medcom.id, Jakarta: Berbicara tentang kelayakan untuk dikonsumsi kendaraan yang ada sekarang, bahan bakar minyak (BBM) berjenis Premium sebenarnya sudah tidak layak konsumsi. Lantaran semua manufaktur sudah merekomendasikan minimal kandungan oktan adalah RON 90.
Setelah sempat didiskusikan dengan pihak Pertamina, ternyata mereka menegaskan butuh waktu selama dua tahun untuk menyetop penjualan Premiun di Indonesia. Hal ini disesalkan oleh Faisal Basri selaku Ketua Tim Tata Kelola Migas. Ia menegaskan BBM jenis Premium itu bbm dengan kualitas sangat rendah dan tak layak lagi dijual di Indonesia.
"Harusnya jenis BBM Premium ini tak dipertahankan lagi dengan alasan untuk menjaga untung rugi Pertamina. Karena itu akan menjadi celah permainan mafia Migas. Dua tahun untuk penghapusan premium, kami rasa terlalu lama. Premium itu adalah barang busuk dan sudah tidak layak dikonsumsi kendaraan di Indonesia. Lagi pula tidak ada manufaktur kendaraan lagi yang merekomendasi bahan bakar ini," kesalnya.
Faisal Basri menegaskan, semakin cepat Pertamina mengambil langkah untuk menyetop penjualan Premium, maka akan semakin cepat pula solusi yang tepat bisa ditemukan. Pun memberikan kepastian perekonomian nasional. Artinya pemerintah tak lagi harus pusing memikirkan bagaimana memberikan subsidi besar untuk BBM Premium.
medcom.id, Jakarta: Berbicara tentang kelayakan untuk dikonsumsi kendaraan yang ada sekarang, bahan bakar minyak (BBM) berjenis Premium sebenarnya sudah tidak layak konsumsi. Lantaran semua manufaktur sudah merekomendasikan minimal kandungan oktan adalah RON 90.
Setelah sempat didiskusikan dengan pihak Pertamina, ternyata mereka menegaskan butuh waktu selama dua tahun untuk menyetop penjualan Premiun di Indonesia. Hal ini disesalkan oleh Faisal Basri selaku Ketua Tim Tata Kelola Migas. Ia menegaskan BBM jenis Premium itu bbm dengan kualitas sangat rendah dan tak layak lagi dijual di Indonesia.
"Harusnya jenis BBM Premium ini tak dipertahankan lagi dengan alasan untuk menjaga untung rugi Pertamina. Karena itu akan menjadi celah permainan mafia Migas. Dua tahun untuk penghapusan premium, kami rasa terlalu lama. Premium itu adalah barang busuk dan sudah tidak layak dikonsumsi kendaraan di Indonesia. Lagi pula tidak ada manufaktur kendaraan lagi yang merekomendasi bahan bakar ini," kesalnya.
Faisal Basri menegaskan, semakin cepat Pertamina mengambil langkah untuk menyetop penjualan Premium, maka akan semakin cepat pula solusi yang tepat bisa ditemukan. Pun memberikan kepastian perekonomian nasional. Artinya pemerintah tak lagi harus pusing memikirkan bagaimana memberikan subsidi besar untuk BBM Premium.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)