Purwakarta: Hino Motors Indonesia merasakan gempuran kendaraan niaga seperti truk dan bus impor yang cukup masif, terutama di tahun lalu. Kebanyakan berasal dari negeri Tirai Bambu, Cina, dan jumlahnya hampir sama dengan jumlah penjualan PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) sepanjang tahun 2025, yang berada di angka 20.517 unit.
Director PT Hino Motors Manufacturing Indonesia (HMMI), Harianto Sariyan, menjelaskan truk-truk tersebut sepengetahuannya tidak terdaftar di Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO).
Dijelaskan Harianto, saat ini terdapat 1.548 karyawan di pabrik HMMI, dan kapasitas produksi terpakai 75.000 setahun. Kemampuan untuk produksi pabrik rata-rata baru mencapai 35-40 persen, Bahkan tahun 2025 hanya sekitar 25 persen, lantaran banyaknya impor truk dari Cina masuk ke Indonesia.
“Kalau impor kan cukup buka kantor, hanya dengan sekitar 50 karyawan. Sementara pabrik tidak demikian. Kalau industri turun, tenaga kerja habis. Ini jelas menjadi kendala bagi industri nasional,” tutur Harianto di Pabrik Hino di Purwakarta, Jawa Barat, Rabu (21/1/2026).
Baca Juga:
Modal Rp180 Jutaan, Dapat Honda Brio Satya S CVT
Kendati demikian, baik HMMI maupun HMSI tidak tinggal diam menghadapi kondisi tersebut. Hino Motors Indonesia mencoba menerapkan strategi, di antaranya melakukan penghematan di semua lini.
“Kita sampaikan kepada karyawan untuk penghematan, tekan cost, dan semua dapat memahami. Jadi kami lakukan penghematan, agar bisa naik ke atas menjadi lebih baik,” terang Harianto.
Sementara itu pihak PT HMSI menambahkan, kalau strategi dari sisi sales, Hino Motors Indonesia memberikan dukungan optimal pada layanan purnajual. Menyiapkan semua kebutuhan konsumen dari pelayanan penjualan, servis, dan suku cadang.
“Misalnya ada mobil pelanggan sedang diperbaiki, maka kita upayakan cepat selesai. Semaksimal mungkin suku cadang mudah dan cepat diperoleh. Supaya mobil bisa cepat bergerak lagi,” tutur Supply Chain, Marketing & Communication Division Head PT HMSI, Wibowo Santoso, di kesempatan yang sama.
Sebab dikatakan Wibowo, kendaraan niaga itu tidak seperti mobil penumpang. Umumnya mobil penumpang dibeli, lalu dipakai sampai kantor, kemudian pulang. Sedangkan kendaraan niaga selalu bergerak hampir setiap saat.
Baca Juga:
Tips Menata Barang di Mobil agar Perjalanan Tetap Nyaman & Aman
“Oleh karena itu kami siapkan juga depo-depo suku cadang yang lumayan besar di sejumlah daerah, agar kebutuhan suku cadang kendaraan pelanggan dapat cepat tersalurkan, dan kendaraan bisa segera kembali beroperasi,” jelasnya lagi.
Komitmen HMMI Terhadap Penguatan Industri Nasional
Pabrik HMMI di Purwakarta memiliki luas lahan 296.000 m² dan luas bangunan lebih dari 169.000 m². Memiliki kapasitas produksi terpasang hingga 75.000 unit kendaraan per tahun. Diproduksi melalui lini manufaktur berstandar Hino Motors Limited, Jepang, untuk light duty, medium duty hingga bus.
“Komitmen Hino terhadap penguatan industri nasional bisa dilihat dari Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang telah mencapai di atas 40 persen. Ditambah lagi Bobot Manfaat Perusahaan (BMP) 14.10 persen," ujar Harianto Sariyan.
