Hokkaido: Isuzu Motors berencana memperluas bisnis rekondisi mesin truk bekas sebagai strategi memperpanjang usia kendaraan sekaligus menjaga siklus penjualan di pasar domestik Jepang. Langkah ini juga dibarengi dengan pengembangan fitur kendaraan berbasis perangkat lunak.
Produsen kendaraan niaga tersebut menargetkan pengiriman 8.000 unit mesin rekondisi per tahun pada 2030, atau naik sekitar 60 persen dibandingkan volume saat ini. Isuzu mencatat pengiriman 5.120 mesin rekondisi sepanjang tahun lalu, dikutip dari Nikkei Asia.
Isuzu saat ini menjadi satu-satunya pabrikan otomotif Jepang yang mampu memproduksi ribuan mesin rekondisi setiap tahun secara massal. Seluruh proses dilakukan secara internal, sebuah pendekatan yang tergolong langka di industri otomotif global.
Proses rekondisi dilakukan di pabrik khusus di Hokkaido. Mesin-mesin rusak dari berbagai wilayah di Jepang dikirim ke fasilitas ini untuk dibongkar total. Teknisi kemudian memilah setiap komponen berdasarkan tingkat kelayakan pakai.
Baca Juga:
Tren Modifikasi Cat Kendaraan, Warna Custom Bakal Digemari Tahun 2026
Komponen yang masih bisa digunakan akan dibersihkan, dicek tingkat keausannya, dan dikerjakan ulang bila diperlukan. Setelah itu, mesin dirakit kembali menggunakan prosedur yang sama seperti produksi mesin baru, serta diuji dengan standar kualitas setara mesin baru sebelum dikirim ke pelanggan.
Untuk meningkatkan volume produksi, Isuzu menargetkan otomatisasi proses rekondisi. Perusahaan juga ingin menaikkan tingkat pemanfaatan ulang komponen menjadi 60–70 persen, dari posisi saat ini di kisaran 40–50 persen.
Isuzu mulai menjalankan bisnis rekondisi mesin di Hokkaido sejak 2010, lalu mengoperasikan pabrik khusus pada 2015. Fasilitas ini mampu merekondisi mesin truk sejak model tahun 1999, mencakup 184 tipe mesin dari 19 model kendaraan. “Kami bisa merekondisi mesin hingga mendekati kondisi mesin baru,” ujar pimpinan unit bisnis fasilitas Hokkaido.
Biasanya, mesin truk diperbaiki di bengkel lokal. Namun, untuk kerusakan berat, mesin harus dikirim ke fasilitas khusus dengan waktu pengerjaan lebih dari satu bulan. Kondisi ini berdampak langsung pada pendapatan dan profit operator truk.
Untuk memangkas downtime, Isuzu menyimpan stok mesin rekondisi di Prefektur Tochigi untuk berbagai model kendaraan. Dengan sistem ini, truk bisa kembali beroperasi dalam hitungan beberapa hari hingga sekitar dua minggu.
Baca Juga:
Data Penjualan Otomotif China 2025: Ada yang Sukses, Ada yang Gagal
Kendaraan niaga dikenal menempuh jarak jauh dalam waktu singkat, sehingga mesin mengalami keausan ekstrem. Sementara itu, kondisi bodi kendaraan sering kali masih sangat layak pakai. Dengan penggantian mesin, kendaraan dapat kembali beroperasi secara optimal.
Mesin rekondisi juga dinilai krusial untuk memperpanjang usia kendaraan khusus seperti ambulans, yang memiliki peralatan mahal dan sulit diganti, bahkan ketika modelnya sudah tidak diproduksi lagi.
“Ketersediaan mesin rekondisi membuat Isuzu menjadi pilihan yang lebih realistis bagi pelanggan,” kata perwakilan pabrik Hokkaido.
Di sisi lain, Isuzu juga mengembangkan konsep software-defined vehicle, di mana fungsi kendaraan dapat ditingkatkan melalui pembaruan perangkat lunak setelah penjualan. Strategi ini diyakini mampu memperpanjang siklus hidup kendaraan baru secara signifikan.
Jika fitur kendaraan dapat terus ditingkatkan lewat software, maka komponen fisik yang tahan lama menjadi kunci retensi pelanggan. “Kami bekerja sama dengan tim pengembangan untuk memahami pola keausan komponen,” ujar perwakilan tersebut.
Dengan pasar utama di Thailand yang melambat serta tekanan tarif di Amerika Utara, menjaga dominasi di pasar kendaraan niaga Jepang menjadi semakin krusial bagi Isuzu. Perusahaan berharap bisnis mesin rekondisi ini mampu mempertahankan loyalitas pelanggan sekaligus menjaga pangsa pasar domestik.
