Asosiasi industri menilai masuknya kendaraan niaga impor menciptakan persaingan yang tidak seimbang dan berdampak pada rendahnya tingkat utilisasi pabrik di Indonesia. Padahal, kapasitas produksi industri otomotif nasional dinilai sudah memadai untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.
"Sebenarnya, secara keseluruhan industri kendaraan bermotor di Indonesia ini sudah swasembada, jadi mampu memenuhi kebutuhan kendaraan dalam negeri dari produk-produk yang dibuat lokal," kata Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, dikuip dari Antara.
"Kenapa industri kendaraan, terutama yang komersil, terganggu? Karena adanya importasi kendaraan dari luar," katanya di ajang GAIKINDO Indonesia International Commercial Vehicle Expo (GICOMVEC) 2026.
Baca Juga:
Estimasi Harga Denza B8 Jika Masuk Indonesia
Menurut Kukuh, kapasitas produksi industri otomotif Indonesia saat ini mencapai sekitar 2,59 juta unit per tahun. Namun realisasi produksi masih berada di kisaran 1,3 juta hingga 1,4 juta unit, dengan angka penjualan sekitar 1,2 juta unit per tahun.
Ia menjelaskan tingkat utilisasi fasilitas produksi di segmen kendaraan komersial bahkan lebih rendah. Pada beberapa produsen, tingkat pemanfaatan kapasitas hanya berkisar 40 persen hingga 50 persen.
Menurut Kukuh, kondisi tersebut dipengaruhi oleh derasnya arus kendaraan impor dalam bentuk utuh yang masuk ke pasar domestik. Kendaraan impor tersebut dinilai memiliki harga lebih kompetitif karena diproduksi dalam skala besar di negara asal.
"Kita sudah cukup lama berbicara, kenapa terjadi penurunan, sudah jelas penurunannya terjadi karena adanya importasi truk-truk dari negara lain. Sulit untuk bersaing dengan harga yang sangat kompetitif," katanya.
Baca Juga:
Panduan Lengkap Berkunjung ke GIICOMVEC 2026, Tiketnya Gratis!
Dampak impor kendaraan niaga tidak hanya dirasakan oleh produsen kendaraan. Kukuh menyebut pemasok komponen lokal, bengkel, hingga usaha layanan purnajual juga ikut terdampak. Selain itu, penurunan daya beli masyarakat dalam beberapa tahun terakhir turut memperburuk kondisi pasar otomotif nasional.
Kukuh menyampaikan bahwa angka penjualan kendaraan secara grosir yang sebelumnya berada di kisaran 1,2 juta hingga 1,3 juta unit per tahun turun menjadi sekitar 803 ribu unit pada 2025.
"Penurunan ini mengakibatkan Indonesia posisinya sebagai pasar terbesar di ASEAN itu digeser oleh Malaysia untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun kita selalu memimpin, karena penjualannya menurun selama beberapa tahun terakhir, selain memang daya belinya juga menurun," ia menjelaskan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News