Industri otomotif nasional sudah siap sejak awal 2019 dalam penggunaan Biodiesel B30. ANTARA FOTO/Aprilio Akbar
Industri otomotif nasional sudah siap sejak awal 2019 dalam penggunaan Biodiesel B30. ANTARA FOTO/Aprilio Akbar

Bahan Bakar Ramah Lingkungan

Penerapan Biodiesel B30, Industri Siap Sejak Awal 2019

Otomotif pertamina bahan bakar gas
Ahmad Garuda • 24 Desember 2019 16:10
Jakarta: Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo didampingi sejumlah Menterinya hingga Komisaris Utama Pertamina, Basuki Tjahaja Purnama, mulai meresmikan penggunaan Biodiesel 30 persen (B30). Ini dilakukan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) COCO No 31.128.02 MT Haryono Jakarta Selatan, pada Senin (23/12/2019).
 
Penggunaan bahan bakar B30 ini bertujuan agar terjadi pengurangan impor Solar secara serius. Dalam keterangannya, Jokowi menegaskan bahwa program B30 ini menghemat devisa sekitar Rp63 trilliun. Lalu bagaimana dengan kesiapan sektor industri?
 
Menurut beberapa petinggi industri otomotif terutama industri kendaraan komersil seperti truk dan bus, bahwa penggunaan B30 sudah mulai mereka riset, jauh sebelum penerapan B30 ditetapkan pemerintah. Tentunya ini sebagai tindak lanjut dari komitmen pemerintah untuk menggunakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan dan tentunya terbarukan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami sangat konsen dengan program khusus yang dicanangkan pemerintah, seperti penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Khusus untuk B30, ini bahkan sudah kami riset sejak tahun lalu dengan beberapa mobil dan kandungan biodiesel yang beragam. Bukan hanya B30 namun juga lebih besar dari itu," klaim Marketing Director Sales & Marketing Division PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB), Duljatmono kepada Medcom.id di momentum yang berbeda.
 
Di momentum berbeda Direktur Penjualan dan Promosi PT Hino Motor Sales Indonesia (HMSI), Santiko Wardoyo juga pernah menjelaskan kepada Medcom.id bahwa komitmen mereka terhadap penggunaan bahan bakar ramah lingkungan sangat besar. Makanya jauh sebelum pemerintah menetapkan B30 wajib digunakan, mereka sudah lebih dari setahun melakukan pengetesan intensif.
 
"Masalahnya, tentu akan lebih rumit dari pada B20. Kandungan air yang lebih tinggi, tentu akan jadi masalah jika perawatan tidak dilakukan dengan tepat. Termasuk penggunaan filter bahan bakar yang akan dikonsumsi ke ruang bakar," ujarnya.
 
Lebih heboh lagi yang dilakukan oleh Isuzu. Produsen truk ringan hingga berat di bawah Astra itu malah menyatakan bahwa tak perlu ada penggantian komponen. Hanya saja perawatan berkala harus sangat diperhatikan. Begitu juga dengan Tata Motors yang menyatakan kesiapannya soal penggunaan BBM B30.
 
Meski terbilang cukup rumit untuk penerapan penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan ini, namun industri juga cukup aktif dalam mendukung program pemerintah ini. Paling tidak, bisa membuat penggunaan minyak sawit bisa lebih tepat guna.
 
Bantu Petani Kelapa Sawit
Selanjutnya menurut Presiden, program B30 juga akan dapat mengurangi impor BBM dan menciptakan permintaan domestik CPO yang sangat besar. Hal ini dapat memberikan multiplier effect bagi 13,5 juta petani perkebunan Kelapa Sawit. Ini artinya, B30 akan berdampak kepada para perkebunan kecil yang membina petani rakyat yang selama ini bekerja di Kebun Sawit dan para pekerja yang bekerja di pabrik Kelapa Sawit.
 
“Program B30 nantinya menjadi B50 dan seterusnya juga menjadi B100. Akan tidak mudah kita ditekan-tekan lagi oleh negara lain, terutama kampanye negatif dari beberapa negara terhadap export CPO kita. Karena kita sudah memiliki pasar di dalam negeri yang besar,” ujar Jokowi.
 

(UDA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif