Balap drift di Indonesia kurang berkembang lantaran beberapa faktor dianggap jadi penghalang. medcom.id/Ahmad Garuda
Balap drift di Indonesia kurang berkembang lantaran beberapa faktor dianggap jadi penghalang. medcom.id/Ahmad Garuda

Balap Mobil

Balap Drift Sulit Berkembang? Ini Jawaban Akbar Rais

Otomotif balap mobil pembalap nasional
Ahmad Garuda • 30 Agustus 2019 07:37
Jakarta: Balap drift atau balap ngepot untuk mobil, memang sejak 2008 digemari anak-anak muda yang punya hobi otomotif dan suka tampil beda. Namun sejak kemunculannya bahkan sempat besar di 2010 hingga 2014, perjalanannya kian terlihat stagnan atau istilah gampangnya begitu-begitu saja.
 
Bahkan beberapa drifter nasional yang coba untuk konsisten di balap ini perlahan banting setir ke balap touring atau hanya ikut slalom saja. Akbar Rais salah satu drifter senior saat ini, pun mengungkapkan alasan utama mengapa ajang ini sangat sulit berkembang di Indonesia. Apalagi jika dibandingkan dengan ajang balap slalom.
 
"Sebenarnya dari sisi keseruan event, drifting itu sangat-sangat menarik dan jadi hiburan tersendiri ketika melihat mobil ngepot dan membuat asap dari hasil decitan ban. Tapi yang membuatnya sulit berkembang, karena banyak drifter yang tidak siap kalah. Pemenangnya pun terlalu sedikit, hanya 6 orang di tiap kategori. Masalah ini pun terjadi untuk balap drift tingkat dunia," klaim Akbar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia membandingkannya dengan ajang balap slalom yang pemenangnya bisa puluhan lantaran beda kelas, beda pemenang dan tiap kategori terdapat 3 juara. Kondisi ini yang membuat banyak drifter berpikir ulang untuk mengikuti ajang balap tersebut.
 
"Hal kedua adalah lahan yang cukup terbatas. Berbeda dengan slalom yang tidak butuh lahan besar. Kalau drifting, tidak bisa pakai sekadar lapangan parkir kecil. Kita butuh lahan yang cukup besar untuk mengkreasikan trek yang sesuai agar kompetisi jadi menarik."
 
Hal selanjutnya adalah soal regulasi yang masih sering berubah-ubah. Pakemnya berubah sehingga banyak drifter yang merasa bahwa tidak sesuai dengan pakem yang berubah-ubah ini.
 
Terakhir yang adalah soal biaya pengembangan mobil. Meski juga akan sangat relatif, tapi ketika seorang drifter merasa ingin naik kelas karena skill-nya sudah cukup baik namun budget dananya tak cukup untuk mengembangkan mobil, ini juga jadi masalah tersendiri.
 
Namun Akbar menegaskan bahwa di ajang drift, biasanya untuk kelas pro tak ada pembatasan soal teknis mobil. Baik itu mobil yang memiliki tenaga 1.000 daya kuda pun akan tetap masuk dalam kelas pro, meski lawannya hanya punya tenaga mobil di bawah 300 dk saja.
 

(UDA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif