medcom.id, Jakarta: Ragam diskusi tentang produk bahan bakar ramah lingkungan hingga harapan masyarakat agar pemerintah mendukung penerapan standar emisi yang lebih tinggi, masih belum serius. Pemerintah DKI Jakarta yang diharapkan menjadi raw model bagi pemerintah negara hingga daerah, juga masih terlena dengan banyak hal.
Padahal jika ditilik kembali, komitmen Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk mendatangkan mobil-mobil dengan mesin yang bisa mengkonsumsi bahan bakar compressed natural gas (CNG), merupakan lompatan yang cukup besar.
"Benar, ini menjadi lompatan yang cukup bagus, karena bahan bakar CNG sebenarnya sudah setara dengan lisensi bahan bakar Euro6. Ini menjadi lompatan yang sangat besar, tanpa harus mengeluarkan biaya yang sangat besar. Produsen mobil juga bisa jadi lebih fokus membuat mobil yang lebih ramah lingkungan. Tapi dengan kembalinya bus-bus tersebut mengkonsumsi BBM diesel yang diklaim sudah Euro3, ini pun menjadi sebuah kemunduran besar. Sayang, komitmen awal yang sudah sangat bagus, tak dibarengi dengan komitmen tinggi," kata anggota Komisi Penghapusan Bensin Bertimbal, Ahmad Syafrudin di zona pameran GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) di ICE BSD City pada Jumat (12/8/2016).
Salah satu kendala yang dinilai menjadi penghalang terciptanya penggunaan bahan bakar gas di Indonesia adalah kekhawatiran jika terjadi ledakan. Ini dibantah langsung oleh Ketua Asosiasi Pengusaha CNG Indonesia, Robbi R. Sukardi. Menurutnya, ada yang salah dalam mengkomunikasikan bahwa menggunakan bbg di mobil itu rentan mengalami ledakan.
"Inilah yang perlu disosialisasikan dengan baik. Yaitu tentang bahan bakar gas yang disamakan dengan CNG. Sebenarnya ini beda, karena CNG itu gas yang sudah dipadatkan dan penggunaannya di mobil pun pakai tabung khusus. Sementara gas yang dimaksud bisa meledak adalah LGV (liquid gas for vehicle). LGV itu punya kesetaraan RON 98, sementara CNG mencapai RON 120," beber Robbi.
Pria ramah itu menambahkan bahwa saat ini sudah banyak moda transportasi kita yang sudah menggunakan bbg. Makanya pusat pengisian bbg juga sudah mulai banyak. "Kita ini negara penghasil gas yang cukup besar, kenapa tidak bisa jadi pelopor penggunaan kendaraan berbahan bakar gas? ini sayang, padahal banyak negara yang bukan penghasil gas bumi, malah jadi konsumen bbg yang sudah ramah lingkungan."
Robbi berharap, agar ini menjadi perhatian serius dari pemerintah. Lantaran kalau tidak memulainya sekarang, maka untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain, akan sangat sulit.
medcom.id, Jakarta: Ragam diskusi tentang produk bahan bakar ramah lingkungan hingga harapan masyarakat agar pemerintah mendukung penerapan standar emisi yang lebih tinggi, masih belum serius. Pemerintah DKI Jakarta yang diharapkan menjadi raw model bagi pemerintah negara hingga daerah, juga masih terlena dengan banyak hal.
Padahal jika ditilik kembali, komitmen Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk mendatangkan mobil-mobil dengan mesin yang bisa mengkonsumsi bahan bakar compressed natural gas (CNG), merupakan lompatan yang cukup besar.
"Benar, ini menjadi lompatan yang cukup bagus, karena bahan bakar CNG sebenarnya sudah setara dengan lisensi bahan bakar Euro6. Ini menjadi lompatan yang sangat besar, tanpa harus mengeluarkan biaya yang sangat besar. Produsen mobil juga bisa jadi lebih fokus membuat mobil yang lebih ramah lingkungan. Tapi dengan kembalinya bus-bus tersebut mengkonsumsi BBM diesel yang diklaim sudah Euro3, ini pun menjadi sebuah kemunduran besar. Sayang, komitmen awal yang sudah sangat bagus, tak dibarengi dengan komitmen tinggi," kata anggota Komisi Penghapusan Bensin Bertimbal, Ahmad Syafrudin di zona pameran GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) di ICE BSD City pada Jumat (12/8/2016).
Salah satu kendala yang dinilai menjadi penghalang terciptanya penggunaan bahan bakar gas di Indonesia adalah kekhawatiran jika terjadi ledakan. Ini dibantah langsung oleh Ketua Asosiasi Pengusaha CNG Indonesia, Robbi R. Sukardi. Menurutnya, ada yang salah dalam mengkomunikasikan bahwa menggunakan bbg di mobil itu rentan mengalami ledakan.
"Inilah yang perlu disosialisasikan dengan baik. Yaitu tentang bahan bakar gas yang disamakan dengan CNG. Sebenarnya ini beda, karena CNG itu gas yang sudah dipadatkan dan penggunaannya di mobil pun pakai tabung khusus. Sementara gas yang dimaksud bisa meledak adalah LGV (liquid gas for vehicle). LGV itu punya kesetaraan RON 98, sementara CNG mencapai RON 120," beber Robbi.
Pria ramah itu menambahkan bahwa saat ini sudah banyak moda transportasi kita yang sudah menggunakan bbg. Makanya pusat pengisian bbg juga sudah mulai banyak. "Kita ini negara penghasil gas yang cukup besar, kenapa tidak bisa jadi pelopor penggunaan kendaraan berbahan bakar gas? ini sayang, padahal banyak negara yang bukan penghasil gas bumi, malah jadi konsumen bbg yang sudah ramah lingkungan."
Robbi berharap, agar ini menjadi perhatian serius dari pemerintah. Lantaran kalau tidak memulainya sekarang, maka untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain, akan sangat sulit.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)