DKI Jakarta: Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menyatakan hasil uji coba bahan bakar nabati biodiesel B50 menunjukkan kualitas yang memenuhi standar, khususnya untuk kadar air. Pemerintah pun menargetkan implementasi B50 secara nasional mulai 1 Juli 2026.
Kepala Divisi Penyaluran Dana Bahan Bakar Nabati BPDP, Zuhdi Eka Nurrakhman, mengatakan pengujian B50 telah dilakukan pada sejumlah moda transportasi sejak akhir 2025.
“Dari hasil uji coba, 99,88 persen kualitasnya sampel memenuhi standar kadar air, maksimal 320 ppm,” kata dia dikutip dari Antara.
Ia menjelaskan untuk sektor otomotif, uji jalan kendaraan berat sejauh 40.000 kilometer telah selesai dengan hasil stabil. Sementara uji kendaraan ringan ditargetkan selesai pada Mei 2026.
Baca Juga: PEVS 2026 Bakal Lebih Besar & Meriah Dibandingkan Sebelumnya
Di sektor lain, pemerintah masih melakukan pengujian stabilitas penyimpanan untuk angkutan laut yang dijadwalkan selesai Mei 2026. Sedangkan uji pada kereta api ditargetkan selesai Oktober 2026.
BPDP juga menilai program mandatori biodiesel tetap berjalan konsisten meski harga minyak dunia mengalami gejolak. Pada 2024, realisasi penyaluran biodiesel B35 mencapai 13,14 juta kiloliter (KL), sedangkan penyaluran B40 pada 2025 mencapai 14,7 juta KL.
Meski demikian, implementasi B50 masih menghadapi sejumlah tantangan. Zuhdi mengatakan kapasitas produksi biodiesel nasional masih terbatas, sementara infrastruktur pendukung seperti dermaga, pengangkutan, dan tangki penyimpanan juga perlu ditingkatkan. Selain itu, disparitas harga antara bahan bakar nabati (BBN) dan bahan bakar minyak (BBM) dinilai berpotensi meningkatkan beban insentif biodiesel.
“Dalam kondisi geopolitik saat ini, implementasi B50 pada semester II 2026 mengakibatkan pembiayaan BPDP defisit. Hitungannya, harga minyak dunia berada di bawah 100 dolar AS/barel dengan asumsi harga BBN tetap,” ujar Zuhdi Eka Nurrakhman.
Ia menambahkan dalam kondisi normal tanpa gejolak geopolitik, implementasi B50 tetap berisiko menyebabkan defisit pembiayaan karena selisih harga indeks pasar (HIP) biodiesel dan solar terus meningkat seiring kenaikan kadar campuran biodiesel.
“Hasil kajian menunjukkan untuk membiayai program B50 pada kondisi normal dibutuhkan sumber pembiayaan dari PE dengan tarif 23,8 persen, sementara tarif PE eksisting sebesar 12,5 persen," ujarnya.
Untuk menjaga keberlanjutan program biodiesel, BPDP mengusulkan sejumlah opsi kebijakan, mulai dari dukungan APBN, penyesuaian tarif Pajak Ekspor (PE), penyesuaian kadar campuran biodiesel, hingga penyesuaian harga jual bahan bakar di masyarakat.
DKI Jakarta: Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menyatakan hasil uji coba bahan bakar nabati
biodiesel B50 menunjukkan kualitas yang memenuhi standar, khususnya untuk kadar air. Pemerintah pun menargetkan implementasi B50 secara nasional mulai 1 Juli 2026.
Kepala Divisi Penyaluran Dana Bahan Bakar Nabati BPDP, Zuhdi Eka Nurrakhman, mengatakan pengujian B50 telah dilakukan pada sejumlah moda transportasi sejak akhir 2025.
“Dari hasil uji coba, 99,88 persen kualitasnya sampel memenuhi standar kadar air, maksimal 320 ppm,” kata dia dikutip dari Antara.
Ia menjelaskan untuk sektor otomotif, uji jalan kendaraan berat sejauh 40.000 kilometer telah selesai dengan hasil stabil. Sementara uji kendaraan ringan ditargetkan selesai pada Mei 2026.
Baca Juga:
PEVS 2026 Bakal Lebih Besar & Meriah Dibandingkan Sebelumnya
Di sektor lain, pemerintah masih melakukan pengujian stabilitas penyimpanan untuk angkutan laut yang dijadwalkan selesai Mei 2026. Sedangkan uji pada kereta api ditargetkan selesai Oktober 2026.
BPDP juga menilai program mandatori biodiesel tetap berjalan konsisten meski harga minyak dunia mengalami gejolak. Pada 2024, realisasi penyaluran biodiesel B35 mencapai 13,14 juta kiloliter (KL), sedangkan penyaluran B40 pada 2025 mencapai 14,7 juta KL.
Meski demikian, implementasi B50 masih menghadapi sejumlah tantangan. Zuhdi mengatakan kapasitas produksi biodiesel nasional masih terbatas, sementara infrastruktur pendukung seperti dermaga, pengangkutan, dan tangki penyimpanan juga perlu ditingkatkan. Selain itu, disparitas harga antara bahan bakar nabati (BBN) dan bahan bakar minyak (BBM) dinilai berpotensi meningkatkan beban insentif biodiesel.
“Dalam kondisi geopolitik saat ini, implementasi B50 pada semester II 2026 mengakibatkan pembiayaan BPDP defisit. Hitungannya, harga minyak dunia berada di bawah 100 dolar AS/barel dengan asumsi harga BBN tetap,” ujar Zuhdi Eka Nurrakhman.
Ia menambahkan dalam kondisi normal tanpa gejolak geopolitik, implementasi B50 tetap berisiko menyebabkan defisit pembiayaan karena selisih harga indeks pasar (HIP) biodiesel dan solar terus meningkat seiring kenaikan kadar campuran biodiesel.
“Hasil kajian menunjukkan untuk membiayai program B50 pada kondisi normal dibutuhkan sumber pembiayaan dari PE dengan tarif 23,8 persen, sementara tarif PE eksisting sebesar 12,5 persen," ujarnya.
Untuk menjaga keberlanjutan program biodiesel, BPDP mengusulkan sejumlah opsi kebijakan, mulai dari dukungan APBN, penyesuaian tarif Pajak Ekspor (PE), penyesuaian kadar campuran biodiesel, hingga penyesuaian harga jual bahan bakar di masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)