Jakarta - Populasi mobil listrik yang kian banyak di Indonesia, ternyata tidak disertai dengan pemahaman kemudahan untuk pengisian daya. Bahkan banyak dari mereka yang membeli mobil listrik malah mengandalkan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) untuk mengisi daya kendaraannya.
Menurut CEO Inchcape GWM Indonesia, Bagus Susanto dalam diskusi Mobil Diesel, Masa Kini dan Nanti yang digelar oleh OtoHub.co, bahwa penggunaan mobil listrik bukan hanya kemudahan saja. Namun harus disertai juga dengan pola pikir yang lebih pintar.
"Banyak orang yang menganggap membeli mobil listrik itu mengisi daya listriknya sulit karena antrean di SPKLU yang cukup panjang. Padahal pola pikir pembeli mobil listrik ini yang harusnya diubah. Pasang home charging atau pengisian daya di rumah, maka masalah itu akan selesai," ujar Bagus Susanto pada Sabtu (28/6/2026) di Ibis Style Hotel, Sunter, Jakarta.
Ia melihat banyak orang yang tidak paham akan hal ini. Padahal mobil listrik itu justru menyajikan kemudahan. Hal ini diungkapkan oleh Bagus lantaran beberapa pengguna mobil listrik mengeluhkan antrean di SPKLU mulai menyita waktu yang cukup banyak.
Baca Juga:
Perbandingan Biaya Cas di Rumah BYD M6 dan Wuling Darion EV
Padahal jika menganut pola kemudahan fasilitas, tentu memasang pengisian daya di rumah jauh lebih mudah dibandingkan menggunakan mobil ICE. "Kalau mobil berbahan bakar, ya Kita harus ke SPBU untuk mengisi BBM karena di rumah Kita tidak bisa buka SPBU sendiri. Tapi kalau mobil listrik kan bisa pasang pengisian daya sendiri."
Selain itu, faktor biaya listrik di SPKLU juga lebih mahal hampir 2 kali lipat dari biaya listrik per kWh untuk Home Charging. Lalu mengapa harus memilih mengisi daya listrik di SPKLU jika bisa mengisi daya sendiri di rumah. Apalagi kemudahan pengisian juga bisa sambil ditinggal tidur.
"Memang ada selisih biaya sekitar Rp15 juta untuk pemasangan home charging, namun ini harus dimasukkan dalam daftar pembelian agar penggunaan mobil listrik lebih mudah. Makanya penting juga membeli mobil listrik dari brand yang telah memasukkan pemasangan home charging dalam paket pembelian."
Bagus juga mensimulasikan penggunaan daya di mobil listrik juga tidak akan setiap hari harus melakukan pengisian daya. Kalau cuma wara-wiri dalam kota yang kurang lebih cuma 100 km saja untuk sehari-hari, rasanya akan sangat mudah menggunakan mobil listrik.
Baca Juga:
Memahami Perbedaan Rest Area Tipe A, B Dan C di Jalan Tol
Jadi masih menganggap penggunaan mobil listrik ribet antre di SPKLU? Buang jauh-jauh asumsi tersebut. Kecuali memang mobil ini akan digunakan untuk perjalan panjang seperti keluar kota dari Jakarta ke Semarang atau Jakarta ke Surabaya.
Jakarta - Populasi
mobil listrik yang kian banyak di Indonesia, ternyata tidak disertai dengan pemahaman kemudahan untuk pengisian daya. Bahkan banyak dari mereka yang membeli mobil listrik malah mengandalkan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (
SPKLU) untuk mengisi daya kendaraannya.
Menurut CEO Inchcape GWM Indonesia, Bagus Susanto dalam diskusi Mobil Diesel, Masa Kini dan Nanti yang digelar oleh OtoHub.co, bahwa penggunaan mobil listrik bukan hanya kemudahan saja. Namun harus disertai juga dengan pola pikir yang lebih pintar.
"Banyak orang yang menganggap membeli mobil listrik itu mengisi daya listriknya sulit karena antrean di SPKLU yang cukup panjang. Padahal pola pikir pembeli mobil listrik ini yang harusnya diubah. Pasang home charging atau pengisian daya di rumah, maka masalah itu akan selesai," ujar Bagus Susanto pada Sabtu (28/6/2026) di Ibis Style Hotel, Sunter, Jakarta.
Ia melihat banyak orang yang tidak paham akan hal ini. Padahal mobil listrik itu justru menyajikan kemudahan. Hal ini diungkapkan oleh Bagus lantaran beberapa pengguna mobil listrik mengeluhkan antrean di SPKLU mulai menyita waktu yang cukup banyak.
Padahal jika menganut pola kemudahan fasilitas, tentu memasang pengisian daya di rumah jauh lebih mudah dibandingkan menggunakan mobil ICE. "Kalau mobil berbahan bakar, ya Kita harus ke SPBU untuk mengisi BBM karena di rumah Kita tidak bisa buka SPBU sendiri. Tapi kalau mobil listrik kan bisa pasang pengisian daya sendiri."
Selain itu, faktor biaya listrik di SPKLU juga lebih mahal hampir 2 kali lipat dari biaya listrik per kWh untuk Home Charging. Lalu mengapa harus memilih mengisi daya listrik di SPKLU jika bisa mengisi daya sendiri di rumah. Apalagi kemudahan pengisian juga bisa sambil ditinggal tidur.
"Memang ada selisih biaya sekitar Rp15 juta untuk pemasangan home charging, namun ini harus dimasukkan dalam daftar pembelian agar penggunaan mobil listrik lebih mudah. Makanya penting juga membeli mobil listrik dari brand yang telah memasukkan pemasangan home charging dalam paket pembelian."
Bagus juga mensimulasikan penggunaan daya di mobil listrik juga tidak akan setiap hari harus melakukan pengisian daya. Kalau cuma wara-wiri dalam kota yang kurang lebih cuma 100 km saja untuk sehari-hari, rasanya akan sangat mudah menggunakan mobil listrik.
Jadi masih menganggap penggunaan mobil listrik ribet antre di SPKLU? Buang jauh-jauh asumsi tersebut. Kecuali memang mobil ini akan digunakan untuk perjalan panjang seperti keluar kota dari Jakarta ke Semarang atau Jakarta ke Surabaya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda(UDA)