Hal ini, lanjutnya, sebagai bukti dari strategi jangka panjang Hino. Untuk mendorong pemanfaatan komponen lokal, pengembangan supplier dalam negeri, serta penguatan rantai pasok industri otomotif nasional. (Autogear.id/Alun Segoro)
Purwakarta: Hino Motors Indonesia merasakan gempuran kendaraan niaga seperti
truk dan bus impor yang cukup masif, terutama di tahun lalu. Kebanyakan berasal dari negeri Tirai Bambu, Cina, dan jumlahnya hampir sama dengan jumlah penjualan PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) sepanjang tahun 2025, yang berada di angka 20.517 unit.
Director PT Hino Motors Manufacturing Indonesia (HMMI), Harianto Sariyan, menjelaskan truk-truk tersebut sepengetahuannya tidak terdaftar di Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO).
Dijelaskan Harianto, saat ini terdapat 1.548 karyawan di pabrik HMMI, dan kapasitas produksi terpakai 75.000 setahun. Kemampuan untuk produksi pabrik rata-rata baru mencapai 35-40 persen, Bahkan tahun 2025 hanya sekitar 25 persen, lantaran banyaknya impor truk dari Cina masuk ke Indonesia.
“Kalau impor kan cukup buka kantor, hanya dengan sekitar 50 karyawan. Sementara pabrik tidak demikian. Kalau industri turun, tenaga kerja habis. Ini jelas menjadi kendala bagi industri nasional,” tutur Harianto di Pabrik Hino di Purwakarta, Jawa Barat, Rabu (21/1/2026).
Kendati demikian, baik HMMI maupun HMSI tidak tinggal diam menghadapi kondisi tersebut. Hino Motors Indonesia mencoba menerapkan strategi, di antaranya melakukan penghematan di semua lini.
“Kita sampaikan kepada karyawan untuk penghematan, tekan cost, dan semua dapat memahami. Jadi kami lakukan penghematan, agar bisa naik ke atas menjadi lebih baik,” terang Harianto.
Sementara itu pihak PT HMSI menambahkan, kalau strategi dari sisi sales, Hino Motors Indonesia memberikan dukungan optimal pada layanan purnajual. Menyiapkan semua kebutuhan konsumen dari pelayanan penjualan, servis, dan suku cadang.
“Misalnya ada mobil pelanggan sedang diperbaiki, maka kita upayakan cepat selesai. Semaksimal mungkin suku cadang mudah dan cepat diperoleh. Supaya mobil bisa cepat bergerak lagi,” tutur Supply Chain, Marketing & Communication Division Head PT HMSI, Wibowo Santoso, di kesempatan yang sama.
Sebab dikatakan Wibowo, kendaraan niaga itu tidak seperti mobil penumpang. Umumnya mobil penumpang dibeli, lalu dipakai sampai kantor, kemudian pulang. Sedangkan kendaraan niaga selalu bergerak hampir setiap saat.
“Oleh karena itu kami siapkan juga depo-depo suku cadang yang lumayan besar di sejumlah daerah, agar kebutuhan suku cadang kendaraan pelanggan dapat cepat tersalurkan, dan kendaraan bisa segera kembali beroperasi,” jelasnya lagi.
Komitmen HMMI Terhadap Penguatan Industri Nasional
Pabrik HMMI di Purwakarta memiliki luas lahan 296.000 m² dan luas bangunan lebih dari 169.000 m². Memiliki kapasitas produksi terpasang hingga 75.000 unit kendaraan per tahun. Diproduksi melalui lini manufaktur berstandar Hino Motors Limited, Jepang, untuk light duty, medium duty hingga bus.
“Komitmen Hino terhadap penguatan industri nasional bisa dilihat dari Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang telah mencapai di atas 40 persen. Ditambah lagi Bobot Manfaat Perusahaan (BMP) 14.10 persen," ujar Harianto Sariyan.
Hal ini, lanjutnya, sebagai bukti dari strategi jangka panjang Hino. Untuk mendorong pemanfaatan komponen lokal, pengembangan supplier dalam negeri, serta penguatan rantai pasok industri otomotif nasional. (Autogear.id/Alun Segoro)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)