih dari 200 titik kendali kebisingan dan getaran (NVH). Hal itu memang terbukti. Kami merasa kebisingan di luar benar-benar tak masuk ke ruang kabin. Sehingga membuat proses berkendara jadi lebih nyaman.

Suspensi
Hal ketiga yang membuat saya terperangah adalah bantingan suspensi mobil sangat ramah untuk penumpang di baris kedua. Tidak ada rasa limbung sehingga pengendalian mobil ini, sesuai ekspektasi penumpangnya. Belum lagi soal sistem peredaman yang sangat baik dari konfigurasi setup suspensi  McPherson Independent di bagian depan dan Torsion Beam di bagian belakang.

Tenaga Besar di Mode Sport
Tiba giliran saya berkendara dan hal paling pertama yang coba saya jajal adalah mode berkendara sport, karena di mode Comfort, tendangan dari komponen turbonya kurang terasa. Tuas transmisi pun saya geser ke sistem semi manual ala DFSK, lalu mulai memainkan pedal gas. Hasilnya, besutan torsi cukup besar untuk karakter mesin 1.500 cc SFG Series yang dibantu turbo. Dari hasil perbandingan data dengan rival langsungnya yaitu Honda CR-V Turbo 1.500 cc, momen puntirnya hanya berbeda 20 Nm (240 Nm milik CR-V dan 220 Nm milik Glory 580).

Masih dari data yang ada, SUV besutan DFSK ini masih unggul di momentum puntir yaitu di RPM 1.800-4.000. Sementara CR-V Turbo berada di angka RPM 2.000-5.000. Tapi secara sensasi, rasanya tidak berbeda jauh.

Namun di bagian ini, saya harus jujur mengakui, jika mobil berada di jalan menanjak dan ingin memanfaatkan momentum start dari torsi besarnya, agak sedikit kecewa. Mengingat ada jeda yang cukup lama ketika pedal gas ditekan dengan tenaga yang sampai ke roda. Ketika melakukan cross check ke test driver lainnya, ternyata Ia juga mengalami masalah yang sama, yaitu jeda tenaga dari mesin ke roda di momentum start.

Fitur-Fitur Mumpuni
Beralih ke sajian fitur-fitur mumpuni, DFSK rupanya cukup royal memberikan ragam fitur menarik. Di antaranya head unit layar sentuh LED berukuran 10 inci (Luxury type). Lalu LED layar sentuh memiliki 8 (delapan) fungsi audio system mulai dari konektivitas bluetooth, USB port, FM/AM Radio, AUX Port, GPS Navigator, reverse camera, video & music player dan koneksi smartphone (Android & IOS) dengan tampilan mirroring.

Lalu fitur super di panel meter cluster seperti tachometer, indikator seat belt, pintu, immobilizer, ECU, suhu eksternal dan transmisi display. Selain itu, juga terdapat indikator tire pressure monitoring system (TPMS) yang memberikan kemudahan bagi pemilik kendaraan untuk memantau kondisi ban dan memberikan ketenangan sepanjang berkendara.

Kemudian auto up/down power windows yang sudah disematkan sensor khusus yang mencegah tangan terjepit ketika kaca jendela hendak dinaikkan. Fitur ini bahkan sudah tersemat di tipe tertinggi Glory 580 transmisi manual dan otomatis.

Fitur yang tak kalah serunya adalah vehicle running recorder yaitu berupa kamera beresolusi tinggi menghadap ke depan yang berada tepat di belakang spion tengah. Kamera mungil ini punya kemampuan merekam perjalanan yang tersimpan di memori sebesar 16 giga bite. Kamera ini mereka sebut juga dengan fitur black box ala pesawat. Mengingat Ia akan bercerita tentang kondisi mobil saat mengalami kecelakaan dan hal-hal tak terduga lainnya.

Detail Butuh Penyempurnaan
Meracik sebuah konsep dan menyelesaikannya dalam gaya yang sempurna, memiliki tingkat kesulitan tinggi. Hal ini juga yang kami temui di Glory 580. Terdapat beberapa detail bodi mobil yang seharusnya bisa dibuat lebih rapi. Di antaranya detail sambungan bodi pilar D yang bisa dibuat lebih rapi. Kemudian penggunaan engsel juga terlihat kurang kokoh. Ini penting, mengingat sebagian besar mobil bergenre SUV menampilkan detail yang kekar dan kokoh.

Sepadankah dengan Harganya?
Untuk menyatakan sepadan atau tidaknya harga Rp308 juta (versi tertinggi saat ini) dengan segala fitur dan ulasan yang kami paparkan di atas, saya berani mengklaim bahwa ini terbilang menggiurkan. Apalagi disandingkan dengan rival langsungnya yaitu Honda CR-V Turbo 1.5 dengan selisih Rp160 jutaan. Namun posisinya sebagai pabrikan yang baru di Indonesia, rasanya tidak buruk dengan semua program yang mereka tawarkan.

Kesimpulan
Klaim tentang sensasi mobil Eropa yang mereka suarakan, sebagian besar sukses mereka buktikan di mobil ini. Artinya kualitas manufacturing yang mereka lakukan tidak main-main. Apalagi targetnya ke depan, mereka akan memproduksi mesin secara lokal. DFSK tinggal melakukan sedikit perbaikan secara detail untuk menjadikannya sesuai dengan ekspektasi orang Indonesia. Kalau sudah begini, pabrikan Jepang harus siap-siap mendapat saingan berat dari brand asal Tiongkok ini.



(UDA)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id