Minyak batu bara bisa jadi alternatif BBM fosil? AFP
Minyak batu bara bisa jadi alternatif BBM fosil? AFP

Fakta Bensin Batubara, Bakal jadi Alternatif Bahan Bakar Baru?

Ahmad Garuda • 25 September 2026 20:47
Ringkasnya gini..
  • Wacana pengolahan batu bara menjadi bahan bakar minyak (BBM), khususnya bensin, kembali mencuat ke permukaan publik.
  • Di tengah dinamika geopolitik global dan ketidakpastian rantai pasok energi dunia.
  • Pemerintah Indonesia mulai serius melirik potensi hilirisasi batu bara domestik demi memperkuat kemandirian energi nasional.
Jakarta - Wacana pengolahan batu bara menjadi bahan bakar minyak (BBM), khususnya bensin, kembali mencuat ke permukaan publik. Di tengah dinamika geopolitik global dan ketidakpastian rantai pasok energi dunia, pemerintah Indonesia mulai serius melirik potensi hilirisasi batu bara domestik demi memperkuat kemandirian energi nasional.

Lantas, bagaimana sebenarnya fakta di balik pengolahan "batu hitam" menjadi bahan bakar cair ini? Apakah teknologi ini realistis untuk diterapkan di Indonesia?

1. Mengenal Teknologi Coal-to-Liquid (CTL)
Mengubah batu bara menjadi bensin bukanlah angan-angan kosong secara sains. Proses ini menggunakan teknologi yang dikenal sebagai Coal-to-Liquid (CTL).

Secara teknis, terdapat dua metode utama dalam CTL:
-Pencairan Langsung (Direct Liquefaction): Melarutkan batu bara dengan pelarut khusus pada suhu dan tekanan tinggi.

-Pencairan Tidak Langsung (Indirect Liquefaction): Batu bara terlebih dahulu digasifikasi menjadi gas sintesis atau syngas (campuran karbon monoksida dan hidrogen), sebelum akhirnya diproses kembali melalui katalis menjadi cairan hidrokarbon seperti bensin atau solar.
 

Secara historis, teknologi ini bukan hal baru. Jerman pernah menggunakannya pada masa Perang Dunia, dan Afrika Selatan melalui perusahaan Sasol telah lama mengoperasikan komersialisasi CTL karena keterbatasan akses minyak mentah mereka.

2. Benteng Utama: Tantangan Keekonomian dan Investasi
Kendati dari segi teknologi sudah terbukti dan mapan, tantangan terbesar dalam memproduksi bensin batu bara terletak pada keekonomian proyek.

-Biaya Produksi Tinggi: Membangun fasilitas kilang CTL membutuhkan investasi modal (capital expenditure) yang sangat besar.

-Komparasi Harga: Saat ini, biaya produksi bensin dari batu bara cenderung lebih mahal jika dibandingkan dengan harga minyak mentah konvensional di pasar global. Hal ini membuat keekonomiannya kerap menjadi perdebatan di kalangan investor dan pengamat energi.

3. Solusi Strategis Ketahanan Energi Nasional
Di balik tantangan biaya, dorongan utama pemerintah untuk mengeksplorasi bensin batu bara didasari oleh aspek ketahanan dan kedaulatan negara.

Dengan cadangan batu bara Indonesia yang masih melimpah, pemanfaatan teknologi hilirisasi dinilai mampu menjadi benteng pelindung tatkala terjadi krisis geopolitik global yang memicu lonjakan harga energi atau kelangkaan pasokan BBM impor. 
 

Setelah Indonesia sukses mendorong kemandirian pada sektor biodiesel (seperti program sawit untuk solar), konversi batu bara diharapkan menjadi langkah lanjutan untuk sektor bensin.

4. Prospek ke Depan: Menimbang Sisi Lingkungan dan Efisiensi
Selain aspek keekonomian, pengembangan bensin batu bara juga tidak lepas dari sorotan isu lingkungan. Proses konversi batu bara memancarkan jejak karbon yang cukup tinggi jika tidak diiringi dengan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (Carbon Capture, Utilization, and Storage atau CCUS).

Oleh karena itu, jika pemerintah serius mengeksekusi rencana ini, efisiensi pabrik, pemilihan teknologi ramah lingkungan, serta skema subsidi atau insentif yang tepat akan menjadi penentu utama apakah bensin batu bara ini benar-benar layak membanjiri SPBU di masa depan.

Bagaimana pandangan Anda mengenai pemanfaatan batu bara sebagai alternatif pengganti bensin di Indonesia?

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(UDA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan