Jakarta: Visibilitas dalam mengemudi merupakan salah satu faktor penting yang menunjang keselamatan berkendara.
Sayangnya, hal ini sering disepelekan pengemudi, padahal angka kecelakaan tertinggi juga diakibatkan gangguan visibilitas dalam mengemudi. Kondisi hujan berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan lebih dari 31 persen.
Memperingati 100 tahun teknologi wiper, Bosch mengingatkan pentingnya kesiapan kendaraan, terutama kondisi wiper dan kaca depan, sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan selama perjalanan.
Visibilitas menunjang keselamatan
Keselamatan berkendara umumnya dikaitkan dengan perilaku pengemudi, seperti menjaga kecepatan, mempertahankan jarak aman, dan mematuhi rambu lalu lintas. Padahal, kemampuan melihat kondisi di sekitar dari dalam kendaraan juga memiliki peran penting.
Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menjelaskan keputusan pengemudi saat berkendara didominasi oleh informasi visual atau apa yang dilihat langsung dari pandangan.
"Pengemudi mengambil keputusan berdasarkan apa yang mereka lihat. Karena itu, visibilitas yang baik menjadi bagian penting dalam membantu pengemudi membaca situasi dan mengambil keputusan ketika mengemudi,” ujar Yannes.
Baca Juga :
Bahaya Microsleep saat Berkendara, Begini Cara Antisipasinya!
Air hujan, kabut, maupun sisa sapuan wiper dapat mengurangi kontras pandangan. Kondisi tersebut membuat objek di jalan lebih sulit terdeteksi sehingga waktu pengemudi untuk mengenali risiko dan mengambil tindakan menjadi lebih terbatas.
Hujan tidak hanya membuat permukaan jalan menjadi lebih licin. Air yang menempel di kaca depan juga dapat mengurangi jarak pandang pengemudi terhadap kendaraan lain, marka jalan, hingga perubahan kondisi lalu lintas.
Karena itu, keselamatan di jalan membutuhkan kesiapan yang saling berkaitan antara pengemudi, kendaraan, kondisi jalan, dan lingkungan perjalanan.
100 tahun wiper Bosch
Tahun 2026 menjadi momentum eksistensi 100 tahun wiper Bosch. Perjalanan tersebut menunjukkan bagaimana kebutuhan sederhana dalam berkendara terus mendorong inovasi.
Managing Director Bosch Indonesia, Pirmin Riegger, mengatakan teknologi berperan dalam mendukung keselamatan, tetapi inovasi harus dikembangkan berdasarkan kebutuhan manusia.
"Bagi Bosch, teknologi bukan hanya tentang menciptakan sesuatu yang baru. Melalui prinsip Invented for Life, kami ingin memastikan bahwa inovasi memberikan manfaat nyata bagi kehidupan manusia. Dalam mobilitas, hal tersebut berarti menghadirkan teknologi yang membantu membuat perjalanan menjadi lebih aman, sekaligus dapat diandalkan dalam berbagai kondisi," ujar Pirmin.
Dalam konteks mobilitas, pendekatan tersebut diwujudkan melalui teknologi yang dikembangkan berdasarkan kebutuhan pengguna untuk mendukung kesiapan kendaraan dan menciptakan perjalanan yang lebih aman serta nyaman.
Ciri-ciri wiper perlu diganti
Penurunan kinerja wiper umumnya terjadi secara bertahap sehingga tidak selalu langsung disadari pengemudi. Country Sales Director Bosch Mobility Aftermarket, Griselda Iwandi, mengatakan pemeriksaan wiper perlu dilakukan secara berkala seperti komponen kendaraan lainnya.
Beberapa tanda wiper perlu diganti misalnya sapuan wiper masih meninggalkan garis air pada kaca depan, muncul suara berdecit saat digunakan, gerakan wiper yang tersendat atau tidak merata, hingga terdapat bagian kaca yang tidak lagi dibersihkan secara optimal.
"Idealnya, wiper diganti setiap enam bulan, tetapi kondisi penggunaan juga perlu diperhatikan. Pengemudi tidak perlu menunggu sampai wiper berhenti berfungsi. Ketika hasil sapuannya mulai menurun, itu sudah menjadi tanda untuk melakukan pemeriksaan dan penggantian," ujar Griselda.
Kinerja wiper tidak hanya dipengaruhi kondisi karet. Kesesuaian produk dengan kendaraan, pemasangan yang benar, serta keaslian produk juga turut menentukan performanya.
Donasi wiper Bosch untuk Ambulans
Dalam rangkaian peringatan 100 tahun teknologi wiper, Bosch melalui inisiatif Care for Sight bersama Yayasan Tunas Bakti Nusantara (YTBN) turut memberikan kontribusi berupa wiper untuk kendaraan ambulans.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya membantu menjaga kesiapan kendaraan yang memiliki peran penting dalam kondisi darurat.
"Kontribusi tersebut tidak dimaksudkan sebagai solusi tunggal terhadap seluruh kebutuhan kendaraan darurat, melainkan sebagai bagian dari komitmen Bosch untuk terus mendorong kesadaran bahwa kesiapan kendaraan merupakan bagian dari ekosistem keselamatan yang lebih luas," pungkas Griselda.
