Oslo: Seiring kendaraan semakin terhubung secara digital, isu keamanan siber kini menjadi perhatian baru di sektor transportasi. Di Norwegia, bus listrik publik buatan produsen asal China menjadi sorotan setelah Ruter, operator transportasi terbesar di negara tersebut,menemukan potensi risiko keamanan.
Ruter mengungkap temuan ini setelah melakukan pengujian rahasia di fasilitas tertutup miliknya. Dalam investigasi itu, mereka menguji bus buatan Belanda dan China. Bus produksi Yutong, produsen asal China, ternyata memiliki SIM card asal Rumania yang tersembunyi di dalam sistemnya.
Menurut pihak Yutong, SIM card tersebut digunakan untuk pembaruan perangkat lunak jarak jauh dan pemecahan masalah teknis. Namun, koneksi itu juga memberikan potensi bagi Yutong untuk mengendalikan bus dari jarak jauh atau membuatnya tidak berfungsi melalui pembaruan perangkat lunak.
Meski begitu, Ruter menegaskan belum menemukan bukti adanya aktivitas berbahaya. Pengujian tersebut merupakan bagian dari audit keamanan siber yang lebih luas untuk menilai kerentanan pada kendaraan listrik.
Baca Juga:
GIIAS Makassar 2025 Pakai Lokasi Baru, Tiket Tetap Terjangkau
CEO Ruter, Bernt Reitan Jenssen, menegaskan bahwa pihaknya kini tengah “berpindah dari perhatian ke pengetahuan konkret,” dengan menerapkan langkah-langkah keamanan baru dan memperketat standar pengadaan untuk memastikan kendali penuh berada di pihak lokal.
Langkah-langkah pengamanan itu mencakup pembuatan firewall internal, pemisahan sistem bus dari jaringan cloud eksternal, serta bekerja sama dengan otoritas nasional untuk memperkuat protokol keamanan siber di sektor transportasi.
Menteri Transportasi Norwegia, Jon-Ivar Nygård, memuji inisiatif Ruter dan menyatakan pemerintah kini meninjau ulang potensi risiko dari pemasok luar negeri.
“Bersama dengan pemain seperti Ruter, kami akan memastikan bahwa sektor ini tidak terlalu terpapar risiko,” ujar Jon-Ivar Nygård kepada NRK dan ditulis oleh Carscoops.
Baca Juga:
Keren, Mekanik Indonesia Ikut 'Piala Dunia' Kontes Mekanik Di Jepang
Temuan ini muncul di tengah pesatnya ekspansi bus listrik buatan China di Norwegia. Dari sekitar 1.300 unit bus listrik yang beroperasi di seluruh negeri, sekitar 850 unit merupakan buatan Yutong. Di wilayah Oslo dan Akershus saja, sekitar 300 unit digunakan setiap hari.
Meski Ruter menilai kemungkinan adanya kendali jarak jauh sangat kecil, isu ini menimbulkan diskusi yang lebih besar soal kedaulatan digital dan kontrol asing terhadap infrastruktur publik.
Untuk saat ini, Ruter memastikan seluruh bus tetap dapat beroperasi secara independen dengan menghapus SIM card yang tertanam, menjaga agar sistem tetap lokal dan offline.
Oslo: Seiring kendaraan semakin terhubung secara digital, isu keamanan siber kini menjadi perhatian baru di sektor
transportasi. Di Norwegia,
bus listrik publik buatan produsen asal China menjadi sorotan setelah Ruter, operator transportasi terbesar di negara tersebut,menemukan potensi risiko keamanan.
Ruter mengungkap temuan ini setelah melakukan pengujian rahasia di fasilitas tertutup miliknya. Dalam investigasi itu, mereka menguji bus buatan Belanda dan China. Bus produksi Yutong, produsen asal China, ternyata memiliki SIM card asal Rumania yang tersembunyi di dalam sistemnya.
Menurut pihak Yutong, SIM card tersebut digunakan untuk pembaruan perangkat lunak jarak jauh dan pemecahan masalah teknis. Namun, koneksi itu juga memberikan potensi bagi Yutong untuk mengendalikan bus dari jarak jauh atau membuatnya tidak berfungsi melalui pembaruan perangkat lunak.
Meski begitu, Ruter menegaskan belum menemukan bukti adanya aktivitas berbahaya. Pengujian tersebut merupakan bagian dari audit keamanan siber yang lebih luas untuk menilai kerentanan pada kendaraan listrik.
CEO Ruter, Bernt Reitan Jenssen, menegaskan bahwa pihaknya kini tengah “berpindah dari perhatian ke pengetahuan konkret,” dengan menerapkan langkah-langkah keamanan baru dan memperketat standar pengadaan untuk memastikan kendali penuh berada di pihak lokal.
Langkah-langkah pengamanan itu mencakup pembuatan firewall internal, pemisahan sistem bus dari jaringan cloud eksternal, serta bekerja sama dengan otoritas nasional untuk memperkuat protokol keamanan siber di sektor transportasi.
Menteri Transportasi Norwegia, Jon-Ivar Nygård, memuji inisiatif Ruter dan menyatakan pemerintah kini meninjau ulang potensi risiko dari pemasok luar negeri.
“Bersama dengan pemain seperti Ruter, kami akan memastikan bahwa sektor ini tidak terlalu terpapar risiko,” ujar Jon-Ivar Nygård kepada NRK dan ditulis oleh Carscoops.
Temuan ini muncul di tengah pesatnya ekspansi bus listrik buatan China di Norwegia. Dari sekitar 1.300 unit bus listrik yang beroperasi di seluruh negeri, sekitar 850 unit merupakan buatan Yutong. Di wilayah Oslo dan Akershus saja, sekitar 300 unit digunakan setiap hari.
Meski Ruter menilai kemungkinan adanya kendali jarak jauh sangat kecil, isu ini menimbulkan diskusi yang lebih besar soal kedaulatan digital dan kontrol asing terhadap infrastruktur publik.
Untuk saat ini, Ruter memastikan seluruh bus tetap dapat beroperasi secara independen dengan menghapus SIM card yang tertanam, menjaga agar sistem tetap lokal dan offline.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)