CATL Qilin battery. CATL
CATL Qilin battery. CATL

CATL Peringatkan Pengembangan Mobil Listrik Terlalu Cepat Bisa Tekan Kualitas Baterai

Ekawan Raharja • 15 September 2026 09:59
Ringkasnya gini..
  • CATL memperingatkan pengembangan mobil listrik yang terlalu cepat dapat menekan proses validasi dan kualitas baterai di China.
  • Robin Zeng menyebut lebih dari 600 model baru meluncur di China pada 2026, atau sekitar tiga model setiap hari.
  • CATL menargetkan tingkat cacat satu sel per satu miliar sel atau 1 PPB untuk menjaga kualitas produksi baterai.
Beijing: Chairman Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL), Robin Zeng, memperingatkan jadwal pengembangan kendaraan listrik yang semakin singkat serta persaingan harga di China berpotensi meningkatkan tekanan terhadap kualitas baterai.

Peringatan tersebut disampaikan dalam 2026 World Power Battery Conference di Yibin, Sichuan, China, pada 3 September 2026.

Mengutip dari Carnewschina, Zeng mengatakan lebih dari 600 model kendaraan baru telah diluncurkan di China sepanjang 2026. Dengan jumlah tersebut, rata-rata terdapat sekitar tiga model kendaraan baru yang diluncurkan setiap hari.

Menurut Zeng, percepatan pengembangan kendaraan untuk mengejar ritme peluncuran tersebut dapat membuat waktu validasi menjadi lebih singkat. Kondisi itu disebut berkontribusi terhadap sejumlah produk baterai kendaraan listrik yang mengalami kegagalan pada tingkat batch produksi.

Meski demikian, Zeng tidak menyebutkan merek kendaraan maupun pemasok baterai yang disebut mengalami masalah tersebut.

Persaingan harga turut menjadi tekanan

Peringatan CATL muncul ketika industri kendaraan listrik China masih menghadapi tekanan harga. Data industri yang dikutip dalam laporan tersebut menunjukkan harga transaksi sejumlah kendaraan listrik massal di China mengalami penurunan pada paruh pertama 2026.

Baca Juga:
Daftar 10 Merek Mobil Terlaris di Indonesia Januari–Agustus 2026


Di sisi lain, harga sel baterai lithium iron phosphate (LFP) dilaporkan berada di bawah 0,35 yuan per Wh atau sekitar USD0,049 per Wh.

Kondisi tersebut menggambarkan tekanan biaya yang dihadapi produsen mobil dan pemasok baterai. Namun penurunan harga kendaraan listrik dan sel baterai tersebut tidak secara langsung membuktikan adanya hubungan sebab-akibat dengan kegagalan baterai.

China sebelumnya juga mencatat sejumlah kasus terkait kualitas baterai kendaraan listrik.

Pada Desember 2025, Viridi E-Mobility Technology, anak usaha Geely, menggugat produsen baterai Sunwoda. Gugatan tersebut berkaitan dengan dugaan cacat kualitas sel baterai yang dipasok pada periode Juni 2021 hingga Desember 2023, dengan nilai tuntutan mencapai 2,31 miliar yuan atau sekitar USD323 juta.

Sengketa tersebut kemudian diselesaikan. Sunwoda disebut sepakat membayar 608 juta yuan atau sekitar USD89 juta setelah memperhitungkan pembayaran yang telah dilakukan sebelumnya.

Kasus lain melibatkan sel baterai CALB yang digunakan pada sekitar 213.000 kendaraan GAC Aion. Sejumlah keluhan yang muncul antara lain baterai menggembung dan kehilangan daya. Kasus tersebut dikenal sebagai kontroversi "banana battery" karena sejumlah sel yang terdampak dilaporkan mengalami perubahan bentuk menjadi melengkung.

Baca Juga:
Honda CT125 Dapat Warna Baru, Harga Rp83,5 Juta


CALB kemudian mengumumkan sejumlah pembenahan terkait kualitas dan langkah pemeriksaan.

CATL gunakan standar error lebih ketat

Zeng juga menyoroti keterbatasan penggunaan standar defect rate berbasis parts per million (PPM) dalam produksi baterai kendaraan listrik dalam skala besar.

Baterai traksi terdiri dari sejumlah sel yang dihubungkan secara seri dan paralel. Dalam konsep yang dikenal sebagai barrel effect, performa sebuah battery pack dapat dipengaruhi oleh sel dengan kapasitas paling rendah atau impedansi paling tinggi ketika sel-sel tersebut tersusun secara seri.

