Jakarta: Ikatan Motor Indonesia (IMI) buka suara soal wacana PT Agrinas Pangan Nusantara untuk mengimpor 105 ribu unit kendaraan pick up dari India dengan nilai anggaran mencapai Rp24,66 triliun. Kendaraan tersebut nantinya untuk mendukung operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) Pusat, Moreno Soeprapto justru menyayangkan keputusan impor tersebut karena dianggap tidak sesuai dengan program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
"Dengan Agrinas mengimpor ratusan ribu kendaraan pikap dan light truck, meski untuk transportasi logistik KDMP tidak sesuai dengan Asta Cita yang menjadi program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto," ungkap Moreno Soeprapto.
IMI sebagai induk organisasi kendaraan bermotor menilai kebijakan impor tersebut hanya menguntungkan India. Padahal dengan dana sebesar hampir Rp25 triliun seharusnya bisa terdistribusi ke dalam negeri.
Di sisi lain, spesifikasi kendaraan pick up dan light truck yang akan diimpor PT Agrinas Pangan Nusantara tersebut, sejatinya juga tersedia di Tanah Air.
Momentum bagi Mobnas
Moreno Soeprapto menyatakan bahwa pengadaan mobil untuk Koperasi Desa Merah Putih seharusnya menjadi momentum bagi PT Pindad, Polytron, Kancil dan kendaraan yang diproduksi PT Mobil Anak Bangsa (MAB) yang melibatkan ahli lokal, anak kuliahan serta lulusan SMK.
"PT Pindad sebagai perusahaan calon mobil nasional (mobnas) seperti yang dicanangkan Presiden Prabowo, memiliki kemampuan dalam memproduksi kendaraan nasional, seperti yang dibutuhkan Agrinas," tegas Moreno.
Tak hanya itu, Agrinasi sejatinya juga bisa memanfaatkan mobil produksi dalam negeri untuk kategori pick up maupun light truck. Ada beberapa kendaraan yang sudah diproduksi lokal dengan TKDN mencapai 40 persen seperti pick up dan light truck dari brand Suzuki, Mitsubishi Motors, Daihatsu, Isuzu, Wuling hingga DFSK.
Brand mobil India tidak punya dealer di Indonesia
Moreno juga mempertanyakan soal layanan purna jual termasuk ketersediaan suku cadang jenama otomotif India jika ratusan ribu mobil tersebut sudah digunakan sebagai kendaraan operasional koperasi.
"Kenapa harus impor? Sementara Mahindra & Mahindra dan Tata Motors saja, tidak ada pabrik maupun dealernya di sini. Lalu, bagaimana jika ada kerusakan dan membutuhkan spare part? Mestinya, sampai ke sana dong," beber Moreno.
Moreno menilai, dalam situasi ekonomi lesu termasuk industri otomotif nasional, BUMN seharusnya menjadi instrumen stimulus industri nasional sekaligus pencipta lapangan kerja.
"Jika industri otomotif nasional bergerak, banyak lulusan SMK yang terserap. Apalagi pemerintah berkomitmen meningkatkan lapangan kerja berkualitas, mendorong kewirausahaan, serta mengembangkan industri dan infrastruktur," imbuh Moreno.
Menurut Moreno, kebijakan impor mobil di tengah situasi industri otomotif nasional yang lagi lesu seperti sekarang adalah ironis dan kontradiktif.
Sebelumnya, diberitakan PT Agrinas Pangan Nusantara memutuskan untuk mengimpor 105 ribu unit kendaraan pick up dari India karena didasarkan pada pertimbangan harga.
"Pertimbangannya masalah harga, produk dari manapun yang menyuplai pasar Indonesia, harga untuk tipe 4x4 sangat mahal," ujar Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota.
Menurut Joao, dengan pembelian unit dari India merupakan bentuk efisiensi anggaran APBN. "Kita beli pakai APBN dengan harga hampir setengahnya dari produk-produk yang ada di pasaran Indonesia. Kita melakukan efisiensi secara maksimal," tegas Joao Angelo.
Adapun total 105.000 unit kendaraan yang akan diimpor dari India terdiri dari 35.000 unit Scorpio pick up merek Mahindra serta 70.000 unit produksi Tata Motors, yang terdiri dari 35.000 unit Yodha pick up dan 35.000 unit Ultra T.7 Light Truck.
Jakarta:
Ikatan Motor Indonesia (IMI) buka suara soal wacana PT Agrinas Pangan Nusantara untuk mengimpor 105 ribu unit
kendaraan pick up dari India dengan nilai anggaran mencapai Rp24,66 triliun. Kendaraan tersebut nantinya untuk mendukung operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) Pusat, Moreno Soeprapto justru menyayangkan keputusan impor tersebut karena dianggap tidak sesuai dengan program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
"Dengan Agrinas mengimpor ratusan ribu kendaraan pikap dan light truck, meski untuk transportasi logistik KDMP tidak sesuai dengan Asta Cita yang menjadi program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto," ungkap Moreno Soeprapto.
IMI sebagai induk organisasi kendaraan bermotor menilai kebijakan impor tersebut hanya menguntungkan India. Padahal dengan dana sebesar hampir Rp25 triliun seharusnya bisa terdistribusi ke dalam negeri.
Di sisi lain, spesifikasi kendaraan pick up dan light truck yang akan diimpor PT Agrinas Pangan Nusantara tersebut, sejatinya juga tersedia di Tanah Air.
Momentum bagi Mobnas
Moreno Soeprapto menyatakan bahwa pengadaan mobil untuk Koperasi Desa Merah Putih seharusnya menjadi momentum bagi PT Pindad, Polytron, Kancil dan kendaraan yang diproduksi PT Mobil Anak Bangsa (MAB) yang melibatkan ahli lokal, anak kuliahan serta lulusan SMK.
"PT Pindad sebagai perusahaan calon mobil nasional (mobnas) seperti yang dicanangkan Presiden Prabowo, memiliki kemampuan dalam memproduksi kendaraan nasional, seperti yang dibutuhkan Agrinas," tegas Moreno.
Tak hanya itu, Agrinasi sejatinya juga bisa memanfaatkan mobil produksi dalam negeri untuk kategori pick up maupun light truck. Ada beberapa kendaraan yang sudah diproduksi lokal dengan TKDN mencapai 40 persen seperti pick up dan light truck dari brand Suzuki, Mitsubishi Motors, Daihatsu, Isuzu, Wuling hingga DFSK.
Brand mobil India tidak punya dealer di Indonesia
Moreno juga mempertanyakan soal layanan purna jual termasuk ketersediaan suku cadang jenama otomotif India jika ratusan ribu mobil tersebut sudah digunakan sebagai kendaraan operasional koperasi.
"Kenapa harus impor? Sementara Mahindra & Mahindra dan Tata Motors saja, tidak ada pabrik maupun dealernya di sini. Lalu, bagaimana jika ada kerusakan dan membutuhkan spare part? Mestinya, sampai ke sana dong," beber Moreno.
Moreno menilai, dalam situasi ekonomi lesu termasuk industri otomotif nasional, BUMN seharusnya menjadi instrumen stimulus industri nasional sekaligus pencipta lapangan kerja.
"Jika industri otomotif nasional bergerak, banyak lulusan SMK yang terserap. Apalagi pemerintah berkomitmen meningkatkan lapangan kerja berkualitas, mendorong kewirausahaan, serta mengembangkan industri dan infrastruktur," imbuh Moreno.
Menurut Moreno, kebijakan impor mobil di tengah situasi industri otomotif nasional yang lagi lesu seperti sekarang adalah ironis dan kontradiktif.
Sebelumnya, diberitakan PT Agrinas Pangan Nusantara memutuskan untuk mengimpor 105 ribu unit kendaraan pick up dari India karena didasarkan pada pertimbangan harga.
"Pertimbangannya masalah harga, produk dari manapun yang menyuplai pasar Indonesia, harga untuk tipe 4x4 sangat mahal," ujar Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota.
Menurut Joao, dengan pembelian unit dari India merupakan bentuk efisiensi anggaran APBN. "Kita beli pakai APBN dengan harga hampir setengahnya dari produk-produk yang ada di pasaran Indonesia. Kita melakukan efisiensi secara maksimal," tegas Joao Angelo.
Adapun total 105.000 unit kendaraan yang akan diimpor dari India terdiri dari 35.000 unit Scorpio pick up merek Mahindra serta 70.000 unit produksi Tata Motors, yang terdiri dari 35.000 unit Yodha pick up dan 35.000 unit Ultra T.7 Light Truck.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(PRI)