Tokyo: Bila kebetulan Anda sedang berada di Jepang, pasti akan menjumpai banyak mobil dengan plat nopol berwarna kuning berlalu-lalang di jalananannya. Tapi lebih baik tidak mencoba menghentikannya kecuali Anda mengenal pengemudinya.
Mobil berplat nopol kuning itu Sama sekali bukan taxi, angkot atau moda transportasi umum lain seperti di Indonesia. Melainkan mobil pribadi dengan kapasitas mesin (cc) kecil. Persisnya kurang dari 1000 cc dan di Jepang disebut kei car. Plat nopol warna kuning ini penandanya.
Mengapa kei car perlu ditandai?
Sebab pemilik kei car berhak untuk mendapat insentif pajak kendaraan bermotor tahunan. Nilai pajak yang harus dibayarkan pemilik kei car sekitar 1/5 dari pajak untuk mobil berkapasitas mesin di atas 1000 cc, apalagi yang 2000 cc.
Di sejumlah tempat parkiran umum, bahkan disediakan slot khusus bagi kei car. Ada penanda di slot tersebut dan mobil yang tidak berplat nopol kuning dilarang menempatinya. Bila nekat, risikonya adalah diderek.
Adanya keistimewaan itu tak lepas dari niat awal pemerintah Jepang mendorong industri otomotifnya memproduksi kei car. Yaitu demi pengadaan kendaraan murah bagi mendorong tumbuhnya UMKM yang menjadi penggerak ekonomi pasca Perang Dunia II. Maka kebanyakan kei car yang diproduksi adalah mobil niaga seperti mini van, pick-up dan jip.
Di dalam perkembangannya, kei car juga banyak digunakan sebagai mobil pribadi oleh keluarga muda dan pensiunan. Dimensinya yang mungil memudahkan kei car untuk mendapatkan tempat parkir, baik di garasi rumah atau lapangan parkir sewaan. Keharusan memiliki tempat parkir tetap adalah syarat untuk bisa membeli mobil di Jepang.
"Banyak juga yang beli kei car sebagai mobil ke dua. Jadi sudah punya mobil cc besar buat jalan jauh, lalu beli kei car untuk dalam kota," ujar Epong, seorang WNI yang sudah belasan tahun menetap di Jepang.
Pemerintah juga membuat regulasi detail mengenai kei car. Dimensinya dibatasi, sehingga antara kei car satu dan lainnya bisa sangat mirip. Contohnya adalah Daihatsu Hi-Jet dan Subaru Sambar, yang bahkan lekuk body dua mini van itu sama persis.
Tokyo: Bila kebetulan Anda sedang berada di Jepang, pasti akan menjumpai banyak mobil dengan plat nopol berwarna kuning berlalu-lalang di jalananannya. Tapi lebih baik tidak mencoba menghentikannya kecuali Anda mengenal pengemudinya.
Mobil berplat nopol kuning itu Sama sekali bukan taxi, angkot atau moda transportasi umum lain seperti di Indonesia. Melainkan mobil pribadi dengan kapasitas mesin (cc) kecil. Persisnya kurang dari 1000 cc dan di Jepang disebut kei car. Plat nopol warna kuning ini penandanya.
Mengapa kei car perlu ditandai?
Sebab pemilik kei car berhak untuk mendapat insentif pajak kendaraan bermotor tahunan. Nilai pajak yang harus dibayarkan pemilik kei car sekitar 1/5 dari pajak untuk mobil berkapasitas mesin di atas 1000 cc, apalagi yang 2000 cc.
Di sejumlah tempat parkiran umum, bahkan disediakan slot khusus bagi kei car. Ada penanda di slot tersebut dan mobil yang tidak berplat nopol kuning dilarang menempatinya. Bila nekat, risikonya adalah diderek.
Adanya keistimewaan itu tak lepas dari niat awal pemerintah Jepang mendorong industri otomotifnya memproduksi kei car. Yaitu demi pengadaan kendaraan murah bagi mendorong tumbuhnya UMKM yang menjadi penggerak ekonomi pasca Perang Dunia II. Maka kebanyakan kei car yang diproduksi adalah mobil niaga seperti mini van, pick-up dan jip.
Di dalam perkembangannya, kei car juga banyak digunakan sebagai mobil pribadi oleh keluarga muda dan pensiunan. Dimensinya yang mungil memudahkan kei car untuk mendapatkan tempat parkir, baik di garasi rumah atau lapangan parkir sewaan. Keharusan memiliki tempat parkir tetap adalah syarat untuk bisa membeli mobil di Jepang.
"Banyak juga yang beli kei car sebagai mobil ke dua. Jadi sudah punya mobil cc besar buat jalan jauh, lalu beli kei car untuk dalam kota," ujar Epong, seorang WNI yang sudah belasan tahun menetap di Jepang.
Pemerintah juga membuat regulasi detail mengenai kei car. Dimensinya dibatasi, sehingga antara kei car satu dan lainnya bisa sangat mirip. Contohnya adalah Daihatsu Hi-Jet dan Subaru Sambar, yang bahkan lekuk body dua mini van itu sama persis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)