Jakarta: Visibilitas dalam mengemudi merupakan salah satu faktor penting yang menunjang
keselamatan berkendara.
Sayangnya, hal ini sering disepelekan pengemudi, padahal angka kecelakaan tertinggi juga diakibatkan gangguan visibilitas dalam mengemudi. Kondisi hujan berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan lebih dari 31 persen.
Memperingati 100 tahun teknologi wiper, Bosch mengingatkan pentingnya kesiapan kendaraan, terutama kondisi wiper dan kaca depan, sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan selama perjalanan.
Visibilitas menunjang keselamatan
Keselamatan berkendara umumnya dikaitkan dengan perilaku pengemudi, seperti menjaga kecepatan, mempertahankan jarak aman, dan mematuhi rambu lalu lintas. Padahal, kemampuan melihat kondisi di sekitar dari dalam kendaraan juga memiliki peran penting.
Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menjelaskan keputusan pengemudi saat berkendara didominasi oleh informasi visual atau apa yang dilihat langsung dari pandangan.
"Pengemudi mengambil keputusan berdasarkan apa yang mereka lihat. Karena itu, visibilitas yang baik menjadi bagian penting dalam membantu pengemudi membaca situasi dan mengambil keputusan ketika mengemudi,” ujar Yannes.
Air hujan, kabut, maupun sisa sapuan wiper dapat mengurangi kontras pandangan. Kondisi tersebut membuat objek di jalan lebih sulit terdeteksi sehingga waktu pengemudi untuk mengenali risiko dan mengambil tindakan menjadi lebih terbatas.
Hujan tidak hanya membuat permukaan jalan menjadi lebih licin. Air yang menempel di kaca depan juga dapat mengurangi jarak pandang pengemudi terhadap kendaraan lain, marka jalan, hingga perubahan kondisi lalu lintas.
Karena itu, keselamatan di jalan membutuhkan kesiapan yang saling berkaitan antara pengemudi, kendaraan, kondisi jalan, dan lingkungan perjalanan.
100 tahun wiper Bosch
Tahun 2026 menjadi momentum eksistensi 100 tahun wiper Bosch. Perjalanan tersebut menunjukkan bagaimana kebutuhan sederhana dalam berkendara terus mendorong inovasi.
Managing Director Bosch Indonesia, Pirmin Riegger, mengatakan teknologi berperan dalam mendukung keselamatan, tetapi inovasi harus dikembangkan berdasarkan kebutuhan manusia.
"Bagi Bosch, teknologi bukan hanya tentang menciptakan sesuatu yang baru. Melalui prinsip Invented for Life, kami ingin memastikan bahwa inovasi memberikan manfaat nyata bagi kehidupan manusia. Dalam mobilitas, hal tersebut berarti menghadirkan teknologi yang membantu membuat perjalanan menjadi lebih aman, sekaligus dapat diandalkan dalam berbagai kondisi," ujar Pirmin.
Dalam konteks mobilitas, pendekatan tersebut diwujudkan melalui teknologi yang dikembangkan berdasarkan kebutuhan pengguna untuk mendukung kesiapan kendaraan dan menciptakan perjalanan yang lebih aman serta nyaman.
Ciri-ciri wiper perlu diganti
Penurunan kinerja wiper umumnya terjadi secara bertahap sehingga tidak selalu langsung disadari pengemudi. Country Sales Director Bosch Mobility Aftermarket, Griselda Iwandi, mengatakan pemeriksaan wiper perlu dilakukan secara berkala seperti komponen kendaraan lainnya.
Beberapa tanda wiper perlu diganti misalnya sapuan wiper masih meninggalkan garis air pada kaca depan, muncul suara berdecit saat digunakan, gerakan wiper yang tersendat atau tidak merata, hingga terdapat bagian kaca yang tidak lagi dibersihkan secara optimal.
"Idealnya, wiper diganti setiap enam bulan, tetapi kondisi penggunaan juga perlu diperhatikan. Pengemudi tidak perlu menunggu sampai wiper berhenti berfungsi. Ketika hasil sapuannya mulai menurun, itu sudah menjadi tanda untuk melakukan pemeriksaan dan penggantian," ujar Griselda.
Kinerja wiper tidak hanya dipengaruhi kondisi karet. Kesesuaian produk dengan kendaraan, pemasangan yang benar, serta keaslian produk juga turut menentukan performanya.
Donasi wiper Bosch untuk Ambulans
Dalam rangkaian peringatan 100 tahun teknologi wiper, Bosch melalui inisiatif Care for Sight bersama Yayasan Tunas Bakti Nusantara (YTBN) turut memberikan kontribusi berupa wiper untuk kendaraan ambulans.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya membantu menjaga kesiapan kendaraan yang memiliki peran penting dalam kondisi darurat.
"Kontribusi tersebut tidak dimaksudkan sebagai solusi tunggal terhadap seluruh kebutuhan kendaraan darurat, melainkan sebagai bagian dari komitmen Bosch untuk terus mendorong kesadaran bahwa kesiapan kendaraan merupakan bagian dari ekosistem keselamatan yang lebih luas," pungkas Griselda.
(PRI)