Hokkaido: Isuzu Motors berencana memperluas bisnis rekondisi
mesin truk bekas sebagai strategi memperpanjang usia kendaraan sekaligus menjaga siklus penjualan di pasar domestik Jepang. Langkah ini juga dibarengi dengan pengembangan
fitur kendaraan berbasis perangkat lunak.
Produsen kendaraan niaga tersebut menargetkan pengiriman 8.000 unit mesin rekondisi per tahun pada 2030, atau naik sekitar 60 persen dibandingkan volume saat ini. Isuzu mencatat pengiriman 5.120 mesin rekondisi sepanjang tahun lalu, dikutip dari Nikkei Asia.
Isuzu saat ini menjadi satu-satunya pabrikan otomotif Jepang yang mampu memproduksi ribuan mesin rekondisi setiap tahun secara massal. Seluruh proses dilakukan secara internal, sebuah pendekatan yang tergolong langka di industri otomotif global.
Proses rekondisi dilakukan di pabrik khusus di Hokkaido. Mesin-mesin rusak dari berbagai wilayah di Jepang dikirim ke fasilitas ini untuk dibongkar total. Teknisi kemudian memilah setiap komponen berdasarkan tingkat kelayakan pakai.
Komponen yang masih bisa digunakan akan dibersihkan, dicek tingkat keausannya, dan dikerjakan ulang bila diperlukan. Setelah itu, mesin dirakit kembali menggunakan prosedur yang sama seperti produksi mesin baru, serta diuji dengan standar kualitas setara mesin baru sebelum dikirim ke pelanggan.
Untuk meningkatkan volume produksi, Isuzu menargetkan otomatisasi proses rekondisi. Perusahaan juga ingin menaikkan tingkat pemanfaatan ulang komponen menjadi 60–70 persen, dari posisi saat ini di kisaran 40–50 persen.
Isuzu mulai menjalankan bisnis rekondisi mesin di Hokkaido sejak 2010, lalu mengoperasikan pabrik khusus pada 2015. Fasilitas ini mampu merekondisi mesin truk sejak model tahun 1999, mencakup 184 tipe mesin dari 19 model kendaraan. “Kami bisa merekondisi mesin hingga mendekati kondisi mesin baru,” ujar pimpinan unit bisnis fasilitas Hokkaido.
Biasanya, mesin truk diperbaiki di bengkel lokal. Namun, untuk kerusakan berat, mesin harus dikirim ke fasilitas khusus dengan waktu pengerjaan lebih dari satu bulan. Kondisi ini berdampak langsung pada pendapatan dan profit operator truk.
Untuk memangkas downtime, Isuzu menyimpan stok mesin rekondisi di Prefektur Tochigi untuk berbagai model kendaraan. Dengan sistem ini, truk bisa kembali beroperasi dalam hitungan beberapa hari hingga sekitar dua minggu.
Kendaraan niaga dikenal menempuh jarak jauh dalam waktu singkat, sehingga mesin mengalami keausan ekstrem. Sementara itu, kondisi bodi kendaraan sering kali masih sangat layak pakai. Dengan penggantian mesin, kendaraan dapat kembali beroperasi secara optimal.
Mesin rekondisi juga dinilai krusial untuk memperpanjang usia kendaraan khusus seperti ambulans, yang memiliki peralatan mahal dan sulit diganti, bahkan ketika modelnya sudah tidak diproduksi lagi.
“Ketersediaan mesin rekondisi membuat Isuzu menjadi pilihan yang lebih realistis bagi pelanggan,” kata perwakilan pabrik Hokkaido.
Di sisi lain, Isuzu juga mengembangkan konsep software-defined vehicle, di mana fungsi kendaraan dapat ditingkatkan melalui pembaruan perangkat lunak setelah penjualan. Strategi ini diyakini mampu memperpanjang siklus hidup kendaraan baru secara signifikan.
Jika fitur kendaraan dapat terus ditingkatkan lewat software, maka komponen fisik yang tahan lama menjadi kunci retensi pelanggan. “Kami bekerja sama dengan tim pengembangan untuk memahami pola keausan komponen,” ujar perwakilan tersebut.
Dengan pasar utama di Thailand yang melambat serta tekanan tarif di Amerika Utara, menjaga dominasi di pasar kendaraan niaga Jepang menjadi semakin krusial bagi Isuzu. Perusahaan berharap bisnis mesin rekondisi ini mampu mempertahankan loyalitas pelanggan sekaligus menjaga pangsa pasar domestik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)