medcom.id, Jakarta: Berpetualang ke kota tertentu melalui kondisi jalanan rusak dan off road, tak semua bikers pernah melakukannya. Menjelajah wilayah yang tak umum tentu akan memberikan pengalaman menarik.
Diluar rute dan hobi mereka, dari sisi safety gear tidak beda jauh dengan pakaian berkendara umumnya. Helm, jaket, sarung tangan, sepatu dan celana panjang. Hanya saja, para petualang yang tidak biasa ini lebih suka pakai helm supermoto untuk dipakai menjelajah.
Helm jenis ini bentuknya seperti helm motocross dengan pet (topi) dan bentuk dagu yang lebih ke depan. Hanya saja dilengkapi kaca seperti helm full face, bukan google yang dipakai terpisah seperti helm motocross.
“Pakai helm ini karena saya suka lewat jalan yang non aspal, rasanya lebih nyaman dan aman pakai helm ini,” papar Adet Triono, salah satu pengguna helm supermoto. “Secara tampilan juga terlihat lebih gagah,” sambungnya.
Ini juga diamini Andry Berlianto, instruktur safety riding dari Jakarta Road Survival. “Helm supermoto didesain untuk kecepatan sedang dan stop and go, bukan full speed. Selain itu aliran pernafasan juga lebih lega tidak pengap seperti pakai full face,” katanya.
Namun helm ini punya satu kelemahan, yakni tidak bisa dipakai berkendara pada kecepatan tinggi. “Karena pet helm akan menahan angin, jadi kepala seperti tertarik kebelakang,” urai Adet lagi.
Dari sisi keamanan, sudah pasti helm-helm ini sudah memenuhi standar semisal SNI, DOT hingga Snell. “Jarang digunakan untuk kecepatan tinggi justru mengurangi risiko celaka, beda dengan penguna helm full face yang bisa high speed,” kata Andri lagi.
Dari sisi kenyamanan pun tak kalah, makanya helm ini dilengkapi pula dengan double visor serta lubang ventilasi supaya pengguna tidak kegerahan.
Pilihan merek cukup banyak. Untuk versi lokal, ada MDS Supermoto dan KYT Supermoto dengan harga Rp500 ribu-an. Kemudian ada juga Snail dan Zeus dengan harga tak sampai Rp1 juta. Jika mau merek ternama ada Caberg Tourmax atau Airoh S5, dengan harga di atas Rp3 Juta.
medcom.id, Jakarta: Berpetualang ke kota tertentu melalui kondisi jalanan rusak dan
off road, tak semua bikers pernah melakukannya. Menjelajah wilayah yang tak umum tentu akan memberikan pengalaman menarik.
Diluar rute dan hobi mereka, dari sisi
safety gear tidak beda jauh dengan pakaian berkendara umumnya. Helm, jaket, sarung tangan, sepatu dan celana panjang. Hanya saja, para petualang yang tidak biasa ini lebih suka pakai helm supermoto untuk dipakai menjelajah.
Helm jenis ini bentuknya seperti helm motocross dengan
pet (topi) dan bentuk dagu yang lebih ke depan. Hanya saja dilengkapi kaca seperti helm
full face, bukan
google yang dipakai terpisah seperti helm motocross.
“Pakai helm ini karena saya suka lewat jalan yang non aspal, rasanya lebih nyaman dan aman pakai helm ini,” papar Adet Triono, salah satu pengguna helm supermoto. “Secara tampilan juga terlihat lebih gagah,” sambungnya.
Ini juga diamini Andry Berlianto, instruktur
safety riding dari Jakarta
Road Survival. “Helm supermoto didesain untuk kecepatan sedang dan
stop and go, bukan
full speed. Selain itu aliran pernafasan juga lebih lega tidak pengap seperti pakai
full face,” katanya.
Namun helm ini punya satu kelemahan, yakni tidak bisa dipakai berkendara pada kecepatan tinggi. “Karena pet helm akan menahan angin, jadi kepala seperti tertarik kebelakang,” urai Adet lagi.
Dari sisi keamanan, sudah pasti helm-helm ini sudah memenuhi standar semisal SNI, DOT hingga Snell. “Jarang digunakan untuk kecepatan tinggi justru mengurangi risiko celaka, beda dengan penguna helm
full face yang bisa
high speed,” kata Andri lagi.
Dari sisi kenyamanan pun tak kalah, makanya helm ini dilengkapi pula dengan
double visor serta lubang ventilasi supaya pengguna tidak kegerahan.
Pilihan merek cukup banyak. Untuk versi lokal, ada MDS Supermoto dan KYT Supermoto dengan harga Rp500 ribu-an. Kemudian ada juga Snail dan Zeus dengan harga tak sampai Rp1 juta. Jika mau merek ternama ada Caberg Tourmax atau Airoh S5, dengan harga di atas Rp3 Juta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)