Jakarta: Di tengah ancaman wabah virus korona, sejumlah cara dilakukan untuk bisa menekan penyebaran pandemik pernafasan ini dengan menyemprotkan cairan disinfektan ke berbagai barang, termasuk ke kabin mobil. Tentu saja hal ini perlu diperhatikan seberapa efektifkah langkah ini dalam mengatasi virus korona yang mungkin saja ada di mobil.
Residen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Nandika Nurfitria, menjelaskan disinfektan adalah bahan kimia yang dapat mengurangi jumlah mikroorganisme yang termasuk kuman, bakteri, hingga virus. Namun apabila tujuannya untuk membunuh virus korona, tentu pengaplikasian ini harus benar caranya.
“WHO (World Health Organization) menyebutkan penyebaran virus korona bukan melalui penyebaran udara (airborne). Untuk hal ini, cara yang benar menggunakan cairan disinfektan dengan menyemprotkannya ke permukaan benda dan kemudian diseka,” ungkap Nandika Senin (30/3/2020) melalui sambungan telepon genggam.
Dia memperkirakan cairan disinfektan ini bisa membunuh 90 persen mikroorganisme yang ada dipermukaan. Lantas seberapa aman cairan tersebut ketika terkena tubuh? “Seharusnya untuk yang sudah distandarisasi oleh pemerintah aman bagi tubuh, tidak menimbulkan efek samping,” sambungnya.
Penyemprotan disinfektan ke kendaraan, termasuk sampai ke kabin angkutan umum, kini sedang dilakukan oleh Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Jatim bersama jajaran Forkopimda Jatim menerapkan sistem drive-thru. Mereka akan melakukan penyemprotan ke kendaraan yang melintas, termasuk di bagian interior angkutan umum, dan penumpang disuruh turun untuk di cek suhu tubuhnya.
Kemudian untuk sekarang ini, sejumlah komplek dan gedung-gedung juga sudah mulai memberlakukan hal serupa dimana orang-orang yang akan masuk ke gedung harus melalui ruang penyemprotan disinfektan. Sedangkan bagi orang yang membawa mobil, mobilnya akan melalui protokol penyemprotan disinfektan.
Jadi tidak ada salahnya menyemprotkan disinfektan ke mobil asal dilakukan dengan cara yang benar dan menggunakan cairan yang sudah terdaftar di pemerintah.
Jakarta: Di tengah ancaman wabah virus korona, sejumlah cara dilakukan untuk bisa menekan penyebaran pandemik pernafasan ini dengan menyemprotkan cairan disinfektan ke berbagai barang, termasuk ke kabin mobil. Tentu saja hal ini perlu diperhatikan seberapa efektifkah langkah ini dalam mengatasi virus korona yang mungkin saja ada di mobil.
Residen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Nandika Nurfitria, menjelaskan disinfektan adalah bahan kimia yang dapat mengurangi jumlah mikroorganisme yang termasuk kuman, bakteri, hingga virus. Namun apabila tujuannya untuk membunuh virus korona, tentu pengaplikasian ini harus benar caranya.
“WHO (World Health Organization) menyebutkan penyebaran virus korona bukan melalui penyebaran udara (airborne). Untuk hal ini, cara yang benar menggunakan cairan disinfektan dengan menyemprotkannya ke permukaan benda dan kemudian diseka,” ungkap Nandika Senin (30/3/2020) melalui sambungan telepon genggam.
Dia memperkirakan cairan disinfektan ini bisa membunuh 90 persen mikroorganisme yang ada dipermukaan. Lantas seberapa aman cairan tersebut ketika terkena tubuh? “Seharusnya untuk yang sudah distandarisasi oleh pemerintah aman bagi tubuh, tidak menimbulkan efek samping,” sambungnya.
Penyemprotan disinfektan ke kendaraan, termasuk sampai ke kabin angkutan umum, kini sedang dilakukan oleh Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Jatim bersama jajaran Forkopimda Jatim menerapkan sistem drive-thru. Mereka akan melakukan penyemprotan ke kendaraan yang melintas, termasuk di bagian interior angkutan umum, dan penumpang disuruh turun untuk di cek suhu tubuhnya.
Kemudian untuk sekarang ini, sejumlah komplek dan gedung-gedung juga sudah mulai memberlakukan hal serupa dimana orang-orang yang akan masuk ke gedung harus melalui ruang penyemprotan disinfektan. Sedangkan bagi orang yang membawa mobil, mobilnya akan melalui protokol penyemprotan disinfektan.
Jadi tidak ada salahnya menyemprotkan disinfektan ke mobil asal dilakukan dengan cara yang benar dan menggunakan cairan yang sudah terdaftar di pemerintah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)