Dealer Hyundai Gowa Pramuka Jakarta. Medcom.id/Ekawan Raharja
Dealer Hyundai Gowa Pramuka Jakarta. Medcom.id/Ekawan Raharja

Strategi Hyundai 'Pagari' Dealer Berpindah ke Lain Merek

Ekawan Raharja • 19 April 2026 14:10
Ringkasnya gini..
  • Fenomena dealer Jepang beralih ke mobil China mendorong Hyundai memperkuat peran dealer sebagai ujung tombak bisnis.
  • Hyundai fokus menjaga dealer tetap bertahan lewat dukungan bisnis agar tetap operasional saat pasar melemah.
  • Dengan 120 ribu unit terjual, Hyundai optimalkan purna jual demi kepuasan konsumen dan profitabilitas dealer.
DKI Jakarta: Belakangan ini banyak dealer otomotif, khususnya dari Jepang, yang berubah menjual mobil China. Melihat kondisi ini, Hyundai memiliki strategi untuk menjaga dealernya agar tidak berpindah ke lain merek.
 
Chief Operating Officer (COO) PT Hyundai Motors Indonesia (HMID), Fransiscus Soerjopranoto, menegaskan pentingnya posisi dealer dalam rantai bisnis. Hanya dealer yang bisa menjangkau langsung konsumen dan memberikan pelayanan.
 
"Mungkin ada fenomena bahwa banyak dealer yang tutup dan lain sebagainya. Bahwa dealer itu menjadi sangat penting perannya. Karena dari distributor, manufaktur pastinya di upper stream. Terus downstream-nya kan ada yang namanya dealer, ada yang namanya konsumen,” kata pria yang akrab disapa Soerjo di Jakarta Selatan.

Perusahaan memilih untuk menjadikan konsumen sebagai prioritas utama, dan didukung dealer sebagai mitra strategi. Oleh sebab itu, mereka ingin memastikan dealer tetap tumbuh agar bisa terus bekerja sama dalam melayani konsumen.

Baca Juga:
Motor Listrik Bisa Tempuh Jarak Lebih Dari 300 KM


“Bagaimana dealer kita itu bisa di kembangkan supaya dapat mengedukasi market. Di masa-masa misalnya market turun, sales per outlet juga turun, bagaimana mereka juga bisa punya, istilahnya ‘vitamin’ untuk tetap beroperasi sampai market naik lagi,” lanjut Soerjo.
 
Soerjo menjelaskan sudah menjual 110.000-120.000 unit kendaraan di Indonesia sejak 2020. Dengan jumlah tersebut, Hyundai berupaya menjaga kepuasan pelanggan sekaligus memperkuat bisnis purna jual.
 
“Bagaimana kita maintain unit in operation supaya customer lebih satisfied, dan secara bisnis diler juga semakin bagus. Jadi service absorption rate-nya (seberapa besar biaya operasional diler bisa ditutup dari bisnis purnajual tanpa bergantung pada penjualan mobil baru) meningkat, pendapatan dari non-vehicle juga naik,” beber Soerjo.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan