medcom.id, Jakarta: Salah satu komponen yang paling berperan saat berbicara tentang kelistrikan adalah komponen aki atau baterai. Beberapa varian mobil yang sudah menggunakan idle start-stop system (ISS), pun mulai membutuhkan baterai dengan spesifikasi khusus.
Alasan paling besar adalah karena ketika mesin idle atau berhenti berkerja saat fitur ISS mengambil-alih pasokan listrik, membuat baterai akan memasok listrik dalam jumlah besar. Misalnya penggunaan AC, kemudian lampu hingga perangkat hiburan di dalam mobil.
"Salah satu alasan terkuat kami mulai memasarkan baterai dengan teknologi yang mendukung kinerja sistem ISS adalah karena banyaknya kendaraan di Indonesia yang sudah mengaplikasi sistem tersebut. Tentunya produsen komponen wajib ikut. Penggunaan baterai konvensional, membuat kinerja pemasok tenaga ke baterai bekerja keras saat mesin dinyalakan. Karena tipe baterai seperti ini mengisi tenaga, ketika kapasitas mulai bekerja. Kalau baterai yang mendukung sistem ISS, memungkinkan baterai terasa lebih awet," ujar Chief of Marketing Astra Otoparts, Rio Sanggau, di ajang GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2016 pada Sabtu (13/8/2016) di ICE BSD City.
Teknologi baterai yang mereka perkenalkan kali ini tentunya lebih pas untuk digunakan di mobil-mobil yang sudah memiliki teknologi ISS atau mobil-mobil ramah lingkungan seperti hybrid. Lantaran baterai ini bisa memasok jumlah tenaga dalam jumlah besar di waktu bersamaan dan juga mengisi dengan cepat dalam waktu singkat.
Meski tak membocorkan teknologi andalannya, namun Technical Advisor, Quality Assurance Astra Otoparts, Sahruddin menegaskan bahwa jelas bahan timah hitam yang digunakan itu sangat berbeda. Sehingga penerimaan tenaga listrik dalam jumlah besar bisa dilakukan dengan cepat.
Jika ditarik garis perkembangannya, teknologi dalam dunia otomotif terutama dari sisi kelistrikan, memang semakin besar. Hampir semua kebutuhan sebuah mobil untuk bergerak itu bekerja dari pasokan sistem kelistrikan. Artinya, bukan hanya produsen otomotif yang dituntut harus menyesuaikan produknya, produsen komponen pun harus ikut aktif memberikan produk dengan penambahan teknologi terkini.
Lantaran harganya cukup mahal yaitu mencapai Rp3 juta, makanya Sahruddin menegaskan untuk tak menggunakan baterai ini di mobil konvensional.
medcom.id, Jakarta: Salah satu komponen yang paling berperan saat berbicara tentang kelistrikan adalah komponen aki atau baterai. Beberapa varian mobil yang sudah menggunakan idle start-stop system (ISS), pun mulai membutuhkan baterai dengan spesifikasi khusus.
Alasan paling besar adalah karena ketika mesin idle atau berhenti berkerja saat fitur ISS mengambil-alih pasokan listrik, membuat baterai akan memasok listrik dalam jumlah besar. Misalnya penggunaan AC, kemudian lampu hingga perangkat hiburan di dalam mobil.
"Salah satu alasan terkuat kami mulai memasarkan baterai dengan teknologi yang mendukung kinerja sistem ISS adalah karena banyaknya kendaraan di Indonesia yang sudah mengaplikasi sistem tersebut. Tentunya produsen komponen wajib ikut. Penggunaan baterai konvensional, membuat kinerja pemasok tenaga ke baterai bekerja keras saat mesin dinyalakan. Karena tipe baterai seperti ini mengisi tenaga, ketika kapasitas mulai bekerja. Kalau baterai yang mendukung sistem ISS, memungkinkan baterai terasa lebih awet," ujar Chief of Marketing Astra Otoparts, Rio Sanggau, di ajang GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2016 pada Sabtu (13/8/2016) di ICE BSD City.
Teknologi baterai yang mereka perkenalkan kali ini tentunya lebih pas untuk digunakan di mobil-mobil yang sudah memiliki teknologi ISS atau mobil-mobil ramah lingkungan seperti hybrid. Lantaran baterai ini bisa memasok jumlah tenaga dalam jumlah besar di waktu bersamaan dan juga mengisi dengan cepat dalam waktu singkat.
Meski tak membocorkan teknologi andalannya, namun Technical Advisor, Quality Assurance Astra Otoparts, Sahruddin menegaskan bahwa jelas bahan timah hitam yang digunakan itu sangat berbeda. Sehingga penerimaan tenaga listrik dalam jumlah besar bisa dilakukan dengan cepat.
Jika ditarik garis perkembangannya, teknologi dalam dunia otomotif terutama dari sisi kelistrikan, memang semakin besar. Hampir semua kebutuhan sebuah mobil untuk bergerak itu bekerja dari pasokan sistem kelistrikan. Artinya, bukan hanya produsen otomotif yang dituntut harus menyesuaikan produknya, produsen komponen pun harus ikut aktif memberikan produk dengan penambahan teknologi terkini.
Lantaran harganya cukup mahal yaitu mencapai Rp3 juta, makanya Sahruddin menegaskan untuk tak menggunakan baterai ini di mobil konvensional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)