Sebagai ilustrasi, tingkat cacat 1 PPM berarti dari satu miliar sel dapat terdapat hingga 1.000 sel yang mengalami cacat dalam aliran produksi.

CATL menyatakan kepada UDN bahwa perusahaan menetapkan target produksi pada tingkat tidak lebih dari satu cacat untuk setiap satu miliar sel atau 1 PPB (parts per billion). Angka tersebut berarti target tingkat cacat internal CATL 1.000 kali lebih rendah dibandingkan 1 PPM.

Namun, angka 1 PPB tersebut merupakan target internal engineering dan pengendalian produksi CATL, bukan tingkat kegagalan kendaraan yang telah diaudit secara independen.

Pengendalian kualitas sel baterai pada dasarnya bergantung pada kemampuan produsen mengontrol berbagai variabel produksi yang berpotensi menimbulkan cacat tersembunyi. CATL juga menyatakan menggunakan inspeksi otomatis serta pengendalian proses untuk mendeteksi cacat selama produksi sel.

Baca Juga:
iCAR Buka Outlet Baru di QBIG BSD City, Target 30 Dealer hingga Akhir 2026

CATL punya tim khusus untuk mencari potensi kegagalan

Dalam kesempatan tersebut, Zeng turut menjelaskan keberadaan tim internal CATL yang disebut Opponent Group atau Duikangzu. Tim tersebut telah beroperasi sejak perusahaan didirikan.

Tim ini terdiri atas personel dari berbagai bidang, termasuk elektrokimia, teknik mesin, dan kecerdasan buatan. Tugasnya adalah mencari potensi kegagalan yang belum teridentifikasi serta menguji sistem baterai melalui berbagai skenario tekanan ekstrem dan kondisi kegagalan.

Zeng mengatakan Opponent Group memiliki kewenangan veto tunggal terhadap tahapan tertentu dalam proyek baterai dan keputusan pengiriman. CATL tidak mengungkapkan struktur pelaporan organisasi dari tim tersebut.

Skala produksi baterai China sangat besar

Peringatan mengenai kualitas baterai tersebut juga perlu dilihat dari skala industri baterai kendaraan listrik China. Produsen baterai asal China menyumbang lebih dari 70 persen volume pemasangan baterai kendaraan listrik secara global.

SNE Research mencatat pemasangan baterai kendaraan listrik global mencapai 608 GWh pada paruh pertama 2026. Tujuh dari 10 produsen baterai terbesar dalam daftar tersebut berasal dari China.

Dalam skala produksi sebesar itu, tingkat cacat yang sangat kecil sekalipun dapat menghasilkan jumlah sel bermasalah yang signifikan. Namun, keberadaan sel cacat dalam proses produksi tidak otomatis berarti akan terjadi kegagalan pada kendaraan yang telah beredar.

Proses inspeksi tambahan, sistem manajemen baterai atau Battery Management System (BMS), serta pengendalian pada tingkat battery pack dapat mencegah atau mengurangi dampak dari sejumlah potensi kegagalan.

Perbedaan antara reliabilitas sel baterai dan keselamatan kendaraan juga menjadi faktor penting. Pengujian terhadap satu sel, seperti nail penetration test, digunakan untuk mengevaluasi mitigasi terhadap hubungan pendek internal dalam kondisi laboratorium yang terkontrol.

Pengujian tersebut tidak dengan sendirinya menggambarkan bagaimana sebuah battery pack secara utuh akan bekerja ketika menghadapi kecelakaan kendaraan, termasuk deformasi dinamis, kerusakan rumah baterai, maupun kerusakan sistem pendingin.

Pada akhirnya, pernyataan Robin Zeng menyoroti tantangan industri kendaraan listrik China dalam menjaga kualitas baterai di tengah siklus pengembangan kendaraan yang semakin cepat. Target 1 PPB dan sistem pengujian internal CATL menunjukkan standar pengendalian yang diklaim perusahaan untuk produknya sendiri.

Sementara itu, sejumlah kasus kualitas baterai yang sebelumnya terjadi di China menunjukkan bahwa persoalan reliabilitas memang menjadi salah satu tantangan dalam industri kendaraan listrik. Namun, kasus-kasus tersebut belum dapat menjadi bukti bahwa kegagalan baterai disebabkan oleh percepatan siklus pengembangan kendaraan atau melibatkan perusahaan dan produk yang sama seperti yang dimaksud Zeng.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(UDA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan