Kolombo: Pemerintah Sri Lanka meminta para pemilik kendaraan listrik (electric vehicle/EV) untuk tidak mengisi daya pada malam hari. Imbauan ini muncul setelah lonjakan konsumsi listrik malam hari dinilai membebani jaringan listrik nasional dan memaksa penggunaan energi berbasis fosil.
Presiden Sri Lanka, Anura Kumara Dissanayake, menyebut kebiasaan pengisian daya kendaraan listrik setelah jam kerja meningkatkan permintaan listrik hingga 300 megawatt pada malam hari.
“Pemilik mobil listrik mengisi daya kendaraan mereka saat pulang kerja. Hal ini memberikan beban tambahan pada jaringan listrik, dan kami terpaksa mengoperasikan seluruh pembangkit untuk memenuhi lonjakan ini,” ujar Dissanayake dikutip dari The Straits Times.
Ia menjelaskan sebagian besar pasokan listrik malam hari masih bergantung pada pembangkit listrik berbahan batu bara berkapasitas 900 megawatt serta tambahan sekitar 1.000 megawatt dari diesel. Kondisi ini dinilai bertolak belakang dengan citra ramah lingkungan yang diusung kendaraan listrik.
Baca Juga:
Jasa Marga Prediksi Puncak Arus Balik Lebaran 2026 Terjadi 29 Maret
Di sisi lain, Sri Lanka belum memiliki sistem penyimpanan energi skala besar untuk memanfaatkan kelebihan listrik dari energi surya pada siang hari. “Isi daya mobil Anda siang hari saat kami memiliki kelebihan listrik dari tenaga surya,” kata Dissanayake.
Ia menambahkan pemerintah tengah menyiapkan skema tarif listrik baru untuk menekan pengisian daya pada malam hari.
Lonjakan jumlah kendaraan listrik di Sri Lanka terjadi setelah pemerintah mencabut larangan impor kendaraan selama lima tahun pada Februari 2025. Sejak saat itu, lebih dari 10 persen kendaraan yang masuk ke negara tersebut merupakan mobil listrik.
Namun, peningkatan penggunaan EV ini terjadi di tengah krisis energi yang dipicu konflik di Timur Tengah. Pemerintah bahkan mulai melakukan pembatasan bahan bakar dan menerapkan kebijakan empat hari kerja sejak 18 Maret guna menghemat energi.
Baca Juga:
Ini Komponen Mobil yang Wajib Dicek Pasca Mudik Lebaran
Presiden Dissanayake juga mengungkapkan bahwa negaranya gagal mendapatkan dua pengiriman minyak mentah masing-masing 90.000 ton akibat konflik tersebut. Saat ini, pemerintah tengah menjajaki kerja sama dengan negara sahabat seperti India dan Russia untuk memenuhi kebutuhan energi.
Kebijakan penghematan energi ini berdampak langsung pada aktivitas masyarakat. Pada 18 Maret, lalu lintas di jalanan Colombo terpantau lengang, sementara sekolah, kantor pemerintah, dan perbankan tutup sementara.
Kolombo: Pemerintah Sri Lanka meminta para pemilik
kendaraan listrik (electric vehicle/EV) untuk tidak mengisi daya pada malam hari. Imbauan ini muncul setelah lonjakan konsumsi listrik malam hari dinilai membebani jaringan listrik nasional dan memaksa penggunaan energi berbasis fosil.
Presiden Sri Lanka, Anura Kumara Dissanayake, menyebut kebiasaan pengisian daya kendaraan listrik setelah jam kerja meningkatkan permintaan listrik hingga 300 megawatt pada malam hari.
“Pemilik mobil listrik mengisi daya kendaraan mereka saat pulang kerja. Hal ini memberikan beban tambahan pada jaringan listrik, dan kami terpaksa mengoperasikan seluruh pembangkit untuk memenuhi lonjakan ini,” ujar Dissanayake dikutip dari The Straits Times.
Ia menjelaskan sebagian besar pasokan listrik malam hari masih bergantung pada pembangkit listrik berbahan batu bara berkapasitas 900 megawatt serta tambahan sekitar 1.000 megawatt dari diesel. Kondisi ini dinilai bertolak belakang dengan citra ramah lingkungan yang diusung kendaraan listrik.
Di sisi lain, Sri Lanka belum memiliki sistem penyimpanan energi skala besar untuk memanfaatkan kelebihan listrik dari energi surya pada siang hari. “Isi daya mobil Anda siang hari saat kami memiliki kelebihan listrik dari tenaga surya,” kata Dissanayake.
Ia menambahkan pemerintah tengah menyiapkan skema tarif listrik baru untuk menekan pengisian daya pada malam hari.
Lonjakan jumlah kendaraan listrik di Sri Lanka terjadi setelah pemerintah mencabut larangan impor kendaraan selama lima tahun pada Februari 2025. Sejak saat itu, lebih dari 10 persen kendaraan yang masuk ke negara tersebut merupakan mobil listrik.
Namun, peningkatan penggunaan EV ini terjadi di tengah krisis energi yang dipicu konflik di Timur Tengah. Pemerintah bahkan mulai melakukan pembatasan bahan bakar dan menerapkan kebijakan empat hari kerja sejak 18 Maret guna menghemat energi.
Presiden Dissanayake juga mengungkapkan bahwa negaranya gagal mendapatkan dua pengiriman minyak mentah masing-masing 90.000 ton akibat konflik tersebut. Saat ini, pemerintah tengah menjajaki kerja sama dengan negara sahabat seperti India dan Russia untuk memenuhi kebutuhan energi.
Kebijakan penghematan energi ini berdampak langsung pada aktivitas masyarakat. Pada 18 Maret, lalu lintas di jalanan Colombo terpantau lengang, sementara sekolah, kantor pemerintah, dan perbankan tutup sementara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)