Pabrik Volkswagen di Wolfsburg Jerman. Volkswagen
Pabrik Volkswagen di Wolfsburg Jerman. Volkswagen

Rencana Skema Baru Uni Eropa Lindungi Industri Otomotif dari Merek China

Ekawan Raharja • 14 Januari 2026 14:14
Brussel: Uni Eropa tengah mempertimbangkan perubahan besar dalam kebijakan perdagangan mobil listrik asal China. Setelah 18 bulan memberlakukan tarif tinggi hingga 45 persen untuk melindungi produsen domestik dari serbuan mobil listrik China, kini otoritas Eropa membuka opsi untuk mencabut kebijakan tersebut dan menggantinya dengan skema harga minimum.
 
Langkah ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan dagang antara Uni Eropa dan China serta perubahan dinamika politik di kawasan tersebut, dikutip dari Carscoops. Alih-alih mengenakan tarif berdasarkan dugaan besaran subsidi pemerintah China terhadap masing-masing merek, Uni Eropa kini mempertimbangkan penetapan harga minimum bagi mobil listrik impor dari Negeri Tirai Bambu.
 
Berdasarkan dokumen Komisi Eropa yang dikutip South China Morning Post, pabrikan China nantinya diminta mengajukan proposal harga yang dinilai mampu menghilangkan dampak negatif subsidi sekaligus memberikan efek yang setara dengan kebijakan tarif. Selain harga, faktor lain seperti rencana investasi jangka panjang di wilayah Uni Eropa juga akan menjadi pertimbangan.

Skema harga minimum dinilai dapat memberi ruang persaingan yang lebih adil bagi produsen Barat yang memproduksi kendaraan di dalam Uni Eropa, sekaligus meredakan ketegangan dagang antara kedua kawasan. Dalam sistem ini, pabrikan China tetap dapat mempertahankan margin keuntungan tanpa harus membayar tarif masuk yang tinggi.

Baca juga:
Diprediksi Industri Otomotif Tahun Ini Masih Hadapi Tantangan Serupa


Sebelumnya, kebijakan tarif Uni Eropa memicu aksi balasan dari China yang mengenakan bea masuk terhadap sejumlah produk asal Eropa, termasuk produk susu, daging babi, dan minuman beralkohol. Kebijakan tarif tersebut juga berdampak pada merek Barat yang memproduksi mobil di China untuk pasar Eropa, seperti BMW iX3 yang ikut terkena tarif. Volvo bahkan memindahkan produksi EX30 dari China ke Belgia demi menghindari bea masuk.
 
Meski tarif diberlakukan, penetrasi merek China di pasar otomotif Eropa justru terus meningkat. Pada 2024, mobil buatan China menguasai sekitar 2,5 persen pasar Eropa. Angka tersebut melonjak menjadi sekitar 7 persen di akhir 2025. Bahkan, hampir satu dari 10 mobil yang terjual di Inggris pada 2025 merupakan merek asal China.
 
Selain mobil listrik murni, model hybrid dari pabrikan China juga mencatatkan penjualan tinggi karena tidak terdampak kebijakan tarif. Kondisi ini memperlihatkan bahwa dominasi merek China di pasar otomotif Eropa semakin sulit dibendung.
 
Dengan wacana perubahan kebijakan ini, Uni Eropa berupaya menyeimbangkan kepentingan industri otomotif domestik dengan stabilitas hubungan dagang global di tengah percepatan transisi menuju kendaraan listrik.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan